BILA PACAR LUPA MEMBERI BUNGA
wawan—eko—yulianto
“Apa hukumannya jika seorang kekasih lupa memberi bunga?” Lydia bertanya kepada Beta. Keduanya duduk di atas kasur di kamar Lydia.
Beta malas menjawab. Dia merasa tak berwenang memberi jawaban. Lagipula dia tak peduli apakah kekasih Lydia memberi bunga atau atau baju atau apa saja. Pokoknya, kapan-kapan lagi jangan tanya aku karena aku tak peduli, rutuk Nadia dalam hati. Tapi, di mulutnya, Beta bukanlah tukang jagal, maka dia bilang: “Cari saja di kamus. Cari di tabel kata kerta tak beraturan. Siapa tahu kamu dapat ide dari sana!”
“Betaaaaa!” Lydia kesal dan manja. “Yang serius dong.”
“Lho, bener,” Beta jadi agak rikuh melihat respon Lydia. Untuk itu dia buka tasnya, merogohkan tangan dan mengeluarkan Oxford Pocket Learner’s, kamus saku yang tak pernah pas dan tak pernah pantas disaku itu. “Ini coba lihat! Ehm. . . . Aku cari dulu ya?” Dia kerepotan mencari-cari tabel kata kerta tak beraturan. “Mungkin di kamusmu yang itu ada.” Beta beranjak dari kasur dan meloncat ke meja tulis dan mengambil kamus yang berdiri di salah satu sudut meja bersama buku-buku lainnya. “Nah, ini pasti ada!”
”Beta, please deh!” Lydia kesal. “Aku ini serius, tahu!”
“Ya, ya, ya. . .!” jawab Beta, sambil menghela nafas. “Kalau tahu serius, kok masih juga coba-coba tanya aku. Kamu tahu kan track record bercintaku nol besar.”
“Salahmu sendiri!” balas Lydia. “Dulu Wahyu suka kamu, kamu tolak! Joni pendekatan, kamu menjauh pakai alasan les bahasa Perancis segala!”
“Emang mereka,” jawab Beta. “Apa sih kerennya mereka? Gayanya yang sok berotot tapi IPK-nya kosong itu?”
“Paling tidak, kan, mereka cowok. Bisa menyanyangi kita.”
“Justru itu—” Beta tercekat, hatinya mencelos.
“Apa?”
“Nggak,” balas Beta sambil membenahi letak duduknya agar lebih menjauh dari Lydia. “Eh, gimana tadi? Aku baru ingat. Cari saja di internet, website www.rotten.com, di situ kan banyak gambar sadis. Itu sih kata anak-anak di kampus. Siapa tahu kamu dapat ide buat menghkum pacarmu yang bangsat itu.”
“Sebentar, sebentar, Bet,” kata Lydia. “Apa maksudmu tadi? Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu tadi mau bilang apa? ‘Justru bla-bla-bla,’ apa tadi?” Lydia menatap tajam pada Beta, tatapan penuh tanya. Kemudian dia melanjutkan. “Biar lupa memberi bunga, pacarku itu bukan lelaki bangsat, tahu.”
Hati Beta mencelos lagi. Ini dia, sifat ingin tahu, tak mudah menyerah, tegas, dan punya sense-of-belonging yang kuat. Ah Lydia itu. Semuanya itu hanya membuat Beta berpikir malam ini dia harus sewa VCD banyak-banyak. Lebih baik nonton VCD daripada semalaman tak bisa tidur kepikiran Lydia.