Looking Up High, Wondering . . .

Blog EntrydorodasihJan 12, '06 1:42 AM
for everyone

DORODASIH

wawan—eko—yulianto

 

Sore itu, Pak Mul baru pulang kantor. Dia masih bersantai-santai di sofa teras rumah. Di depannya, di atas meja, tergeletak sekumpulan kunci besar dan dompet kulit gantungannya. Bimo berlari dari belakang dan segera berhenti begitu melihat Pak Mul:

 

“Pak, ada burung di belakang. Kicaunya uenak.”

 

“Dibelikan siapa?” tanya Pak Mul.

 

“Lho, bukan dibelikan, Pak,” kata Bimo, diakhiri tarikan nafas. “Burung di pohon kok. Ayo lihat.”

 

Bimo langsung menarik lengan Pak Mul dengan kuat hingga lelaki paruh baya itu kerepotan mengikutinya karena tubuhnya masih tersangkut lengan sofa. Begitu Pak Mul bisa berdiri tegak, Bimo segera berlari lebih dulu dan Pak Mul berjalan agak ogah-ogahan. Dalam perjalanan ke belakang, Pak Mul bertemu istrinya yang membawa kopi di atas lepeknya.

 

“Katanya tadi kopinya mau ditaruh di depan saja?” tanya Bu Mul.

 

“Tahu ini. Si Bimo ngajak lihat burung.”

 

“Mm. . .,” Bu Mul segera melanjutkan ke ruang tamu.

 

Tak lama kemudian, dari belakang terdengar suara Bimo teredam jarak: “Pak, burungnya ditembak ya?”

 

“Ya,” kata Pak Mul sambil masuk kamar dan kemudian sudah keluar sudah membawa senapan angin.

 

Di depan pintu kamar, sudah ada istrinya dengan wajah agak serius. Dia menemani Pak Mul berjalan ke belakang.

 

“Jangan tembak dulu, Pak,” kata Bu Mul tenang, sambil tetap mengikuti Pak Mul.

 

“Ada apa, Bu?” kata Pak Mul dengan suara tertahan karena di mulutnya dia menjepit kotak kertas kecil berisi gotri, tangan kanannya memegang bagian tengah senapan angin dan tangan kirinya dengan cekatan mengisikan sebiji gotri ke senapan itu.

 

“Sepertinya, itu burung Dorodasih,” kata Bu Mul ragu-ragu. “Tapi bapak lihat dulu, lah. Saya juga kurang yakin.”

 

Begitu sampai di halaman belakang yang lebar dan berpaving, Pak Mul melihat Bimo mengendap-endap mendekati pohon mangga di dekat pagar tembok bagian belakang. Bocah itu memberikan isyarat agar Pak Mul mendekat. Dia juga memberikan isyarat mengacungkan telunjuk di depan mulut. Pak Mul tersenyum melihat tingkah anaknya itu.

 

“Keiiiii . . . keiiiii . . . Keikeikeikeikeikei,” begitu kicau yang keluar dari rerimbunan pohon mangga itu.

 

Secara otomatis Pak Mul menoleh pada istrinya: “Memang burung Dorodasih, Bu.”

 

“Jangan ditembak, Pak,” kata Bu Mul pelan dan dibalas anggukan Pak Mul

 

Sementara itu, Bimo masih memberi isyarat, bahkan kali ini dia tambahi suara berbisik: “Ayo, Pak. Keburu burungnya kabur.”

 

Pak Mul malah membalas panggilan Bimo dengan panggilan: “Sini dulu. Bapak kasih tahu.” Suaranya keras, tak diredam sedikitpun, dan mengakibatkan burung yang ada di pohon mangga itu kabur. Terlihat warnanya agak gelap, terbang ke utara. Bimo segera terperanjat dan terlihat kecewa.

 

“Yaa. . . Bapak,” katanya sambil berjalan lesu.

 

Begitu sampai di dekat bapaknya yang sedang berjongkok, dan ibunya berdiri di belakang bapaknya, Bimo protes:

 

“Kalau tadi bisa ditembak kan enak. Bisa dibikin kaku, kayak yang dirumah Pak De.”

 

“Sebentar, dengar dulu cerita Bapak,” kata Bu Mul.

 

“Itu tadi burung Dorodasih,” kata Pak Mul.

 

“Memangnya kenapa? Kan sama-sama burungnya.”

 

“Kata eyang-eyang dulu, burung Dorodasih itu salah satu burung kuburan—”

 

“Sarangnya di kuburan? Terus?”

 

“Dorodasih berkicau untuk mengabarkan kalau leluhur kita yang sudah ada di alam sana sedang membutuhkan kiriman doa kita. . .,” kata-kata Pak Mul terhenti. Dia membuka kancing bajunya satu lagi. Singlet warna putih terlihat.

 

“Berarti Mbah Kakung dan Putri rindu kita ya, Pak?”tanya Bimo.

 

“Mungkin iya . . .,” kata Pak Mul dan tiba-tiba terhenti. Sekejap kemudian dia lanjutkan: “Bagaimana, Bim, kalo besok sore kita ke kuburan Mbah Kakung dan Putri? Mau?”

 

“Mau, Pak!” jawab Bimo. “Kita bisa lihat Dorodasih, kan?”

 

“Ya,” kata Pak Mul. “Kalau beruntung, kita bisa juga lihat Dares dan Gagak, burung-burung kuburan lainnya.”

 

“Asyiiik!” Bimo segera menjauh menuju pohon mangga, dia segera memasang matanya lagi, memandang ke atas.”

 

Pak Mul berdiri lagi dan menoleh pada istrinya. Kalung emas berliontin bundar besar dengan ukiran masjid ada di leher istrinya. Itulah yang pertama dia lihat dari istrinya, baru kemudian dia tatap mata istrinya.

 

“Bu, nanti sore kita ke Surau, yuk?”

 

“Ya, Pak.”

 

“Aku sudah lupa kapan kita terakhir kali kirim Al-Fatihah buat Bapak-Ibu.”

 

“Keiiiii . . . keiiiii . . . Keikeikeikeikeikei,” kali ini suara kicau itu agak samar-samar, sepertinya burung itu sudah berada agak jauh sekarang.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help