Looking Up High, Wondering . . .

Blog EntryNARSISKUS, KUSJan 12, '06 1:43 AM
for everyone

NARSISKUS, KUS

 

Kekasih yang menunggu.

 

Tak perlu kuberi konon, kalian pasti tahu kisah tentang Narsiskus. Dia adalah seorang putra Dewa Kali yang dikutuk mencintai dirinya sendiri hingga lupa diri, sampai-sampai dia mati di pinggir kail. Kita percaya kisah Narsiskus ini. Bahkan kita juga menyebut kawan kita narsis jika potonya sendiri tersimpan pada banyak file di HP-nya, kalau dia mengagumi dirinya sendiri. Padahal sebenarnya kisah Narsiskus itu Cuma bualan. Bualan ini tak kalah dahsyat dibandingkan bualan J.K. Rowling tentang kisah Harry Potter.

 

Sebenarnya, saat itu Narsiskus tidak mati karena mencintai dirinya sendiri. Memang, sih, Narsiskus, menurut beberapa sumber, terlihat merenung di pinggir kali. Tapi sedikitpun dia tidak mengagum-ngagumi dirinya sendiri. Dia sedang mancing waktu itu. Dia memancing setiap hari selama seminggu sebelum pada akhirnya dia dikabarkan mati dikutuk para dewa.

 

Dia pada waktu itu mancing karena kekasihnya, gadis desa sebelah yang pekerjaan sehari-harinya memburuh tani, Echo, sedang ingin mendapatkan makan malam yang menyenangkan. Hari pertama mancing, Narsiskus tidak mendapatkan seekor pun ikan, besar maupun kecil. Hujan gerimis pada malam pertama tidak membuatnya goyah. Konon, waktu itu beberapa mulai tahu, bahwa Narsiskus mancing karena ingin memberi hadiah pada kepada kekasihnya. Orang-orang tanya siapa kekasih Narsiskus. Begitu mereka tahu bahwa pacar si Narsiskus adalah Echo, orang-orang pada ingin usil. Mereka mulai menghardik si Narsiskus. “Emangnya, Kus, secantik apa sih kekasihmu itu? Kamu mulai rabun kecantikan ya? Lha wong cewek seperti itu saja bikin kamu nekad manggang pung dua hari dan membasahi paru-parumu dua malam?”

 

Pada awalnya, Narsiskus tidak begitu mendengarkan kata orang-orang itu. Tetapi pada hari selanjutnya, ada lagi orang yang bilang. “Memang, Kus, kamu sudah bener mau mancing tiga hari tiga malam Cuma makan nasi liwet tambah indomie.” Narsiskus sudah mulai senang ada yang mendukung langkahnya. “Yah, begitulah, Mas—” belum selesai dia ngomong, sudah dipenggal kata-kaatnya oleh si teman.

 

“Begini maksudku: kamu benar, dengan memancing kamu bisa lebih banyak berpikir, pacarmu itu secantik apa.” Lagi-lagi Narsiskus tambah pusing, dia pusing tujuh radius.

 

Narsiskus semakin tak bisa dikasih tahu. Omongan orang hanyalah omongan angin.

 

Tapi batu pun jika diterjang ombak secara rutin tiga kali sehari sehabis makan, sebelum tidur, pasti akan tergerus. Begitulah si Narsiskus. Jika pada hari-hari awal memancing dia begitu santai melakukannya tanpa harus memikirkan apa-apa, kali ini dia mulai berpikir. Gelombang air yangmendekati tepi kali membuat dia teringat riak langkah Echo. Langkahnya sungguh . . . . Dia tak punya perbandingan karena sebelumnya dia memang tidak pernah memikirkan perbandingan tentang kekasihnya, si Echo. Di kala malam, melihat binar sinar bulan yang penuh jerawat, ia teringat Echo. Bukan jerawat yang bikin Narsiskus ingat Echo, tapi binar seperti orang yang jijik melihat jerawat Narsiskus.

 

Intinya, Narsiskus mulai sadar bahwa pacarnya itu tidak sempurna, manusia biasa yang punya kekurangan, manusia yang kekurangannya lebih banyak daripadanya kelebihannya.

 

Narsiskus mulai mengaca di air. Apakah aku ini memang terlalu ganteng untuk gadis sekelas si Echo? Begitu pikirnya. Dia mulai melihat cambang tumbuh di dagunya. Dia tak membawa pisau cukur. Dia sampai melupakan pancingnya. Hari-hari kemudian dia saksikan bulu-bulu itu tumbuh semakin panjang dan membuatnya layak disebut sebagai pertapa. Ah, dia mulai mendapatkan ide dari sana. Sementara itu, pancingnya tetap saja, sama sekali tidak diintip oleh ikan jenis apapun. Ketika suatu kali dia melepas bajunya untuk mandi, dia lihat bahwa kulitnya yang tertutup baju benar-benar sudah berbeda warna dengan kulitnya yang tak tertutup cahaya.

 

Aha! Benar-benar sudah ada ide baru buatku. Pekiknya dalam hati.

 

Orang-orang tetap datang dan pergi. Cercaan tak sedikitpun berkurang dari mulut mereka. Bedanya, saat itu si Narsiskus selalu tampak merunduk di atas air sambil tersenyum-senyum sendiri. Kus, Kus, kamuj itu mau jadi apa?

 

Pada hari yang sudah dipertimbangkan, Narsiskus melepas semua bajunya dan melompat terjun ke sungai. Tak lupa dia melihat ke mata kainya, ternyata sudah tidak ada umpan sama sekali. ah, seminggu ini berarti dia memang tidak memiliki umpan apapun untuk memancing. Tapi dia sudah nekad. Dia harus menjalankan rencananya. Dia seberangi sungai hingga sampai ke sisi lainnya yang berarti desa lain. Dengan bertelanjang bulat dia berlari terus. Cuaca panas tak begitu berarti. Orang-orang yang melihatnya dari samping hanya mengira dia sebagai seorang yang berlari. Perbedaan antara kulit yang biasanya terkena sinar dan kulit yang tertutup baju sangat menonjol. Dari samping, dia tampak seperti orang hitam berbaju putih.

 

Singkat kata, setelah menemukan baju, dia melanjutkan perjalanannya sebagai tukang cerita yang berhenti dari satu sekolah ke sekolah. Dalam ceritanya, dia kisahkan tentang pemuda Narsiskus yang membuat kekasihnya marah dan memancing ikan terlezat untuk dijadikan hadiah lalu dikutuk dewa tidak pernah mendapatkan ikan dan mencintai dirinya sendiri karena terlalu sering melihat wajahnya di kali, dan kemudian mati karena tak lagi memikirkan kesehatannya dan terjun ke sungai demi memeluk si bayangan. Dengan berceritanya dia mendapatkan yang yang kemudian dia pakai untuk membeli baju yang lebih baru.

 

Selanjutnya, ketika dia sudah menyebarkan kisahnya itu ke semua orang, dia menyepi ke perbukitan itu untuk menyelesaikan hidupnya. Di sana dia menikah dengan seorang wanita Jawa yang sangat penurut. Dengan si wanita dia memiliki dua putra yang diberi warisan kisah yang membuatnya bisa membeli tanah itu. Kepada keluarganya sendiri, dia kisahkan juga bersi cerita tersebut. Generasi demi generasi kisah itu diwariskan. Sementara itu di luar, sebuah legenda terbentuk. Keluarga Narsiskus menyikapi kisah yang berkembang di luar sebagai sesuatu yang wajar. Di dalam keluarga, kisah Narsiskus yang hebat itu hanyalah cerita pengantar tidur yang  bagian akhirnya tidak pernah didengarkan.

 

Dan kini, aku menuliskan kisah ini padamu demi mengaku bawasanya sepertinya aku telah tak becus menjalankan langkah Narsiskus. Aku tak bisa membuat kisah speerti itu. Aku ini hanya seorang yang tak pernah bisa mencari keluargamu dan berjanji tidak akan lagi mencobanya. Dan aku, aku rela tidak menjadi legenda. Aku hanya ingin kamu menyuruhku mengaku bahwa aku terlalu beruntung mendapatkan kamu yang begitu tanpa cela. Dan syang. Aku sangat rela, benar-benar rela jika kamu ingin meninggalkanku, meskipun tanpa perlu membuat legenda.

 

Kasihmu,

 

Kekasih.


sugengha wrote on Feb 27, '07
Wan, cerita ini untuk siapa sih, Wan. Very interesting. SuGengH (SGH)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help