Looking Up High, Wondering . . .

Blog Entrygara-gara david beckhamJan 12, '06 1:45 AM
for everyone

GARA-GARA DAVID BECKHAM

Oleh wawan—eko—yulianto

 

Dengan tegas aku sampaikan bahwa hubunganku dengan kekasih putus gara-gara David Beckham. Kalau sampai saat ini kamu menganggap David itu keren, macho, dan kaya, itu benar. Tapi kamu harus tahu, dia tak sebaik yang kamu kira! Dan semoga saja yang akan aku ceritakan kepadamu ini bisa membuatmu belajar membencinya.

 

Oh ya, sebagai tambahan, kalau biasanya kamu mencintai David meskipun dia sudah punya istri baheno dan anak tiga , sekaranglah saatnya buat kamu untuk benar-benar belajar melihat dengan gamblang. Dia itu perusak rumah tanggaku.

 

Aku sepatu bola kiri. Karena kiri, aku seksi. Kalau manusia, mungkin aku ini perempuan. Tapi ingat, aku ini perempuan yang seksi. Dulu, aku punya kekasih. Namanya sepatu bola kanan. Dia gagah dan, tentu saja, berani. Sayang sejak beberapa waktu yang lalu kami berpisah. Semuanya gara-gara David. Eit! Tunggu dulu, jangan kira kami putus karena aku selingkuh dengan dia. Selingkuh sama David, sorry lah yaw! Tidak mungkinlah aku selingkuh sama cowok yang celah-celah diantara jari kakinya penuh kutu air. Aku memang cuma sepatu kiri yang seksi, tapi aku tetap benci jamur kulit. Konon, David kena kutu air sejak kawin sama Victoria. Saking sayangnya kepada Victoria, dia tidak mau si Victoria repot-repot mencuci baju dan piring. David sendiri yang mencuci baju dan piring. Karena itulah kaki David sering terkena air dan lalu dijarah kutu air.

 

Aku dan kekasihku, sepatu bola kanan, adalah pasangan paling klop di seluruh permuakaan bumi yang penuh tekstur ini. Aku seksi dengan gerakan-gerakanku yang membuat David mampu melewati puluhan bahkan ratusan pemain bola dunia. Aku juga seksi saat men-dribble bola. Itulah aku, si seksi dari daratan Britania. Dan kekasihku, dialah yang tergagah. Dialah yang paling gagah di kepulauan Britania dan Spanyol raya—sejak beberapa tahun yang lalu. Dibandingkan David sendiri, kekasihku ini jauh lebih gagah. Dialah yang menggampar bola dengan keras saat David mendapat kesempatan melakukan tendangan bebas. Sering sekali gamparan kekaihku itu menciptakan gol dan menggetarkan jagad. Kami dan bola sama-sama terbuat dari kulit. Tapi entah sejak kapan kami jadi sering mempermainkan bola. Pasti orang-orang semacam David-lah yag membuatnya begitu.

 

Ayo, Seksi, fokuslah! Begini, inilah yang membuat kami terpisah. David selalu memakai aku un tuk berlari lentik sambil mend-dribble bola. Dan David memakai kekasihku untuk menendang, kebanyakan tendangan jarak jauh. Tendangan jarak jauhnya selalu keras sepenuh tenaga. Karena itulah kekasihku penyok-penyok. Aku membujuknya agar menolak jika David ingin membenturkannya ke bola. Tapi, karena dia sudah terlanjur terkenal bersama David dan menikmati kemasyhurannya itu, dia malah ngotot ingin terus menggampar-gampar bola bersama David. Dia ngotot meskipun itu malah membuatnya bonyok. Aku mengancam akan memutuskannya jika dia terus begitu.

 

Setelah aku mengancamnya tapi dia seperti tak menggubris, aku putuskan saja dia. Aku tinggalkan dia sambil marah-marah—waktu itu kami di lemari mewah khusus sepatu David di Madrid sini. Kekasihku jadi sadar. Dia mulai merengek-rengek memintaku kembali. Tapi aku harus menguji dia. Aku tunggu dia. Aku mojok di sudut lemari gelap itu sambil mendengarkan. Dia sampai bersumpah. Dia akan mulai menolak David. Eh, waktu aku mau menoleh kepadanya, tiba-tiba lemari dibuka. David melongok sambil jongkok dan segera tangannya terjulur menjangkau kekasihku. David menjinjingnya ke ruang tamu. Aku lihat sendiri kekasihku berteriak-teriak sebelum kemudian pintu tertutup rapat. Hanya teriakan-teriakannya yang aku bisa aku dengar di kegelapan. Setelah jerit kekasihku tak lagi terdengar dan suasana sangat tenang, aku dengar David lapor ke Victoria bahwa kekasihku dibawa ke sebuah museum di Inggris. Hatiku mencelos seperti Harry Potter mendengar Voldemort muncul. Yah, itulah kali pertama aku terpisah lautan dengan kekasihku.

 

Kini, beberapa bulan berlalu sejak kekasihku diculik, aku tetap berada di lemari gelap ini. Air mata sudah lama menguap dan meninggalkan garam yang tak laku dijual. Di kamar sebelah aku dengar tivi menyala dan David bercanda dengan Romeo, anaknya. Tivi mengatakan bahwa kekasihku dilelang dan dibeli Donald Trump, orang Amerika. Sepertinya aku semakin jauh dengan kekasihku. Kami sudah terpisah samudera, sudah lain benua. Trump bilang akan mencelupkan kekasihku ke dalam emas. Mungkin Trump akan mengadakan sebuah kompetisi berhadiah bergilir sepatu emas, kekasihku itu. Oh, dicelup emas meleleh, pasti panas sekali rasanya. Kepada kekasih yang ada di dalam hatiku, aku bisikkan, “Jangan kuatir, aku tak akan menangisimu.” Memang, air mata sudah mengkristal.

 

Yang menjadi pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya menjatuhkan diriku tepat di atas kepala Romeo. Biar tahu tahu David itu. Aku putus dari satu-satunya pasangan yang ditakdirkan untukku karena dia, David yang tak pernah belajar menendang keras dengan kaki kirinya.

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help