Looking Up High, Wondering . . .

Blog EntryTak Ada Deadline Mencari Kritikus SastraNov 13, '07 8:40 PM
for everyone
Seorang teman mengirim SMS yang berbunyi, “Jatim bth kritikus sastra,qta sdh tdk punya yg baru pasca arief,ayo mana tmn2 yang bisa nulis?masak yg nulis cerpen banyak tp gak ada yg nulis esai?

Memang benar, tidak ada kritikus lagi yang lahir di Jawa Timur setelah Arief B. Prasetyo hengkang ke Bali. Apalagi sejak dia menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Prosa yang berbasis di Jakarta. Oh, seakan-akan, Arief B. Prasetyo sudah diakuisisi oleh Sastra Indonesia. Dia kini, dia sudah jadi milik semua orang Indonesia, bukan hanya orang Jawa Timur. Jauh sebelum Arief B. Prasetyo, Pak Budi Darma yang juga sering menulis esai sastra juga diaku menjadi milik Sastra Indonesia, meskipun beliau tidak pernah pindah kemana-mana.

Tapi, apa benar kita sebegitu butuhnya akan kehadiran seorang kritikus sastra? Butuh, tapi tidak mendesak. Ada beberapa kebutuhan lainnya jauh lebih mendesak daripada kebutuhan akan kritikus sastra.

Kondisi sekarang?

Saat ini, lembaran-lembaran sastra di media kita dipenuhi penulis-penulis dari Yogyakarta dan Jakarta. Kita bisa lihat sekarang, nama-nama seperti Raudal Tanjung Banua, Dwicipta, Ucu Agustin, Puthut EA, Muhidin M. Dahlan, Eka Kurniawan, Kurnia Effendi, Gus TF Sakai, dsb. muncul hampir setiap hari Minggu di lembaran-lembaran sastra media di seluruh Indonesia. Mereka-mereka itu berasal dari Yogyakarta dan Jakarta.

Orang-orang muda ini menulis dengan intensitas luar biasa dan energi yang berlimpah. Banyak diantara mereka yang karyanya sudah dimuat di hampir semua media yang ada di Indonesia. Bahkan, di media-media yang wujud cetaknya belum pernah mereka sentuh. Dengan energi mereka yang berlebih, konon, banyak diantara mereka yang bisa menulis lebih dari dua cerpen setiap harinya. Sungguh, mereka serupa pabrik karya sastra.

Selain dari Yogyakarta dan Jakarta, tidak banyak nama-nama yang berasal dari daerah lain. Diantara mereka, bisa lah kita sebut Isbedy Setiawan ZS, Hasan Aspahani, Indrian Koto, dan.
Sementara itu, dari Jawa Timur sendiri kita mengirimkan sejumlah nama saja. St Fatimah, Timur Budi Raja, Ala Roa, Stefani Hid, Stefani Irawan, dan sejumlah nama lainnya. Kita juga bisa melihat ada sinar baru dari Madura, khususnya Sumenep. Sejumlah penulis muda kelahiran 80-an asal Sumenep muncul di lembaran-lembaran sastra surat kabar, meskipun kita harus mengakui bahwa mereka sementara waktu berdomisili di Yogyakarta sebagai mahasiswa, atau bekerja (lihat Jawa Pos dan Seputar Indonesia beberapa Minggu belakang). Tetap saja, ini sangat membanggakan.

Namun, masih terlalu sombong rasanya jika kita sudah beranggapan bahwa jumlah sastrawan muda Jawa Timur sudah banyak. Apalagi jika kita menggunakan sudah banyaknya penulis cerpen dan puisi itu sebagai dalih bahwa yang kita butuhkan sekarang adalah kritikus sastra.

Komunitas?

Kritikus sastra, pada saat ini, kebanyakan tinggal di Yogyakarta atau Jakarta. Kita ambil nama-nama seperti Maman S. Mahayana, Faruk HT, Jamal D. Rahman, Nirwan Dewanto. Mereka semua tinggal di Yogyakarta atau Jakarta. Mungkin kita bisa beralasan bahwa hal itu dikarenakan sudah mapannya jurusan sastra UI dan UGM. Apa cuma itu sebabnya?

Tidak, masih ada yang lain. Sedikit banyak, tradisi berkomunitas di Yogyakarta memiliki peran penting. Di dalam komunitas, sebagaimana kita tahu, penulis pemula punya banyak kesempatan untuk belajar menulis dari satu sama lain dan mengapresiasi/mengkritik karya teman-teman sesama penulis pemula atau penulis mapan. Nah, tradisi apresiasi seperti inilah yang mendukung tumbuhnya budaya kritis pada anggota komunitas. Bagi mereka yang belajar sastra secara formal, sebuah komunitas bisa menjadi ajang menerapkan teori-teori untuk mengapresiasi/mengkritik karya sastra. Karena tempaan kebiasaan semacam inilah, naluri kritis tumbuh. Pada akhirnya, lahirlah kritiku-kritikus sastra muda (yang seringkali juga menulis karya sastra).  

Jika saat ini di Jawa Timur sudah mulai muncul penulis-penulis muda, maka tugas kita adalah berupaya terus agar hal ini tidak berhenti. Atau, jika memungkinkan, kita harus menambah jumlah mereka. Sebisa mungkin karya-karya sastra para penulis Jawa Timur menembus koran-koran Nasional. Kalau tugas yang satu ini sudah terpenuhi, tapi tidak ada kritikus, barulah kita merepotkan diri dengan urusan berat itu. Selanjutnya, barulah kita sarankan penulis-penulis muda itu membentuk komunitas-komunitas di sekelilingnya. Dari komunitas inilah kita bisa harapkan munculnya penulis-penulis baru dan—sebagaimana terjadi juga di Yogyakarta—kritikus-kritikus sastra baru.

Namun, kita harus bersiap-siap: ini adalah proyek jangka panjang. Tak jauh beda dengan proyek reboisasi. Kita tidak bisa mengharapkan tahun depan kita akan memiliki kritikus pengganti Arief B. Prasetyo kalau baru hari ini kita menggalakkan diskusi-diskusi di komunitas. Tak masalah, biarkan tradisi kritis itu muncul secara alami. Dijamin, akan muncul kritikus-kritikus sastra yang benar-benar tahu apa yang dikatakannya, bukan hanya muncul kritikus-kritikus karbitan yang tulisannya terlalu berat dengan istilah-istilah dan nama-nama asing yang muncul tidak secara esensial.

Taruhlah kita sekarang sudah merasa kekurangan, lantas apa penanggulangannya?

Taruhlah kita memang kekurangan kritikus sastra di Jawa Timur ini, dan kita sadar tentang itu, lantas apa langkah kita untuk mengatasinya?

Apakah usaha yang sudah kita tempuh untuk melahirkan kritikus-kritikus baru di Jawa Timur ini? Sudahkah kita sering mentradisikan membaca cerpen dan kemudian mengkritisinya dengan cara membicarakannya dengan teman, mendiskusikannya di komunitas-komunitas kita, mencari kelebihan dan kekurangannya, atau menuliskan sebuah kritik atau esai yang kita kirimkan kepada editor surat kabar?

Padahal, membaca dan kemudian mengkritisi itu adalah cara paling sederhana untuk bersikap kritis dan membangunkan sosok kritikus yang tidur di dalam diri kita. Lebih serius lagi, akan lebih baik jika kita bisa melakukan pembacaan teliti (close reading)—yang pernah diwacanakan Nirwan Dewanto satu-dua tahun yang lalu. Close reading lebih besar artinya dalam upaya meningkatkan kualitas sastra Indonesia daripada sekedar membuat penelitian untuk menggolong-golongkan sastra dan menggali kandungan filsafat yang ada di dalam sastra.

Selain itu, sudahkah kita bersuntuk-suntuk lagi dengan buku-buku teori kritik sastra yang selanjutnya bisa kita gunakan untuk menelaah karya-karya sastra Indonesia yang ada di hadapan kita, meskipun itu bukan karya-karya orang Jawa Timur sendiri?

Atau, sudahkah kita benar-benar membaca buku dengan teliti dan kemudian mencoba memperkenalkannya kepada orang lain dalam bentuk resensi? Sekedar mengingatkan kembali, salah seorang kritikus sastra Inggris Martin Amis menuliskan kritik-kritiknya yang bernas dalam bentuk resensi-resensi karya sastra, mulai novel-novel kanon hingga novel-novel pop. Menurutnya, tujuannya hanya satu, berperang melawan klise.

Jika kita sudah melakukan hal-hal ini, tetapi belum lahir juga kritikus baru diantara kita, barulah kita boleh berlagak kebakaran jenggot mencari kritikus baru.

Sementara itu, kita di sini sepertinya perlu terlebih dulu menjaga terus tumbuhnya cerpenis, penyair, dan dramawan sebelum pada akhirnya para kritikus memuji dan mengkritisi karya mereka, atau bahkan mencela segala klise yang muncul dalam karya mereka.

Saudara-saudara, asalkan kita terus bersuntuk-suntuk membaca, menulis, dan berpanas-panas dalam diskusi kritik/apreasiasi (yang tidak hanya berisi debat kusir), mempunyai kritikus sastra pengganti Arief B. Prasetyo atau siapa saja bukanlah hal yang sulit. Sudahlah, Jawa Timur tidak terikat deadline untuk mendapatkan kritikus sastra. Sastrawan dulu, baru kritikusnya.  

17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
karinsdad wrote on Nov 13, '07
Sebenarnya ada saja Mas Wawan, tetapi hanya masalah kesempatan dan menyempatkan waktu. Siapa yang tidak suka dunia sastra? Sebuah dunia indah yang bisa menenggelamkan kita dan mengantarkan kita ke dimensi yang begitu mengasyikkan dan memanjakan jiwa.
perkosakata2008 wrote on Nov 13, '07
mari mari budayakan close reading
cakdebono wrote on Nov 16, '07
Sebaiknya gak perlu ngikut celebrity culture! yang bukan tukang kritik di koran jugak belum tentu gak pinter sastra - yang kita butuhkan kritikus dengan kesungguhan hati dan bukan sekedar kritikus selebriti, saya kira begitu cak...
perkosakata2008 wrote on Nov 16, '07
hooo setuju cak setuju (cak yang mana btw? kekeke)
wawanekoyulianto wrote on Nov 18, '07
cak bono, saya sepakat dengan sampean, cak. dan kemarin saya jengkel lagi sama satu esai jawa pos tulisan Tjahjono W, penyair lawas itu: setelah berlagak kritikus dengan membahas sejumlah sajak dengan 'sekarepe dewe' dan gaya tulis sok nginggris, eeee.... dia lagi-lagi bilang, kelahiran penyair jatim itu hendaknya diikuti kelahiran kritikus.... sok tahu banget kan? mbok ya dia sendiri nulis yang teteh, terus mengajak orang jari kritikus.... sori cak, saya mesti emosi kalau dengar orang-orang tua sok tahu macam dia. :D lha wong penyairnya masih tujuh biji saja sudah kebakaran jenggot cari kritikus...
cakdebono wrote on Nov 19, '07
Hahaha...this guy sucks...Gaia barang maksude opo gak jelas,makanya suruh blio maen ke blog tah...lha weruhe koran thok kapan majune cak, lagian penyair tujuh biji belum tentu asyik kok meski jenenge onok sing mirip karo awak ndewek kekekekeke....
perkosakata2008 wrote on Nov 19, '07
hihiy ... berbahasa jawaaa merekaaa ... sahaya ndak paham ... *ngangguk ngangguk aja
wawanekoyulianto wrote on Nov 20, '07
hehehe.... biasa mbak, kalau lagi ketemu dan topiknya klop dan agak sensitif, yang namanya arek suroboyo ya pasti ndak jauh-jauh dari bahasa jawa ngomongnya. :D
bonarine wrote on Nov 23, '07
setuju!
wawanekoyulianto wrote on Nov 23, '07
wow, mas bonarie sudah sudi mampir... sebuah kehormatan mas
cewekblora wrote on Nov 27, '07
btw, essay ki opo seh mas?? ra dong aq..
fifadila wrote on Dec 10, '07
eh ada loh kritikus muda berbakat. It'z Me. im the best critic for myself, hehe
pulangpergi wrote on Dec 28, '07
paklik sony,,, mas wawan,,, piyee wes adem ta? yo wes sampean ae nggedhek nggedhekno awak dadi kritikus sastra yg paling sakti (Hayah kok sakti??) biar gak ada lagi orang tua tua yg sok tau. hehehehehe...
wawanekoyulianto wrote on Jan 3
@gita... kakakakaka... sante, durung pingin dadi kritikus sastra kok awak2an iki, pingine mung golek jabatan ae sing duwur.... ben iso nggawe semacam utan kayu, nduwe jurnal terhormat, engkok lhak teko dewe ta kritikus sastrane... alah, ngimpi kali yeeeee!!!!
@fifadila... betul, awakmu jaaaan kritikus mbois, buktine gara-gara mbok kritik tulisanmu dewe dadi wapik, dan bisa nembus koran. nah, kurang hapa hayo!!!!
ucuagustin wrote on Jan 17
hallo..
iya yah, sedih juga gak ada eseis yang 'kokoh' juga kritikus sastra yang setajam "silet" ya mas...
wawanekoyulianto wrote on Jan 27
mbak ucu, nice to have you here, sebenarnya untuk saat ini saya lebih mengharap ada (dan bisa menjadi hehehe...) penulis sastra yang bagus-bagus di jawa timur. kritikus sastranya itu menurut saya, akan lahir dengan sendirinya setelah sastrawan2nya sudah kuat dan bisa membuat orang mengapresiasi. lha kalo sastrawannya well.... so so.... kritikus setajam silet pun jadi kurang berarti :D
nuansapuitika wrote on Jul 17
bagaimana kalau mas Wawan saja yang ngritik
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help