SAH!
Pak Dhe-ku sudah memasuki ruangan. Semoga dia tidak melihat padaku. Saat itu ruangan sangatlah penuh. Berbeda dengan kondangan biasa dimana orang-orang hanya duduk mepet tembok di sekeliling ruangan, saat itu bagian tengah ruangan pun dipenuhi para undangan. Aku tidak suka keramaian seperti ini, tapi bapak-ibuku menyuruh aku datang. Agak jauh di sebelah kiriku sana, ada seorang lelaki berkopyah hitam dengan ragam hias warna emas, hijau dan merah menghias di dinding pecinya, memberikan gesan glamor, seakan menunjukkan bahwa memang dia yang menjadi sorotan utama dalam acara ini. Aku hanya bisa melihat rambutnya, karena dia menghadap ke depan, membelakangiku. Tapi, aku juga tidak ingin melihat wajahnya. Di sampingnya, ada seorang berambut abu-abu. Di depannya, ada Pak Dhe-ku.
Ruang gerah karena panas tubuh yang menguap bebas bercampur dengan energi yang dilepaskan secara radiatif oleh lampu TL. Riuh rendah para peserta sudah mulai terdengar.
Tak lama kemudian, Pak Dhe-ku membuka mulutnya, berbicara kepada si lelaki sorot perhatian:
“Bagaimana? Pakai bahasa Arab, Indonesia, atau Jawa?” Para undangan segera diam tak tanggung-tanggung. Ucapan itu berfungsi juga sebagai peringatan untuk mulai diam.
“Bahasa Indonesia saja, Pak,” balas si lelaki sorot perhatian. Aku juga bersyukur karena pastinya akan lebih mudah bagiku melaporkannya kepada Anda sekalian. Coba kalau dia memilih bahasa Arab, nantinya mungkin saya kesulitan memahaminya.
Maka, dimulailah:
“Bismillahirrrahmaanirrahiim. Saya nikahkan putri saya . . .”
Tiba-tiba pada pasir yang gersang dan panas menerjangku. Pasirnya yang panas dan terbawa badai menyerang kupingku, mataku, juga hidungku. Semakin bertambah pula nyerinya ketika si lelaki sorot utama berkata:
“Saya terima nikahnya . . .”
Dan datang pula irisan-irisan perih itu. Benar-benar kali ini aku berharap kebutaanku terhadap bahasa Arab membantu. Andaikan tadi dia memilih bahasa Arab, pasti aku tidak kerepotan seperti. Tapi apa lacur, aku harus menelan kata-demi-kata menyakitkan itu. Terlambat sudah untuk keluar, nama itu sudah dua kali disebut. Aku lihat dia tersenyum di ingatanku, kutemani dia berjalan di ingatanku, aku yang salah tingkah ketakutan untuk menunjukkan perasaanku, juga di ingatanku. Semuanya pecah bersama seru sekalian hadirin:
“Sah!”