
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Akmal Nasery Basral |
Kita lebih akrab dengan pahlawan super ketimbang pahlawan nasional, bukan? Kita—khususnya yang tidak lagi usia sekolah—sudah tidak lagi punya geletar saat mengikuti upacara bendera, bukan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang akan muncul di benak kita saat membaca Nagabonar Jadi 2, novel Akmal Nasery Basral terbaru yang merupakan novelisasi dari cerita yang digagas oleh Deddy Mizwar untuk film teranyarnya. Memang itulah kiranya yang mati-matian ingin diungkapkan dari kisah kedua si jenderal-pencopet Nagabonar ini.
***
Kisah Nagabonar muncul pertama kali pada tahun 1987 dalam bentuk film. Dengan skenario hasil olah rasa dan olah pikir Asrul Sani, penulis skenario dan pemikir budaya, film Nagabonar diniatkan untuk mengenang kembali kepahlawanan yang muncul dari kalangan bawah yang sebagian bahkan berasal dari latar belakang bromocorah. Ada sejumlah contoh yang kiranya bisa kita ambil mengenai ini. Dan, agar pesannya sampai kepada khalayak, Asrul Sani memilih bungkus humor. Maka, meledaklah film Nagabonar pada tahun 1987 tersebut, dan mengantarkan Deddy Mizwar ke atas panggung penganugerahan piala citra serta membaiat tokoh Nagabonar sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perfilman nusantara.
Kini, tepat duapuluh tahun sejak kemunculan pertama, setelah sebuah upaya tak rampung Asrul Sani membuat sekuel untuk Nagabonar, Deddy Mizwar, sang tokoh utama, menghadirkannya kembali dalam film berjudul Nagabonar Jadi 2. Meski lahir dari tangan yang berbeda, ruhnya tetap sama: nasionalisme dan humor. Atas kesepakatan yang entah, versi novel pun dibuat dan Akmal Nasery Basral ketiban sampur, kebagian tugas. Di sini, tanpa niatan setitik pun untuk melupakan Deddy Mizwar sebagai penggagas cerita (dan Musfar Yasin sang penulis skenario), mari kita tilik versi novelnya.
***
Nagabonar berkisah tentang seorang veteran perang yang pernah turut mempertaruhkan nyawa mengusir Belanda yang datang kembali ke nusantara, khususnya di sini Sumatera Utara, untuk mengklaim kepemilikannya atas bumi Indonesia. Kini si Nagabonar telah tua (namun tidak renta) dan sudah beranak, seorang lulusan Inggris bernama Bonaga yang kini menjadi profesional muda naik daun di Jakarta. Nagabonar diajak putranya ke Jakarta karena ada satu deal anaknya yang melibatkan perkebunan kelapa sawit miliknya. Sejak titik ini, mulai timbul masalah sebagai hasil benturan dari sentimen melankolis Nagabonar dan sikap pragmatis putranya. Dalam kemarahannya, Nagabonar menyisih sejenak dari kehidupan mewah anaknya dan bertemu dengan sisi lain kehidupan urban, yakni warga kurang mampu yang hidup dari pekerjaan menarik bajaj. Namun, saat sudah ingin pulang, dia tersesat. Beruntung memang, setelah dua tiga kali berganti bajaj, dia akhirnya mendapatkan seorang supir bajaj berbudi yang membuatnya bisa menemukan rumah Bonaga sekaligus menemukan seorang kawan dan guru yang arif. Sejak ini, kisah menjadi berwarna dengan selang-seling antara kehidupan mewah ala Bonaga dan kehidupan sederhana ala Umar si sopir bajaj.
Selama berkenalan dengan Umar, Nagabonar mulai menelusuri sejumlah titik di Jakarta dan pembaca pun akan mendapat sajian tur keliling Jakarta dilengkapi dengan renungan-renungan kritis selayak travelog yang bergizi. Sejumlah kebijakan publik digugat: jalur bebas bajaj, jalur bus Transjakarta alias busway, minimnya lapangan sepakbola. Sejumput kebiasaan hidup disentil-sentil: kurangnya kesadaran akan kebersihan, kaum kaya-miskin yang hidup berdampingan tanpa ada interaksi. Dan sebuah sikap moral, yang juga merupakan ruh cerita ini, dipertanyakan: nasionalisme dan apresiasi kepada para pahlawan. Daftar ini bisa panjang jika kita memang ingin menyebutkannya satu per satu.
Demikianlah, pada akhir cerita kita akan mendapati mata kita telah terbuka mengenai hal-hal tersebut. Aroma kejenakaannya akan membuat kita sulit melupakan sejumlah “kebijaksanaan” yang disuarakan novel ini, seperti misalnya bagaimana Nagabonar menggugat seorang polisi tentang larangan bajaj memasuki Jalan Sudirman—sementara si polisi memang tidak tahu sebabnya!
***
Novelisasi film nasional memang tengah marak-maraknya di sini. Kita bisa melihat bagaimana hampir semua film nasional yang ditonton banyak orang punya versi novel. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa, novel-novel tersebut tak lebih sekedar memindahkan apa yang ada di layar perak ke atas kertas. Kualitas sejati sebuah karya fiksi tertulis seringkali tidak muncul. Di antara sedikit—untuk tidak mengatakan satu atau dua gelintir saja—ada Biola Tak Berdawai yang versi novelnya dikerjakan oleh sang legenda hidup dalam sastra Indonesia, Seno Gumira Ajidarma. Tampaknya perlu disebutkan di sini sejumlah hal mengenai Nagabonar Jadi 2 yang menyandingkannya bersama Biola Tak Berdawai sebagai novelisasi film yang berhasil.
Pertama, Akmal Nasery Basral menggunakan sudut pandang yang berbeda dengan filmnya. Lazimnya, sudut pandang yang dipakai dalam film serupa dengan sudut pandang orang ketiga dalam sastra. Pemirsa melihat kejadian yang di alami aktor berbeda-beda. Hal itu membuat pemirsa tahu semua kejadian penting dalam cerita. Memang demikian tabiat film. Memperlihatkan apa yang bisa dilihat dengan mata. Berbeda halnya dengan tulisan, atau sastra, jika kita ingin lebih fokus. Ada satu fitur teks tertulis, yang tak dimiliki film, yang terlalu sayang untuk dilewatkan: kemampuan menjelajahi batin para tokoh. Itulah kiranya yang dipilih Akmal. Maka kita mendapatkan Nagabonar Jadi 2 dinarasikan oleh Nagabonar sendiri. Maka, kita tahu apa yang berkecamuk dalam hati seorang veteran yang koboi ini: jahil, pemberang, ceplas-ceplos, tapi juga sensitif, nasionalis, melankolis. Setidaknya demikianlah pada sebagian besar novel ini. Namun ada juga kalanya cerita berisi dialog saling timpal yang panjang, di mana kita bisa melihat pandangan orang lain, bukan pikiran Nagabonar.
Kedua, karena bisa menerobos pikiran Nagabonar, versi novel ini bisa dengan gampang menembus masa dan menghadirkan kilas balik ke masa-masa lalu pada saat diperlukan. Maka, kita pembaca yang belum pernah atau sudah lupa dengan kisah Nagabonar yang pertama, bisa tahu secara garis besar kisah tersebut saat Nagabonar mengingat-ingat kembali masa kanak-kanaknya, masa memulai karir mencopet, masa berjuang, masa memperebutkan Kirana melalui permainan catur melawan Maryam, dsb.
Yang juga layak dibaca berulang-ulang adalah renungan-renungan Nagabonar mengenai banyak hal yang muncul dari waktu ke waktu: tentang makna kepahlawanan, kesenjangan antar generasi, kepekaan rasa, serta juga sikap keberagamaan yang tidak hanya kepada Gusti namun juga kepada kawulanya gusti.
Bagaimanapun juga, tetap saja sejumlah hal yang mengusik dalam novel ini. Yang paling sederhana adalah salah ketik yang masih saja lolos dari jaring pemeriksa aksara, meski buku yang saya pegang adalah cetakan kedua. Semestinya, penerbit meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa hal ini sebelum menaikkan naskah untuk dicetak kedua kalinya (yang menandakan bahwa buku tersebut laris).
Ada satu bagian di mana Nagabonar seakan mempromosikan satu penyedia layanan telepon seluler. Entah karena penyedia layanan tersebut mensponsori film atau bukan, yang jelas sponsor dalam sebuah novel terasa ganjil. Kita tahu bahwa Umar Kayam yang menggarap Para Priyayi atas dukungan Ford Foundation dan Henry Luce Foundation, namun itu tidak dengan serta-merta membuatnya mencantumkan nama kedua yayasan tersebut di dalam cerita. Umar Kayam mencantumkannya secara tegas dalam bagian terima kasih dalam bukunya. Jika memang dalam novel itu ada sponsorship, alangkah sudah cukupnya jika itu disebutkan di luar teks cerita.
Lainnya terkait dengan isi cerita. Pikiran-pikiran Nagabonar seringkali tidak mencerminkan ketidakberpendidikannya. Memang Nagabonar orang yang cerdas, namun tidaklah bisa diabaikan bahwasanya dia tidak bisa membaca (dus, tidak pernah membaca koran) dan tidak suka menonton TV. Dia memang bijaksana, tapi bukan berarti dia bisa berbicara dengan menggunakan kata-kata semacam “realisasi” dan sedikit lagi lainnya, kan? Dan ada satu kalimat pemakluman dari Nagabonar yang menyebutkan bahwa dia “belajar dari pengalaman” dan bukan dari bacaan. Kalimat yang terlalu verbal ini seperti mengharap pembaca memaklumi kenapa Nagabonar sebegitu pintarnya. Di lain tempat, ada juga bagian ketika Nagabonar panik dan membayangkan namanya akan menjadi headline koran “JENDERAL NAGABONAR...”. Aneh rasanya membaca seorang baya buta huruf yang mengutip headline koran lengkap dalam pikirannya selagi panik!
***
Bagaimanapun, secara keseluruhan kita patut menghargai novel ini atas sejumlah keunggulannya, terutama sebagai novelisasi film yang benar-benar menunjukkan kualitas sebuah novel. Kita bisa berharap, bersama Biola Tak Berdawai, novel ini bisa memicu gelombang perubahan di mana dunia sinematografi saling mendukung dengan dunia pustaka menuju perkembangan yang indah. Kita bisa membayangkan, pada masanya nanti akan semakin banyak buku bagus yang difilmkan dengan kualitas tak kalah bagus, dan film laris yang ditransformasi menjadi buku yang juga laris. Dan—pada saatnya nanti, semoga—kita pun bisa berbangga dengan bangsa kita, kita bisa menghormat bendera dengan takzim, berlama-lama, seperti halnya Nagabonar menghormat pada bendera yang macet di tiangnya hingga pingsan, menjelang cerita berakhir.
