Looking Up High, Wondering . . .

ReviewReviewReviewReviewOn Writing: Melihat Isi Kulkas Penulis LarisJun 28, '07 12:47 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Stephen King
Pow! Akhirnya aku bisa duduk lagi dan menulis setelah berharap-harap cemas saat menyelesaikan membaca On Writing, memoar Stephen King yang sekaligus buku panduan menjadi penulis.

Stephen King bilang bahwa dia hanya meminta sedikit dari keseluruhan waktuku untuk membaca bukunya ini, dia janji hanya sedikit! Selanjutnya, dia menyuruhku kembali lagi menulis. Sebetulnya, dia tidak perlu menyuruhku kembali lagi menulis karena tulisannya sendiri saja secara tak langsung melecutku untuk segera menulis. Memang, buku ini sebuah pil perangsang yang membuatku haus menulis. Dia menunjukkan betapa mudahnya menulis—baginya. Secara otomatis, buku itu juga membuatku—aku yang tak tahu diri ini!—ikut merasa bahwa menulis memang gampang.

Kamu pasti bertanya-tanya, apa sih yang ada dalam buku itu. Biarkan aku mencoba sedikit menguraikan buatmu, oke? Aku akan membaginya ke dalam dua bagian.

Paling utama:

Buku itu terdiri dari empat bab yang masing-masingnya sangat penting untuk menunjukkan bagaimana seorang Stephen King bisa menjadi Stephen King seperti yang kita ketahui saat ini. Maksudku adalah bagaimana dia menjadi penulis sekitar 35 novel laris yang sebagiannya telah di-hollywood-kan, eh difilmkan.

Bab pertama yang berjudul C.V. adalah sebuah data pribadi seorang Stephen King. Sebagaimana jamaknya sebuah curriculum vitae, bab ini mendeskripsikan Stephen King sebagai seorang manusia yang mempunyai riwayat, baik itu riwayat kehidupan, riwayat pendidikan, hingga pengalaman kerja. Tapi, karena ini adalah juga buku tentang bagaimana menjadi seorang penulis, maka C.V. ini memberikan uraian tentang riwayat kehidupan Stephen King sejauh hal itu berpengaruh terhadap pembentukan Stephen King hingga menjadi seorang penulis cerita thriller, horor, atau fiksi ilmiah. Masa kecilnya yang berat dan sejumlah kengerian, semisal bagaimana dia mendapat suntikan yang sangat menyakitkan pada gendang telinganya, dan masa-masa berat pada saat dia bekerja kasar, seperti melihat bercak darah pada sprei dalam pekerjaannya sebagai tukang cuci, menjadikan dia akrab dengan elemen-elemen cerita horor. Inilah kiranya yang menjadikannya penulis horror dan thriller. Pergaulannya dengan kakaknya yang jenius dan selalu ingin melakukan percobaan—yang selalu gagal!—menciptakan ketertarikan padanya atas hal-hal extraterrestrial life, kehidupan luar angkasa. Tak kalah pentingnya, keakrabannya melihat belatung pada kain taplak yang dipakai di sebuah restoran seafood, aku curiga, sangat membantunya membuat gambaran tentang makhluk-makhluk planet lain yang ada dalam cerita-cerita fiksi ilmiahnya. Bagian ini diceritakan secara kronologis sedari dia kecil hingga dia lepas dari kungkungan ketergantungan terhadap alkohol. Jika kamu adalah orang yang ingin tahu kehidupan pribadi seorang Stephen King, jika yang kamu ingin membeli buku ini karena mengira ini adalah sebuah memoar sebagaimana umumnya memoar, kamu mendapatkan semuanya pada bab ini—dan itu juga berarti silakan berhenti pada bagian ini.

Jika kamu semakin tertarik kepada Stephen dan ingin tahu bagaimana menjadi seorang penulis seperti dia, silakan lanjutkan membaca pada bab kedua yang berjudul Kotak Perkakas. Pada bagian ini kamu akan mengetahui perkakas-perkakas dasar yang Stephen King pakai sebagai tukang cerita. Kotak Perkakas di sini adalah pengibaratan yang dipakai Stephen King untuk modal seorang penulis. Kakek dan pamannya yang seorang tukang kayu memiliki kotak perkakas yang dijadikan Stephen King model untuk peralatan-peralatan mendasarnya sendiri sebagai penulis. Di dalam kotak perkakas Stephen King ada tiga tingkatan: tingkatan atas yang berupa kemampuan berbahasa secara umum seperti tata bahasa dan kosakata, tingkatan kedua berupa kemampuan yang sedikit lebih istimewa daripada kota teratas yaitu kemampuan menulis kalimat dan paragraf, tingkatan terakhir adalah kemampuan teknis menulis yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Stephen King menjelaskan tentang peralatan-peralatan yang sebenarnya adalah ilmu kebahasaan ini dengan sangat gamblang dan gampang dicerna. Jika kamu membeli buku ini karena tertarik untuk belajar menjadi penulis setangguh Stephen King, maka mulai bab ini emosi dan gairahmu akan terangkat, mesinmu akan memanas. Karenanya, kamu pun akan mendapatkan suspense, sebuah nilai jual yang dimiliki novel-novel Stephen King. Rahasia suspense ini pun akan dia beber pada bab selanjutnya.

Pada bab ketiga, yang berjudul Tentang Menulis, Stephen King menguraikan secara panjang lebar cara memasak hingga kita menghasilkan masakan lezat yang disebut keberhasilkan sebagai penulis. Di sini, dia sebutkan antara lain: a) pentingnya membaca dan menulis, b) mengembangkan cerita dengan menemukan cerita sambil menulis sehingga memungkinkan bahwasanya penulis sendiri—saat membaca lagi—akan kesulitan memperkirakan ujung cerita, c) bagaimana membuat deskripsi yang apik tanpa harus membosankan, d) cara membuat dialog yang natural dan bahkan mampu menunjukkan karakter tokoh tanpa harus mendeskripsikan karakter si tokoh utama, e) menunjukkan bahwa dalam menulis kita tidak perlu dibebani kebutuhan untuk memiliki tema sebelum membuat cerita dan mendahulukan pembuatan cerita karena tema bisa ditentukan kelak jika cerita sudah selesai dibuat, f) bagaimana mencari seorang agen yang memungkinkan penerbitan karya-karya si penulis tanpa perlu si penulis kerepotan sendiri mengirimkannya. Selain itu, ada juga hal-hal lain yang tak kalah pentingnya dan akan terlalu panjang jika harus aku rinci di sini.

Bab keempat yang berjudul Tentang Kehidupan adalah bagian terakhir buku itu. Pada bagian ini Stephen King pertama-tama menceritakan tentang kecelakaan yang dia alami pada tahun 1999, sebuah van menghantamnya ketika berjalan-jalan. Kecelakaan ini memberikan dampak yang sangat besar bagi Stephen King: tulang tungkai bawahnya remuk dan membuatnya nyaris memakai kaki palsu dan berubahnya rutinitas menulisnya. Dia menceritakan bagian ini dengan sangat ringan seakan-akan menceritakan sebuah kejadian yang dialami salah satu karakter dalam novel-novelnya. Bagiku, Stephen King menunjukkan bahwa kejadian nyata pada diri sendiri pun bisa menjadi sesuatu yang layak diceritakan dan menciptakan ketegangan dan membuat penasaran jika dituliskan dengan baik. Di sini, seorang penulis pemula bisa mengambil pelajaran dari bagaimana dia bangkit kembali meskipun sebuah kecelakaan membuatnya tak bisa berlama-lama duduk tegak untuk menulis. Selanjutnya, pada bab ini juga disebutkan tentang bagaimana dia memiliki dua pintu, tertutup dan terbuka. Pintu tertutup berarti saatnya menulis tanpa sedikitpun mendengarkan suara-suara atau gagasan-gagasan dari luar yang bisa saja merubah kelancaran penulisan maupun arah tulisan. Pintu terbuka berarti saatnya menunjukkan tulisan setengah jadi kita kepada pembaca-pembaca yang diharapkan bisa memberikan kritik yang kelak pasti akan membuat karya-karya tersebut lebih baik. Dia mengakhiri bab ini dengan bahan-bahan bacaan yang dia anjurkan agar kita baca dan pelajari.

Tak kalah utama:

Dalam beberapa hal, buku ini membuatnya benar-benar layak disebut sebuah memoar: bahasanya, pembagian-pembagian babnya, sudut pandang penceritaannya, dan sebagainya. Namun tak salah juga jika orang menganggapnya sebagai buku belajar creative writing: uraiannya tentang bagaimana mendapatkan cerita, mengembangkan cerita, membuat dialog, melakukan karakterisasi, dan lain sebagainya.

Cerita-cerita tentang kehidupan Stephen King pada bab pertama sangatlah menyentuh. Yang kamu rasakan saat membaca bagian ini sangat dekat dengan membaca sebuah novel yang berritme cepat. Kejadian demi kejadian silih berganti mulai dari saat-saat awal bangkitnya kesadaran Stephen King hingga bagaimana Stephen King berhasil mendapatkan bayaran paling mahal atas karya-karyanya sebelum karya-karyanya yang lain berhasil di pasaran dan menjadikannya jutawan. Seorang pembelajar menulis atau penulis pemula yang sekali dua kali sering diterjang kemalasan pasti akan hanyut ke dalam buku tersebut dan terlecut kembali untuk lebih keras berusaha menjadi penulis.

Yang harus dihargai dari Stephen King dalam penulisan buku ini adalah kesediaannya bersikap blak-blakan. Pernyataan-pernyataan jujur Stephen King tersebar di dalam buku ini, termasuk pada bab ketika dia mengajarkan bagaimana semestinya kita menulis agar menghasilkan karya yang laku seperti Stephen King. Teknik-teknik dasar bahasa yang dia dapatkan dari buku White Strunk dia uraikan sejauh uraian itu penting bagi para calon menulis agar waspada dengan bahasa yang dia pakai. Bagiku, yang paling menonjol pada bagian ini adalah uraian tentang bagaimana dia mengembangkan ide menjadi sebuah cerita yang hebat. Dia menceritakan tentang cerita awal salah satu novelnya dan dia juga membeberkan bagaimana akhirnya novel itu kemudian berubah cerita karena adanya pemikiran ulang dan kritik dari istrinya. Sepertinya, hal seperti ini jarang dilakukan oleh seorang penulis, apalagi seorang penulis yang bersedia menulis buku creative writing. Saat banyak penulis membebaskan seluruh interpretasi atas karyanya kepada pembaca, Stephen King malah bersedia membeberkan bagaimana proses pembentukan novelnya. Hanya ada satu penyebab mengapa dia berlaku demikian: dia cuma ingin kita juga bisa menulis seperti dia. Betapa tulus seorang penulis yang bersedia membuka isi kulkasnya, agar orang lain bisa tahu apa saja bahan yang dia miliki di dalam sana, dan mengajak orang lain turut memasaknya, agar mereka juga bisa memasak sendiri pada saatnya dan membuahkan hasil yang, setidaknya, mendekati hasil masakannya.

Terakhir, Stephen King menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tak boleh terlupakan saat sudah ingin sekali menjadi penulis professional: perlunya seorang agen. Di Indonesia, agen penulis sepertinya belum populer sama sekali. Perhatian Stephen King untuk menjelaskan secara khusus bagian ini menunjukkan betapa pentingnya seorang agen yang handal. Bagaimanapun, di Indonesia, tidak adanya seorang agen memberikan persoalan tertentu bagi penulis: dia harus menulis terus berkarya sementara dia juga harus kelimpungan mencari agen yang bisa menerbitkan tulisannya. Terus terang, sebagian besar penulis ingin karya-karyanya diterbitkan. Jika ada yang tak ingin karya-karyanya diterbitkan, sepertinya penulis tersebut harus dimusiumkan bersama Emily Dickinson dan J.D. Salinger.

Itulah yang bisa didapatkan dari memoar dan buku belajar menulis On Writing karya Stephen King. Bagaimana menurutmu, berharga kan? Lagi-lagi aku harus katakan bahwa aku hanya mencoba menyarankan kepadamu. Setidaknya, jika kamu penggemar Stephen King dan ingin tahu tentang kehidupannya yang tak biasa itu, kamu bisa mendapatkan bab pertama yang memang dibuat sebagian untuk tujuan ini. Ada seratus empat puluh halaman untuk yang ini. Jika kamu ingin tahu bagaimana menulis, bab dua hingga selesai ditulis secara khusus oleh Stephen King untuk kamu. Ada sekitar dua ratus enam puluh halaman untuk yang tujuan ini. Oh ya, jangan kuatir, Stephen King tetap bisa membuat pembaca tercekam suspens saat membaca buku ini lembar-demi-lembar, konon seperti halnya ketika kamu membaca novel-novel thriller Stephen King. Oh ya, maaf, aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca novel-novel Stephen King dan hanya pernah menyaksikan versi hollywood dari cerita-ceritanya. Namun, sebagai pengguna buku-buku creative writing, buku ini tampil sangat menyegarkan.

Omong-omong, aku juga minta doa restu karena ternyata pada halaman terakhir buku tersebut ada sebuah kupon sayembara menulis cerita thriller. Aku sudah tak tahan ingin menuliskan kejadian yang benar-benar pernah membuatku atau teman-temanku tercekam. Aku akan mencoba mengembangkannya dengan panduan dari Stephen King. Pokoknya, kalau nanti masakanku sama lezatnya dengan masakan Stephen King, itu artinya Stephen King harus berbangga karena dia telah membuka kulkas dan menunjukkan isinya padaku tanpa membuatku kedinginan karena berada terlalu dekat dengan pintu kulkas.


Judul : On Writing
Penulis : Stephen King
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Esti A. Budihabsari
Penerbit : Penerbit Qanita/Mizan
Tanggal terbit : September 2005
ISBN : 979-3269-38-3


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
lyntang wrote on Jun 28, '07
Wuah, sedap tampaknya..
Makasih udah meng'iming-iming'i :)
htanzil wrote on Jun 28, '07
Kang Wawan, kuundang untuk gabung di milis resensibuku@yahoogorups.com dan postingkan resensi2 kang wawan di milis tsb....
udelpot wrote on Jun 28, '07, edited on Jun 28, '07
wuihhhh ..
wawanekoyulianto wrote on Jun 28, '07
ya kang tanzil, terima kasih, nanti pasti tak kunjungi
wawanekoyulianto wrote on Jun 28, '07
apanye mang udel yang wuih... hehehe
udelpot wrote on Jun 28, '07
tulisannya .. wek, bener2 anak sastra!! ngga bisa komen apa2 nih ..
wawanekoyulianto wrote on Jun 28, '07
mang udel, sampean iki....
apelijo wrote on Jun 28, '07
wah..tulisanmu melecutku untuk mulai mendokumentasikan isi otak...
memang sepertinya sudah saatnya..(koyok e ke pede an banget iso nulis...dasar aku lebih gak tahu diri..) huahahaha
wawanekoyulianto wrote on Jun 28, '07
wah, dikunjungi suami-istri nih :D....
aku yakin memang sudah saatnya vi, kalau sementara ini cuma memasukkan ... sepertinya sekarang waktumu mengeluarkan. sing gak tahu diri iku aku, biyen pingine mengeluarkan terus, DENGAN SEDIKIT MEMASUKKAN! :((
fifadila wrote on Jun 28, '07
mantep. skali baca resensinya jd pngen nulis, jadi ya nulis komen dulu deh. tapi kudu cpet bburu bukune ben ga ilang semangate. yuk...nulis...
udelpot wrote on Jun 29, '07
wah, dikunjungi suami-istri nih :D....
aku yakin memang sudah saatnya vi, kalau sementara ini cuma memasukkan ... sepertinya sekarang waktumu mengeluarkan. sing gak tahu diri iku aku, biyen pingine mengeluarkan terus, DENGAN SEDIKIT MEMASUKKAN! :((
banyak mengeluarkan dan sedikit memasukkan itu artinya opo?

aku naksir poto profile nya!! pede abisssss ..
rinurbad wrote on Jun 29, '07
Saya suka kata 'isi kulkas'-nya, Mas:)
wawanekoyulianto wrote on Jul 5, '07
ah, itu kan kebetulan saja sang mahainspiratif menabur sebutir kata indah di pikiran... alah, kok bisa-bisanya berpuisi...
echyart wrote on Jan 19
nah...kalo yang ini udah baca mas, pinter ya om stephen, memoar plus bagi-bagi rahasia, kalo punya buku ttg menulis lagi, sharing ya..thanks
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help