 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Michael Hoeye |
Penuh warna, itulah kesan yang selalu melingkupi kita saat membaca buku ketiga dari serial fabel petualangan dahsyat Hermux Tantamoq yang berjudul Maut di Teater Varmint. Tikus-tikus dan binatang-binatang pengerat lainnya yang hidup berbahagia di Pinchester kini semakin terbalut keceriaan. Di buku ini, Michael Hoeye sang pengarang mengetengahkan kehidupan di Teater Aneka Varmint, satu-satunya gedung teater di Pinchester, sebagai latar dominan.
Hermux Tantamoq si tikus tukang jam semakin masyhur sebagai pahlawan setelah dia baru saja menyelesaikan kasus perburuan kota kuno (pada novel kedua Michael Hoeye yang berjudul Mencari Jejak Kota Kuno) dan memecahkan misteri di sebuah gunung (pada novel pertama Pak Hoeye yang berjudul Misteri di Gunung Teulabonari). Pada buku ini, kemasyhuran Hermux membuat Fluster Varmint, pemilik Teater Aneka Varmint, untuk melindungi dirinya yang terancam oleh sebuah surat kaleng.
Karena wibawa Varmint yang begitu hebat dan begitu pemaksa, Hermux benar-benar tidak bisa menghindar dari kontrak yang dibuat Varmint secara sepihak. Bagaimanapun, sebenarnya kontrak itu tidak merugikan Hermux. Hanya saja, dia jadi tidak bisa membocorkan misinya tersebut kepada Linka Perflinger, seorang penerbang petualang kecintaan Hermux. Hermux hanya bisa mendiskusikan masalahnya itu dengan peliharaannya Terfle, seekor kepik yang tidak bisa berbicara bahasa tikus.
Dalam misi super rahasia tersebut, Hermux diminta untuk memecahkan misteri pengirim surat ancaman yang ingin merebut teater Varmint. Pekerjaan ini mengharuskan Hermux menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan teater, tapi tetap harus menjaga kerahasiaan misinya. Akhirnya, Varmint menyamarkan Hermux dengan cara membebaninya tugas sebagai penata latar.
Melakukan dua pekerjaan di gedung teater inilah yang membuat novel semakin berwarna warni. Ketegangan pemecahan misteri dan warna-warni dunia hiburan. Ada seorang ventriloquist (ahli suara perut) gadungan dengan beonya yang indah dan cerewet. Ada tiga bersaudara tukang kayu yang selalu bekerja dan berbicara sambil menyanyi, tak kalah dengan kelompok paduan suara teater. Ada tukang rancang busana yang suka memasang kancing dengan bantuan si kepik Terfle.
Sebagai seorang tukang jam, Hermux sama sekali buta soal penataan latar. Inilah yang kemudian memberi cekaman tersendiri bagi para pembaca. Pembaca yang peka mungkin bisa menebak bahwa Hermux akan berhasil melakukan tugasnya. Tapi akan tetap tersisa pertanyaan: Bagaimana caranya dia bisa menata latar panggung?
Sementara itu, sebagai seorang penerbang profesional, Linka Perflinger tidak bisa menolak ketika pesawatnya dicarter seorang tikus sutradara film laga terkenal, bernama Brinx Lotelle, yang kali ini ingin membuat sebuah film dokumenter tentang bintang legendaris yang menghilang setelah kehilangan kecantikannya karena kesalahan dalam perawatan kecantikan, yaitu Nurella Pinch. Sebenarnya, Nurella Pinch sendiri adalah mantan istri Brinx Lotelle.
Linka pergi menjelajahi negeri jauh kampung halaman Nurella Pinch. Di Pinchester, Hermux hanya bisa menahan cemburu ketika mendapat telepon yang mengatakan bahwa Brinx Lotelle memuji-muji Linka Perflinger dan menawarinya membintangi film dokumenter tersebut. Di lain tempat, kecemburuan itu malah membuat Hermux bekerja dengan semakin giat, ditambah lagi karena tekanan dari Varmint yang juga memintanya untuk menyelesaikan tugasnya sebagai penata latar, selain tugasnya sebagai detektif.
Sementara Hermux dan kawan-kawannya bergiat di teater Varmint, seeskor tikus penipu bernama Corpius Crounce penipu dan Tucka Merstlin berkonspirasi untuk merebut teater Varmint. Corpius crounce, yang terdorong karena embel-embel hadiah mendapatkan cinta Tucka Merstlin, mencari segala cara untuk merebut teater itu. Tucka Merstlin sendiri adalah tikus cantik pengusaha kosmetik di Pinchester. Dia terobsesi untuk selalu menunjukkan kecantikannya dan menerima sanjungan dari semua orang.
Corpius crounce mencoba merebut teater Varmint dengan cara halus, melalui pembelian yang halal. Namun Varmint yang sudah memiliki teater itu selama dua puluh tahun tidak semudah itu tergoda untuk melepas teater binaannya tersebut, bahkan dengan harga yang sangat tinggi.
Corpius crounce dan Tucka Merstlin terus mengirimkan ancaman berupa surat kaleng kepada Varmint. Aha, ternyata si pengirim surat kaleng adalah Corpius Crounce. Untuk menjalankan usaha perebutan teater Varmint, Corpius Crounce menggunakan bantuan salah satu temannya yang sudah khilaf dan kini menjadi Seorang ventriloquist di teater Varmint. Karena sebuah keberuntungan, Corpius Crounce berhasil mendapatkan sebuah surat wasiat yang sangat penting artinya.
Surat wasiat itu menyebutkan bahwa teater Varmint adalah milik sah Nurella Pinch. Varmint adalah orang yang membeli teater itu dari Nurella Pinch dengan cara kredit. Namun, di dalam surat itu, disebutkan bahwa Varmint baru membayar beberapa kali cicilan dan tidak melunasi sisanya, hingga tempo dua puluh tahun. Tucka Merstlin segera menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan dukungan dari hakim dan segera menyidangkan kasus teater Varmint yang pembayarannya belum lunas itu.
Di titik ini, novel bergerak dengan lincah dan lucu. Proses pengadilan menjadi seperti penyederhanaan dari proses serupa yang ada di novel Sidney Sheldon dan film-film adaptasi dari novel John Grisham.
Di tempat lain, Hermux berupaya semampunya untuk membantah tuntutan Tucka Merstlin yang mengatasnamakan para pemuja Nurella Pinch. Sebenarnya, semua orang tahu bahwa Tucka Merstlin berambisi menjadikan teater Varmint bukan sebagai peringatan kepada Nurella Pinch, melainkan sebagai tempat pemujaan terhadap dirinya. Bagaimanapun, surat wasiat yang dipegang Tucka Merstlin merupakan sebuah senjata pamungkas yang bisa membuat Varmint kehilangan gedung teaternya itu.
Lantas, apakah dengan semudah itu teater Varmint direbut oleh Tucka Merstlin dan corpius crounce? Pembaca akan menemukan jawabannya begitu memasuki bab 56. Akan sangat sayang jika misteri yang dengan sangat tangkas disusun Michael Hoeye itu saya beberkan di sini.
Pada bab-bab setelahnya, fragmen-fragmen cerita mulai terjalin satu demi satu. Pembaca akan mengalami kejutan-kejutan ringan pada bab-bab ini. Bagaimana Hermux membuat rancangan panggungnya? Bagaimana kelanjutan kisah Linka Perflinger yang sedang di negeri jauh bersama Brinx Lotelle si mata keranjang? Bagaimana Varmint menyelesaikan urusan teaternya? Bagaimana gala pembukaan teater Varmint?
Semuanya akan terungkap tuntas di bab-bab terakhir ini. Pembaca yang sudah sejak awal berharap-harap cemas akan menuai buah dari ketekunannya membaca sejak awal novel ini. Meskipun diperuntukkan bagi anak-anak, Michael Hoeye dengan kesadaran akan mutu yang sangat tinggi berhasil membuat cerita yang logikanya kuat dan manis. Dengan logika cerita yang sekuat itu, tidaklah salah jika kita menyandingkannya dengan film-film detektif Hollywood yang diangkat dari novel-novel bagus. Cerita terasa sangat cantik dan pintar.
Kecerdasan logika dan kecantikan cerita membuat kita tidak merasa seperti membaca fabel. Masalah-masalah yang dihadapi dan cara-cara menghadapi masalah itu benar-benar manusiawi. Di satu sisi, hal ini bagus karena membuat pembaca merasa nyaman. Namun, di sisi lain, hal ini memunculkan berbagai pertanyaan: Lantas apa esensi dari menciptakan tokoh-tokoh yang keseluruhannya binatang itu? Mengapa sifat-sifat dan kemampuan asli binatang-binatang tersebut tidak muncul. Mengapa Michael Hoeye tidak hanya menulis novel ini dengan tokoh-tokoh manusia saja? Memang, sangat sayang jika ada sebuah elemen penting—di sini, yaitu fakta bahwa para tokoh tersebut adalah binatang dengan segala kelebihan dan kekurangannya—yang tidak digunakan secara maksimal. Jika diingat lagi, novel kedua Hoeye yang berjudul Mencari Jejak Kota Kuno menyoal lukisan kucing yang termasuk subversif karena kucing sendiri, di kalangan tikus, dianggap tidak ada.
Dengan lebih memasukkan tema-tema yang berkaitan secara langsung dengan binatang-binatang pengerat di Pinchester, novel ini akan jauh lebih bewarna dan ceria. Dan tentunya, keceriaan yang telah menjadi ciri khas novel Hoeye ini akan semakin menonjol. Terakhir kali, memberikan keceriaan, pada taraf tertentu, untuk sebuah cerita fabel, meskipun itu berkisah tentang konspirasi dan aksi. Maut di Teater Varmint sungguh tetap ceria dan selalu siap menghibur pembaca.
Judul : Maut di Teater Varmint (No Time Like Show Time) Penulis : Michael Hoeye Penerjemah : Sugeng Hariyanto Penyunting : Yuliani Liputo Penerbit : Penerbit MLC Cetakan : I, 2006 Tebal : 288 halaman ISBN : 979-3611-41-3   | orang ini .. ngga bisa hidup tanpa membaca ya?  |
 | mang udel, namanya juga tuntutan skenario. kita ini wong cilik kan bisanya hanya pasrah lan nrimo! (ya ampyuuuun!!! sapa neh ngomong baryusan!!! byukan eke lho yang nyulis!!!) eh, mang, nek muleh nang malang aku dioleh-olehi buku tekan australi yo? matur suwun. (hayo, aku wis matur suwun lho, dadi kudu bener-bener dioleh-olehi) |
 | walah!! iku mah gudu njaluk dikasih oleh2 tapi narget oleh2!! wakakakaka ... mo minta yg gimana? ada buku bergambar, mewarnai, dan menulis, tentang aussie .. tapi untuk anak kecil? wakakaka .. |
| |