Looking Up High, Wondering . . .

ReviewReviewReviewReviewBaudolino: Kita Pun Akan Rela DibohongiJul 20, '07 3:33 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Umberto Eco
“... pada prinsipnya, semiotika adalah sebuah disiplin yang mempelajari apa saja yang bisa digunakan untuk berbohong,” begitu kata Umberto Eco suatu kali.

Jika saja kita melontarkan kalimat itu kepada dosen atau mahasiswa jurusan filsafat atau sastra yang mempelajari semiotika untuk keperluan akademisnya, pasti kita akan mendapat makian.

Tapi ketika yang mengatakannya Umberto Eco, seorang ahli semiotika dari Universitas Bologna, Italia, yang telah menulis sejumlah buku telaah budaya dan sastra dengan pendekatan semiotika, kita akan dipaksa berpikir dan mengiyakan. Singkatnya, Eco menjelaskan bahwa semiotika adalah ilmu yang berkenaan dengan tanda. Dan tanda adalah sesuatu yang dipakai untuk mewakili sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain inilah yang namanya kebohongan. Ketika seorang lelaki mengirim SMS berisi “sudah makan apa belum?” kepada seorang gadis, di situ ada kebohongan. Sejujurnya, dia tidak ingin bertanya, tapi dia hanya ingin menunjukkan perhatiannya. Di sinilah, penafsiran tanda menjadi penafsiran kebohongan.

Namun, dalam perjalanan karirnya sebagai ahli semiotika—yang berarti juga ahli menafsir kebohongan!—ternyata Eco malah menciptakan kebohongan. Kita bisa lihat kebohongan-kebohongan itu dalam novel terakhir Eco yang berjudul Baudolino.

Eco pertama kali hadir dalam kancah novel ketika dia menulis The Name of the Rose pada tahun 1981. Novel ini berkisah tentang misteri pembunuhan biarawan di sebuah biara di pegunungan Italia pada abad ke-14. Dengan penggabungan antara tema teologi-filsafat dan gaya penceritaan lugas dengan struktur novel detektif, The Name of the Rose mampu menarik banyak pembaca dan menjadi best seller, khususnya untuk edisi bahasa Inggrisnya. Kemudian, orang-orang mencoba mengulangi kesuksesan novel itu dengan memfilmkannya dengan bintang Sean Connery. Sayang, meski mendapatkan penghargaan di Inggris, film tersebut tidak sesukses novelnya. Perdebatan-perdebatan teologi, sejarah dan filsafat yang ada di novel tersebut banyak direduksi saat novel itu diterjemahkan menjadi film.

Selanjutnya, di sela-sela tugas Eco sebagai profesor yang juga menulis buku-buku teori semiotika dan kajian budaya, Eco menelorkan kembali novel-novelnya, yakni Foucault’s Pendulum dan Island of the Day Before. Kedua novel tersebut juga menampilkan kehebatan serupa, namun tetap saja gaungnya tidak seawet novel pertama. Hingga kemudian pada tahun 2000 dia menulis novel keempatnya, Baudolino. Keempat novel Eco ini selalu berlatar masa lampau, yakni abad ke-12 hingga abad ke 17. Memang, selain sebagai ahli semiotika, Eco juga dikenal “hobi” mempelajari apa saja yang berbau abad pertengahan, atau biasanya disebut “medievalis.” Untuk Baudolino, Eco mengambil latar abad ke-12 dengan tema yang sedikit banyak terkait dengan perang salib ke-4.

Baudolino adalah seorang anak desa yang diangkat anak oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarosa. Menurut sejarah, Barbarossa adalah kaisar yang berambisi mempersatukan daratan Eropa. Kecerdikan, kecakapan Baudolino dalam berbahasa—Baudolino bisa menguasai sebuah bahasa hanya dengan sebentar saja mendengarkan orang menggunakan bahasa itu—dan kebohongan-kebohongannya membuat sang kaisar mencintainya. Namun, gilanya, Baudolino mencintai permaisuri sang kaisar. Untuk menghindari hubungan lebih mendalam dengan sang permaisuri, Baudolino meminta disekolahkan sang kaisar ke Provençal (yang kini dikenal sebagai Perancis).

Di Provençal, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh unik yang kelak akan bersama-sama dengannya dalam sebagian besar novel ini. Tersebutlah sang Penyair, pemuda yang mengaku diri sebagai penyair sementara dia sendiri tidak pernah menulis syair. Lalu, ada seorang lagi bernama dengan Abdul, seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang putri yang dia temui di dalam khayalannya. Selanjutnya, mereka bertemu Rabi Solomon, seorang pendeta Yahudi yang terobsesi mencari sepuluh suku Yahudi yang hilang. Kelompok tersebut terbentuk karena adanya satu visi: menemukan kerajaan Prester John.

Maka, dimulailah sebuah petualangan besar untuk mencari kerajaan Prester John tersebut. Namun, karena besarnya dana yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan ke kerajaan Prester John itu, maka Baudolino dan kelompoknya memutar otak. Baudolino membujuk ayah angkatnya Kaisar Frederick Barbarossa untuk melakukan perjalanan ke sana sebuah iming-iming: menemukan dan bekerja sama dengan Prester John berarti mendapatkan dukungan untuk merebut Jerusalem dari Saladin. Itu akan menjadi prestasi terbesar Frederick Barbarossa. Dalam mengupayakan dukungan dari ayahnya ini, Budolino membuat kebohongan-kebohongan baru yakni menulis surat-surat dari Prester John, untuk memberikan kesan bahwa kerajaan Prester John memang ada.

Mereka pun melakukan pencarian itu dengan dukungan penuh dari Barbarossa. Namun, perjalanan tersebut sempat terhenti karena kematian Frederick Barbarosa di sebuah puri milik Ardzrouni, seorang Armenia, ketika beristirahat di tengah perjalanan itu. Baudolino sendiri terpukul oleh kematian tersebut dan pencarian Prester John pun terhenti. Namun, setelah berbagai pertimbangan, perjalan dilanjutkan kembali. Namun, kali ini yang berangkat hanya kelompok Baudolino saja.

Apakah mereka pada akhirnya bisa mencapai kerajaan Prester John? Sebaiknya pembaca sendiri yang menemukan jawabannya.

Yang pasti, Baudolino dan kawan-kawan sekelompoknya mendapatkan hal-hal fantastis. Sampailah dia di hutan Abcasia yang luar biasa gelap hingga api pun tidak tampak nyalanya. Lalu, mereka harus menyeberangi sungai yang dialiri batu, bukan air! Selanjutnya sampailah mereka ke kerajaan yang dihuni makhluk berbagai rupa: makhluk kaki satu, makhluk yang wajahnya ada di perut, dan seorang “raja” yang sama sekali tidak pernah memimpin kerajaannya.

Cerita tersebut dikisahkan Baudolino kepada Niketas Choniates, seorang sejarawan Bizantium, ketika kota Bizantium yang elok dan modern itu sedang diobrak-abrik prajurit Perang Salib yang sedang dalam perjalanan ke Jerusalem. Uniknya, sejak awal Baudolino sudah berkata kepada Niketas bahwa dia adalah seorang pembohong yang terkadang tidak bisa membedakan antara yang “[dia] lihat dengan yang ingin [dia] lihat.” Dalam kesempatan ini, Baudolino bercerita kepada Niketas dengan maksud ingin mengakui semua dusta yang telah dia lakukan. Nah, lalu yang dia ceritakan ini kebohongan atau kenyataan?

Banyak kritik yang mengatakan bahwa ini adalah novel Eco yang paling enteng diantara lainnya. Kita bisa melihat bahwa Baudolino berbeda dengan novel-novel Eco sebelumnya. Jika Island of the Day Before dan The Name of the Rose adalah novel yang menceritakan kejadian yang terjadi hanya dalam beberapa hari dan jam saja, maka Baudolino bertempo cepat. Kehidupan Baudolino diceritakan sejak kecil hingga tua. Dengan tempo yang cepat, berpuluh kejadian, perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya, Baudolino terasa seperti sebuah novel petualangan.

Kehandalan Eco sebagai seorang ahli abad pertengahan dipamerkan kembali dalam novel ini. Sepak terjang Frederick Barbarossa dalam memperluas wilayah kekaisaran Jerman digambarkan dengan jelas. Pergolakan politik di Bizantium juga dibeberkan secara runut dengan penceritaan yang hidup. Eco juga menceritakan peperangan gaya abad pertengahan beserta perlengkapan pendukungnya—seperti pendobrak, menara berisi prajurit pemanah, dan ketapel raksasa—yang mau tidak mau pasti mengingatkan kita kepada adegan perang dalam film Lord of the Ring: The Two Tower dan Kingdom of Heaven—meskipun sebenarnya Baudolino ditulis sebelum kedua film ini diproduksi.

Beberapa hasil kebohongan Baduolino pun sebenarnya memang ada dalam sejarah abad pertengahan. Sebutlah, legenda Cawan Suci Kristus, tersebarnya surat Prester John, pengangkatan Charlemagne sebagai santo, kematian Barbarossa yang tenggelam di sungai. Semua itu memang fakta sejarah, tapi di dalam novel ini semuanya tak lebih dari hasil kebohongan-kebohongan Baudolino.

Di situlah, kita akan terusik kembali oleh Eco yang benar-benar menggunakan kecakapannya menafsir tanda dan kebohongan untuk membuat kebohongan-kebohongan buat kita. Namun, meski dibohongi, kita juga menjadi mengerti tentang sejarah Eropa Abad Pertengahan dan petualangan yang selalu menggoda dan menggelitik. Dengan iming-iming seperti itu, kita pun akan rela dibohongi.


Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help