 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Chart Korbjitti |
/1/ Chart Korbjitti adalah penulis yang terpandang di sastra Thailand. Hal itu dibuktikannya dengan keberhasilannya menggondol SEA Write Award dua kali: pada tahun 1982 dengan novel The Judgement dan pada tahun 1994 dengan novel Time. Namun, sayangnya, di negara-negara sekitarnya pun dia masih sangat kurang dikenal. Padahal, dia memiliki karakter yang sangat unik dan menantang untuk dibaca.
Dengan gaya naratif yang selalu segar dan tak standar dalam setiap novelnya, Chart Korbjitti adalah satu diantara sejumlah sastrawan yang bergaya tutur unik di Asia Tenggara. Masing-masing novelnya memiliki gaya tutur unik yang berhubungan dengan tema yang sedang dibawanya. Pada novel pertamanya yang memenangkan penghargaan di atas, The Judgement, dia mengeksplorasi tema rasa bersalah dan membuat sebuah gaya naratif yang diilhami dari rasa bersalah tersebut. Namun, pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas novel Time dimana dia mencoba menggabungkan gaya penulisan novel dengan drama dan film. Berikut ini, saya akan uraikan novel tersebut mulai dari ringkasan, lalu gaya naratif yang membuat bentuk novel ini unik, dan pada akhirnya adalah tema novel tersebut.
/2/ Time bercerita tentang protagonis, seorang sutradara kawakan, yang menyaksikan sebuah pementasan drama tentang orang-orang tua penghuni panti jompo yang dimainkan oleh anak-anak muda berusia dua puluhan. Pada awalnya protagonis heran bagaimana mungkin anak-anak muda berusia dua puluhan tertarik menyajikan drama tentang inner feeling orang-orang tua, sementara dia sendiri yang usianya menginjak enam puluh tiga tahun malah ingin membuat film tentang anak-anak muda. Dalam keheranannya ini juga, protagonis meragukan kualitas drama yang dia saksikan tersebut. Namun, sejak awal pula dia menyatakan bahwa dia memang sangat tertarik untuk menonton drama tersebut karena sebuah ulasan yang mengatakan bahwa pementasan itu disebut sebagai “pementasan paling membosankan sepanjang tahun.” Saking tertariknya, dia dengan sengaja meluangkan waktunya untuk menonton drama tersebut setelah menyelesaikan pengambilan gambar film terakhirnya.
Drama yang disaksikannya menggambarkan kejadian sehari penuh yang bisa terjadi kapan saja di sebuah panti jompo yang berisi Nini Nuan, Nini Bunrunean, Nini Jan, Nini Sorn, Nini Erp, Nini Thapthim, Nini Yoo, beberapa nini lain yang tak lagi bisa bangun, dan seorang lelaki tua kurang waras yang ditempatkan di sebuah sel khusus di ruangan yang sama. Pementasan dibuka dengan jam menunjukkan pukul 4.45 pagi. Jam, yang kecepatan beputarnya dimodifikasi ini, akan terus menandai waktu selama pementasan berlangsung dan nampaknya menjadi sebab mengapa novel ini berjudul Time. Hari tersebut diawali dengan bangun pagi dan dilanjutkan dengan ritual mandi. Kemudian sebuah keributan kecil ketika salah seorang penghuni panti jompo melaporkan bahwa dia kehilangan sejumlah uang. Lalu datangnya seorang penjaja makanan keliling. Kemudian kedatangan biksu yang memberikan berkah kepada semua penghuni panti jompo tersebut. Seorang bocah penjaja makanan dan minuman keliling juga datang setelahnya. Sedikit siang, sebuah keluarga besar datang dengan tujuan merayakan ulang tahun si nenek, yang ternyata adalah mantan pembantu di keluarga Nini Bunrunean. Kemudian, agak sore, seorang pemuda kurang waras putra Nini Thapthim. Selanjutnya ada acara mandi sore. Dan, sebelum drama ditutup, diketahui bahwa Nini Yoo, salah satu penghuni yang tak lagi bisa diajak berkomunikasi, meninggal dan seketika itu juga diurusi dan dibawa ke kuburan oleh warga desa.
Selama menyaksikan pementasan tersebut, protagonis tak kurang-kurangnya memberikan tanggapannya tentang drama yang dia saksikan, yang sebagian besarnya untuk menunjukkan bahwa dia kurang puas dengan drama tersebut. Pada bagian awal, dia merasa kesal karena terciumnya aroma pesing ketika drama baru saja dibuka. Kemudian, dia ingin protes karena diharuskan menunggu lama sebelum terdengarnya dialog pertama, menunggu sampai jam yang ada di atas panggung benar-benar menunjukkan bahwa lima menit telah berlalu—padahal lima menit bukanlah waktu yang pendek jika dihabiskan dengan menyaksikan panggung kosong. Dia menganggap bahwa hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan buang-buang waktu dan merupakan sesuatu yang akan lebih baik jika digarap sebagai sebuah film. Menurutnya, jika digarap sebagai film, penonton tidak harus benar-benar menunggu selama lima menit karena jam bisa dipercepat begitu saja dan juga teknik pengambilan gambar akan membuat penonton tidak begitu merasa bosan. Selanjutnya, sebagian besar ketidakpuasannya dalam menyaksikan drama tersebut adalah karena dia memiliki anggapan bahwa hal-hal yang kurang dalam drama tersebut akan sangat mudah teratasi jika tema yang sama digarap dalam bentuk film. Namun, ada juga bagian ketika dia, tanpa alasan yang jelas, ingin menerjemahkannya sebagai film buatannya.
Adakalanya juga protagonis teringat hidupnya sendiri saat sebuah adegan merangsangnya untuk mengingat kembali sebuah momen dalam hidupnya. Ketika seorang penjaja makanan keliling mengatakan “dia terlihat sehat hari ini, tapi jangan bicarakan itu sebab akibatnya bisa buruk”, dia segera teringat tentang firasat buruk yang dia dapatkan ketika putrinya meninggal. Ketika melihat penghuni-penghuni tak berdaya yang disuapi, dia segera teringat ketakutannya tentang bagaimana dia nanti ketika sudah tua renta sementara anak dan istrinya sudah meninggal. Hal itu juga berlanjut dengan bagaimana dia dulu mencoba menghindari dunia dengan cara tenggelam ke dalam kubangan minuman keras ketika istrinya meninggal. Bagian-bagian semacam inilah yang membuat kita mengenal protagonis dengan gambaran yang terpisah-pisah namun komprehensif tentang kehidupan protagonis—dan, memang sudah semestinya, meyakinkan kita bahwa buku ini memang sebuah novel meskipun sepertiganya ditulis dalam bentuk drama dan seperti lainnya dalam bentuk skrip film.
/3/ Sungguh, yang paling menonjol dari novel ini adalah gaya naratifnya yang unik. Pada pandangan pertama, kita bisa lihat bahwa di dalam buku ini tidak hanya ada paragraf-paragraf sebagaimana umumnya dalam novel; melainkan ada juga bagian-bagian yang dipenuhi dialog-dialog yang diawali dengan nama tokoh yang mengucapkannya sekalian dengan dalam posisi, ekspresi atau gerakan apa dialog itu musti diucapkan. Sedikit lebih masuk lagi, kita akan mendapati bahwa ternyata ada bagian yang mirip naskah drama namun dilengkapi dengan petunjuk dengan istilah-istilah yang hanya ada dalam sebuah skrip film. Tampaklah disini: kali ini Chart mencoba gaya naratif yang menggabungkan antara novel, drama dan film.
Pada bagian yang bercita rasa novel, kita akan membaca uraian-uraian deskriptif. Pada umumnya, bagian yang seperti ini berisi apresiasi protagonis terhadap drama yang disaksikannya. Dia memberikan kritikannya secara verbal pada bagian-bagian seperti ini. Dia juga mengisahkan bagian-bagian penting dalam hidupnya pada bagian ini juga, pada umumnya setelah ada sesuatu di dalam drama tersebut yang membuatnya teringat dengan momen-momen tersebut. Sebagai hasilnya, pada bagian-bagian yang mempunyai bentuk fisik novel inilah kita akan mendapati kisah hidup protagonis. Pada bagian-bagian tersebut, novel memang sedang menjalankan tugasnya sebagai novel. Namun, ada juga bagian-bagian drama yang diceritakan si protagonis dalam bentuk dialog normal sebuah novel. Ini biasanya juga disertai interpretasi protagonis atas sikap atau tindakan tokoh-tokoh drama yang sedang disaksikannya.
Sementara itu, pada saat yang lain, kita benar-benar seperti membaca sebuah naskah drama. Inilah saatnya ketika protagonis melaporkan tentang pementasan drama yang sedang dia saksikan. Pada bagian ini, protagonis seakan-akan membiarkan naskah drama berbicara sendiri kepada pembaca, sementara protagonis menghilang sementara waktu sampai ada sebuah bagian drama tersebut yang merangsangnya mengingat sesuatu yang pernah terjadi di kehidupannya pada masa lampau—biasanya dilanjutkan dengan narasi protagonis yang berbentuk novel seperti yang saya sebutkan terdahulu.
Yang tak kalah uniknya adalah bagian-bagian ketika kita benar-benar seperti membaca sebuah skrip film. Secara keseluruhan, bagian ini ada sebagai hasil interpretasi protagonis atas drama yang disaksikannya dengan cara yang dia inginkan. Sebagaimana di atas, interpretasi ini dilakukan utamanya karena dia tidak puas dengan penggarapan drama tersebut. Bahkan, ada saatnya ketika dia menganggap bagian-bagian tertentu bukanlah milik drama, melainkan milik film, dan karenanya akan lebih baik jika digarap sebagai film. Pada suatu bagian, panggung hanya berisi satu orang yang merenung dalam waktu lumayan lama. Pada saat ini, dia mengganggap bahwa menghabiskan waktu sebanyak itu hanya untuk memandang seorang wanita yang terlihat kecil dibandingkan ukuran panggung semestinya bisa dihindari andaikan cerita itu digarap sebagai film. Di film, wanita yang merenung itu akan bisa tampak tak menjemukan karena pengambilan gambar bisa dilakukan dari berbagai tempat dan dengan jarak pengambilan yang juga beragam.
/4/ Secara garis besar, tema yang dibawa novel ini adalah bagaimana inner feeling orang-orang tua menghadapi dunia dengan segala carut-marutnya dan bagaimana generasi tua memandang generasi yang lebih muda—yang seringkali menghasilkan generation gap. Terlihat bagaimana generasi tua dalam novel tersebut mempunyai masalah sendiri-sendiri dengan generasi muda yang berada di lingkaran kehidupan mereka, baik itu generasi tua dalam drama maupun yang berada di luar drama, si protagonis sendiri. Hubungan antara generasi tua dan muda di sini bisa dikatakan sangat jelas dan pada saat yang sama juga sangat kompleks karena ada dalam berbagai lapisan. Namun, kita akan mendapatkan serpihan-serpihan kebijaksanaan yang menyentuh yang hanya bisa muncul dari mulut orang-orang yang benar-benar telah menapaki jengkal-jengkal kehidupan lebih banyak dari generasi muda. Banyak diantara yang bisa membuat kita nyengir.
Generation gap pertama menunjukkan jarak antara si protagonis novel dengan anak-anak muda yang mementaskan drama “paling membosankan sepanjang tahun” tersebut. Jarak ini berupa perbedaan selera protagonis dengan para pemuda tersebut. Protagonis adalah jenis sutradara yang menggarap film-filmnya dengan estetika konvensional dimana segala hal muncul dalam sebuah film—dan karenanya juga drama—harus melalui penyaringan keelokan dan kebergunaan; sementara itu anak-anak muda yang mementaskan drama tersebut menurut protagonis cenderung menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang bersifat sensasional dan memandang kebergunaan bukan sebagai satu-satunya ukuran. Jika suatu bagian, misalnya aroma pesing yang menyebar ke gedung pertunjukan sepanjang pementasan tersebut, kurang memberikan nilai guna yang jelas kepada penonton dan bahkan hanya membuat penonton jemu, maka akan lebih baik jika bagian itu tidak disajikan meskipun toh itu sebuah terobosan baru dan sensasional. Pada lain kesempatan, terdapat hanya seorang tokoh cerita di atas panggung tanpa adanya monolog. Mungkin, hal ini termasuk sesuatu yang kontemporer dalam drama. Namun, bagi protagonis, yang menganggap hal itu hanya menambah kejemuan, hal tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh sutradara. Sebagai solusinya, dia menyatakan bahwa hal itu mungkin tidak akan jadi sebuah masalah jika saja itu adalah sebuah film, karena untuk menyajikan keadaan sepi tersebut sutradara bisa menggunakan fitur film, yaitu permainan kamera, untuk membuatnya variatif: gambar bisa diambil dengan “close up”, “medium range”, “fade in”, “fade out” dan sebagainya.
Setelah mengupas lapis pertama, tibalah kita pada lapis kedua generation gap dalam novel ini: yaitu jarak antara generasi tua dan generasi muda yang ada dalam cerita drama tersebut. Memang, bisa dibilang generasi muda yang tak disenangi generasi tua di sana tak muncul sama sekali, namun perbincangan tentang perbedaan generasi muda dan tua ini sangat jelas tersebar dari awal hingga akhir buku. Generasi muda yang benar-benar memiliki wujud—dan tentu saja dialog—dalam drama tersebut adalah generasi muda yang bisa dibilang dekat dengan orang-orang tua tersebut, tidak berjarak. Memang, pemuda macam apa, jika bukan pemuda yang perhatian dengan orang-orang tua, yang bersedia menghabiskan waktu mudanya bekerja di sebuah panti jompo? Generation gap yang disinggung di sini adalah gap antara orang tua dengan pemuda yang membuat susah hidup orang-orang tua tersebut. Sederhananya, kita bisa bilang bahwa drama ini juga menyinggung generasi muda yang tak menunjukkan rasa terima kasihnya kepada generasi tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan memberikan pendidikan bagi mereka. Old Thapthim mengaku terdampar di panti jompo tersebut karena sebelumnya menjadi bola sepak takraw yang berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya tanpa pernah turun—dan panti jompo seperti rumput hijau tempat beristirahatnya bola sepak takraw. Namun waktu itu dia benar-benar tanpa beban memasuki panti jompo karena putranya yang tak waras sudah dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa—meskipun akhirnya anaknya juga kabur. Ada juga yang tiba-tiba diantarkan ke depan pintu panti jompo oleh seorang sopir taksi yang dibayar anaknya untuk mengantarkannya ke sana—tanpa tahu pasti alasan si penyuruh.
Yang terakhir, kita bisa juga merasakan bagaimana si protagonis sendiri bermasalah dengan para pekerja film yang lebih muda. Sebagaimana saya singgung di atas, hal itu berhubungan dengan selera film si protagonis yang bisa dibilang “baik-baik saja” dan menekankan keseimbangan antara keelokan dan kegunaan adalah keniscayaan, sementara itu generasi muda lebih memilih sesuatu yang tak biasa saja, tanpa mempertimbangkan signifikansi ketidakbiasaan tersebut. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menyikapi dengan dingin cerita kawannya, seorang sutradara muda yang dalam satu syutingnya memutuskan untuk mengambil gambar kaki sepasang kekasih yang berjalan-jalan pada awal masa pacaran sementara hanya suara keduanya saja yang terdengar mengiringi selama perjalanan tersebut. Di satu kesempatan lainnya, dia menyatakan kurangnya rasa simpatinya kepada para pekerja film muda yang membuat film yang menjemukan hanya untuk melihat ekspresi penonton.
Begitulah inner feeling generasi tua digambarkan dalam Time, dengan berbagai jenisnya. 
 | hehehe... beginilah pin, nek kesibukan duniawi menghalangi menulis demi alam ciberawi... akhirnya, barang lawas diupload dengan diam-diam... anyway, suwun ya dikenalne karo chart korbjitti... wis moco sing judgement opo durung? |
 | buku yang berkarakter. apa ini yang pertama kalinya menggabungkan 2 karya jadi satu, novel drama, dan skrip film? kalo gitu penulisnya emg pembaharu deh. eh, sam akhir ceritanya kok ga ditambahi juga. pasti akhirnya protagonisnya sadar dan pikirannya berubah 180% ttg drama itu yang membosankan dan baiknya dijadikan film aja |
 | wah, akhir cerita gak tak ceritakan atas nama daya kejut..... (alah!!!) |
 | piye iso terkejut...wong daya beli buku aja belon mendukung apalagi mbaca sambil terkejut2... |
 | hehehe... wis talah, mangkane, golek duwit sing jenak disik :D. sing uwakeh. ben iso tuku buku rutin. (alah... koyok aku isok-isoko tuku buku rutin!!! hehehehe) iki buku hadiah dari pengkomen pertama :D tapi suwer, nek kebutuhan perut tercukupi, otak bisa berpikir sehat. alah... ethes!!!! |
| |