 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Mashuri |
Saya tak habis pikir: Kenapa ada beberapa (atau bahkan banyak) kritik yang memandang miring Hubbu? Kenapa ada yang sampai bilang ‘Hubbu bikin malu’? Kenapa ada yang bilang ‘Hubbu biasa-biasa saja’? Maaf jika saya menebak: Apakah ada orang yang sirik dengan kemenangan Mashuri mendapatkan posisi senilai 15 juta di sayembara roman DKJ? Apakah karena isi novel ini hanya berkutat di seputaran Jawa Timur yang kurang eksotis secara konflik maupun fisik? Apakah karena tidak ada kutipan dari karya sastra luar negeri dan nihil catatan kaki dalam novel ini? Wah, kayaknya kita harus membiarkan dulu novel ini berbicara. Apa pembacaannya kurang dekat, kalah dekat dengan yang disarankan Nirwan Dewanto? Yang jelas saya tidak tahan untuk mengatakan apa yang telah diucapkan novel itu kepada saya. Maaf, jika pesan dari novel itu banyak yang tereduksi ketika melewati saya. Maaf juga jika ternyata saya yang terlalu sok tahu telah menafsirkan bahwa kata hati saya sendiri adalah apa yang dikatakan novel itu.
Hubbu mengangkat keterpecahan. Jarot, yang berasal dari keluarga santri dan dididik ilmu-ilmu agama yang dia resapi pada masa kecil, berkenalan dengan ilmu-ilmu Jawa yang juga menggelitik saraf penasarannya. Karena ketertarikan yang seimbang di antara keduanya, maka Jarot pun berkonflik dengan keluarga yang lebih condong mengarahkannya belajar ilmu agama dan membebaninya dengan ‘gadang-gadang’ akan menjadikannya pewaris sejati pesantren keluarga. Dengan hubungan yang tidak gamblang, akhirnya konflik tersebut membuatnya memilih ‘kabur’ dari rumah untuk kuliah di Surabaya. Di masa-masa kuliahnya, internalisasinya terhadap Islam menjaganya untuk tetap menghindari dosa-dosa terlaknat (selain mabok, yang sepertinya tidak terlalu laknat); sementara juga, kegelisahannya terhadap ilmu Jawa tersalurkan dengan kebebasannya mengambil matakuliah bahasa Jawa, membaca serat-serat Jawa, dan membebaskan jiwanya memilih berdasarkan kata hati setiap kali harus membuat pilihan, sebagaimana yang dianut orang-orang yang mengikuti ilmu-ilmu Jawa. Sementara fasih ilmu nahwu-sorof, ilmu kunci memahami ajaran Islam dengan tangan pertama, dia juga sibuk mengejar obsesinya atas Sastra Gendra. Pada saat itu juga, pemahamannya atas ajaran Islam membuatnya mempersalahkan diri dengan keras kepala setiap kali dia melakukan dosa yang dia anggap laknat. Dan sebuah dosa laknat pada akhirnya membuat dia meninggalkan tanah Jawa, sambil membawa obsesinya atas Sastra Gendra, sebuah obsesi yang dia bawa hingga akhir hidup. Dan kelak, Aida, putrinya yang ‘terpilih’, yang juga mengalami konflik keterpecahan identitas, melanjutkan pencarian ayahnya itu untuk menyingkap sendiri inti di balik frase Sastra Gendra itu.
Nah, seutuh itulah novel yang banyak dikritik tersebut. Mungkin itu yang membuat para dewan juri sayembara roman DKJ menyebutnya sebagai novel yang utuh. Keutuhannya menuntaskan tema keterpecahan orang Islam Jawa bisa dilihat dalam konflik-konfliknya sejak awal. Lihatlah: bagaimana dia memandang sekolah Islam (madrasah) dan sekolah Jawa (SD negeri), antara ajaran Wak Tomo yang kejawen dan ajaran Mbah Adnan/Mas Amin yang Islami.
Banyak yang melihat bahwa orang Jawa (mungkin juga orang suku lain) mengalami dilema ketika menghadapi Islam pada banyak masa. Bagi yang pengaruh lingkungan Jawanya masih kuat, mereka seringkali tidak meninggalkan praktik-praktik membuat sesajen berisi bunga tiga/tujuh rupa ditambah gambir dan mata uang untuk dilarung di kali; sangat banyak yang masih memperingati tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari dan seribu hati wafatnya seseorang; ada yang masih menyediakan kopi dan jajanan di satu kamar kosong di rumahnya. Tapi banyak sekali dari mereka ini yang sudah khatam Al-quran (meskipun hanya baca dalam bahasa Arab tanpa pernah sekalipun mempelajari artinya); tak sedikit yang sholat lima waktu. Bagi yang benar-benar memilih Islam, mereka tinggalkan praktik-praktik yang berbau Jawa dan menganggapnya bid'ah dan hanya menjalani apa yang secara garis besar disinggung dalam Al-quran dan secara gamblang dibeberkan dalam hadits. Bagi yang memilih mempelajari keduanya dan menimbang manfaat dan mudarat masing-masing praktik, mereka akan menjalankan syariat Islam sambil juga tetap memperingati tujuh-tiga-empat puluh hari dengan niatan yang sudah direvisi, masih menganggap penting kesenian wayang yang juga warisan para sufi Wali Songo, masih suka berziarah kepada leluhur dan Wali.
Jika saja kita menyadari hal-hal di atas, jika saja kita awas bahwa itulah yang terjadi dan menjadi ‘masalah’ dalam keislaman orang Jawa, mungkin kita bisa melihat Hubbu dengan lebih bijak. Mungkin, lagi-lagi cuma mungkin, jika kita memandang Hubbu dalam kaitannya dengan fenomena Jawa-Islam seperti halnya membaca Ronggeng Dukuh Paruk dalam kaitannya dengan G30S/PKI, atau memandang Saman dalam kaitannya dengan manusia jaman reformasi, atau memandang Laskar Pelangi dalam kaitannya dengan krisis kejujuran dan kebanggaan anak muda akan masa lalu dan negeri sendiri, atau memandang The Catcher in the Rye dalam kaitannya dengan kemunafikan manusia kapitalis dan kegelisahan remaja Amerika tahun 50-an, mungkin Hubbu tampak penting di mata kita meskipun dia tak menang di Sayembara manapun.
Prihatin juga rasanya saat membaca sebuah resensi yang mengkritik Hubbu karena dia bukan jenis karya yang ‘membuat [dia] resah saat cerita akan berakhir’, atau karena ‘kutipan puisi berbahasa Jawanya tidak disertai terjemahan’. Memang sangat sah jika dalam kritik itu yang menjadi tolok ukur adalah rasa. Memang, tidak ada yang bisa melarang, H.B. Jassin pun tidak. Tapi, jika kritik tersebut tidak disertai dengan uraian tentang hal-hal macam apa yang membuat si pengkritik biasanya resah saat sebuah cerita bagus akan berakhir, rasanya kritik itu masih belum pantas untuk menjadi konsumsi publik. Dan untuk alasan kedua, silakan simpulkan dari dua paragraf berikut.
Bisa jadi orang memandang miring Hubbu karena melihat novel ini secara bentuk, secara struktur, secara gaya penceritaan. Cerita disajikan dari berbagai sudut pandang yang polanya acak, berbeda dengan cara Sitok Srengenge dalam Menggarami Burung Terbang atau James Joyce dalam Ulysses. Di bagian awal ada prawayang yang mengingatkan kita pada saat mengawali Burung-burung Manyar. Selanjutnya ada yang disampaikan dari orang pertama, dari mata Jarot. Di bagian lain ada penceritaan orang ketiga dengan teknik ‘alur kesadaran’. Di banyak bagian lain bisa ditemukan penceritaan oleh orang pertama tapi bukan Jarot. Pada bab-bab tertentu cerita disajikan lewat surat-surat atau terkadang buku harian. Keacakan serupa ini memang menjadikan novel tampak tidak rapi, berbeda dengan Saman yang, meskipun cerita bolak-balik dari masa lalu ke masa kini, tetap menggunakan gaya bahasa yang tak jauh berbeda, sehingga membuat seorang kritikus menyebutnya memiliki komposisi ‘belum pernah ada di Indonesia’. Maka, banyak pembaca—khususnya yang ingin cerita dalam bentuk jadi, sudah matang—menganggap novel ini kurang bagus. Padahal, kita bisa saja menghubung-hubungkan keacakan itu dengan inti sari konflik. Bagaimanakah?
Hubbu mengisahkan pencarian manusia yang gelisah akan identitasnya sehingga dia pun mencari melalui berbagai jalur; begitu pula kita pembaca, kita harus memahami cerita novel ini melalui berbagai jalur penceritaan. Kita harus mengikuti cerita kadang dari cerita wayang, kadang dari penuturan Jarot, ada kalanya dari ‘mata Tuhan’, pernah juga dari orang-orang sekitar Jarot (bahkan dari para kekasih Aida anak Jarot), atau lewat wawancara, bahkan lewat surat-menyurat Jarot dengan Istiqomah maupun Teguh. Ditambah lagi pengutipan Sastra Gendra versi penyair bahasa Jawa Budi Palopo tanpa terjemahan atau anotasi, kita akan dengan mudahnya—atau dengan malasnya?—menganggap novel ini tidak bisa menyampaikan cerita secara benar. Untuk menjawab ini, saya ingin mengutip kata-kata Budi Palopo ketika diwawancarai Jarot tentang sulitnya memahami Sastra Gendra: ‘Aja golek matengan ae, Cuk!’ Ya, mungkin bijak jika kita tidak hanya minta jadinya saja. Mashuri kiranya meminta kita untuk sedikit berpikir, sedikit mencari referensi tentang Sastra Gendra dari buku atau Google. Dia mungkin meminta kita membaca lebih dekat—atau bila perlu lebih dari sekali—untuk bisa menafsirkan novel ini, meskipun dengan tafsir kita sendiri. Jika Ulysses yang didapuk sebagai buku sulit sekaligus buku terapik abad ke-20 saja tidak punya satu pun catatan kaki, pantaskah kita menuntut semua buku di seluruh dunia untuk memberikan catatan kaki pada setiap kata sulit atau kata lokal yang dipakainya? Catatan kaki hanyalah pilihan yang bisa dipakai atau tidak dipakai penulis. Lucunya, pernah juga terdengar pihak-pihak yang menganggap sok ilmiah novel-novel yang punya catatan kaki, termasuk novel Olenka.
Satu hal menarik adalah hubungan antara judul, Hubbu, yang artinya cinta, dengan isi novel. Meski secara jelas isi novel ini tidak menyinggung-nyinggung kata Hubbu, apalagi mendefinisikannya, kita bisa merasakan ‘hubbu’ ada dalam setiap lembar buku ini. Cinta Jarot kepada dua tegangan-tegangan di sekitarnya adalah baling-baling penggerak novel ini. Cinta membuat diri Jarot (dan juga Aida) terbelah dan cinta juga yang memberikan jalan untuk belajar: antara Islam dan Jawa, antara gadis Istiqomah dan si binal Puteri, antara Alas Abang dan Surabaya, antara hanacaraka dan hijaiyah, antara Roi dan Hengki, Mbah Adnan/Mas Amin dan Wak Tomo, antara Ampel dan kampus, dst.
Pada akhirnya: jika dipahami dengan sedikit berjuang, Hubbu, dan juga teks-teks lainnya mungkin akan menampakkan potensinya. Jika saja kita melihat Hubbu sambil melepaskan asumsi bahwa sastra adalah susunan kata-kata yang mengantarkan cerita menawan hati dengan cara yang rapi sesuai kaidah, saya yakin kita tidak akan buru-buru menghakimi novel ini.
Judul : Hubbu Penulis : Mashuri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : I, Agustus 2007 Hal : 237 ISBN : 979-22-3125-0 
 | Wah, aku durung moco bukune, mas wa one... lek ngerungokno ceritane sampeyan aku dadi mikir, opo memang model novele mashuri iku jarang ono? Sampek ono omongan, "Aja golek matengan ae, Cuk!’"... Tapi resensi sampeyan memang membakar... wakakakaka... |
 | mbak dani... ini sih iseng-iseng berhadiah saja mbak mas rekso: bukannya apa mas, bukannya terlalu aneh, cuma saja, bentuknya memang meminta kita untuk membacanya secara berbeda, tidak seperti baca ahmad tohari, pak kayam, andrea hirata gitu... bentuknya acak... semacam itu lah :D btw, yang terbakar apanya mas? hehehe |
 | membakar rokokku... wakakakakak... aku sih, kari nyedot tok ae... hehehe.. |
 | Kok bisa mikir sampai situ, sich?! Bisa dicontoh buat nulis resensi nie, melenceng dari mainstream. |
 | ah, aku kan cuma menyampaikan hasil interpretasiku ke novel itu... dan sedikit menunjukkan potensi yang dilupakan orang. :D nek soal jenis resensine, sepertinya kita mesti memasyarakatkan resensi sing gak melupakan unsur kritik, seperti resensi2nya martin amis, misalnya. katanya sih, resensi model gini ini bisa digolongkan kritik praktis.... tapi ini cuman katanya kok... |
| |