Looking Up High, Wondering . . .

Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Arvan Pradiansyah
Kata orang, salah satu tanda kiamat adalah ketika waktu berjalan kian cepat. Apakah sekarang kita merasakan waktu berjalan sangat cepat? Sepertinya begitu. Banyak dari kita beranggapan bahwa waktu 24 jam terasa kurang untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita. Kita sering merasakan tiba-tiba saja waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam sementara pekerjaan belum selesai. Nah, dalam hal ini tidak salah kiranya jika ada film yang berjudul Kiamat Sudah Dekat. Mungkin betul. Waktu kita memang berjalan sangat cepat.

Tapi bagaimana lagi, begitulah tuntutan dunia modern: karena dibayang-bayangi ketakutan tidak mendapat uang jika tidak ada pekerjaan, maka kita pun menyabet segala pekerjaan yang menghampiri kita. Hasilnya bisa ditebak: pekerjaan menumpuk, kita memaju diri untuk melaju kalau bisa melebihi kecepatan waktu, dan jika memang terlalu banyak kita pun mengeluh, “Andaikan sehari saya bisa lebih dari 24 jam.” Makanya, tidak heran jika ada orang yang bisa membeli segala tapi merasa tidak bahagia karena ke manapun pergi selalu dihantui pekerjaan.

Dalam kondisi seperti inilah buku Arvan Pradiansyah, Cherish Every Moment, menjadi penting. Arvan, seorang pembicara publik dalam pengembangan SDM, menyarankan satu cara untuk menangguhkan datangnya kiamat tersebut. Menikmati setiap momen, cherish every moment, adalah sebuah konsep yang dia tawarkan untuk berbahagia dalam hidup. Dengan merasai setiap momen yang berdetik dalam hidup, manusia akan merasakan dunia. Dengan menyadari berlalunya momen demi momen di dunia ini, manusia benar-benar menemukan dirinya sebagai human being (makhluk hidup), bukan human doing (makhluk bekerja). Dalam Cherish Every Moment yang merupakan versi buku dari acara talk show Arvan Pradiansyah berjudul Life Excellence yang disiarkan di jaringan Trijaya FM ini, setidaknya ada dua jenis langkah yang dianjurkan Arvan untuk membuat kita lebih bahagia hidup di dunia ini: jenis reaktif dan proaktif.

Yang pertama, yang lebih bersifat reaktif, Arvan mengajak kita menyadari lagi apakah kita merasakan banyak hal yang tidak beres dalam hidup kita. Dunia terasa berat ketika: banyak orang brengsek di sekitar kita, banyak sekali detil dalam hidup harus kita urusi, betapa sering kita gagal melakukan sesuatu, betapa banyak yang kita inginkan, betapa merepotkannya hal-hal di seputar kita, betapa terburu-burunya kita. Arvan mengajak kita untuk merenung dan melihat lagi apakah benar hal-hal negatif tersebut begitu memberatkan kita. Dan akhirnya, dengan argumentasi yang jernih dan lancar, Arvan menunjukkan bahwa: orang brengsek mengajari kita menjadi baik, tidak semua hal dalam hidup harus kita ributkan, betapa lebih baik kita menjadi orang yang menikmati ketimbang menjadi orang yang hanya memiliki tapi tidak bisa menikmati, dsb.

Dan yang kedua, Arvan mencoba mengajak kita melakukan tindakan proaktif mengubah diri: belajar memilih, menyadari bahwa kita harus berbuat baik, belajar memuji orang lain, menghindari penyakit hati, menikmati pekerjaan atau mencari pekerjaan lain yang membuat kita nikmat bekerja. Dalam bagian-bagian ini, Arvan mengajak kita merenungkan makna di balik hal-hal yang tanpa sadar kita anggap berat, seperti misalnya memaafkan, memuji, berdisiplin. Dengan uraian-uraiannya, kita jadi merasakan bahwa kebiasaan memaafkan, memuji, berdisiplin, dan sejenisnya itu bisa dilatih asalkan kita tahu makna di baliknya.

Dengan menyajikan uraian-uraiannya dalam bentuk wawancara, menyerupai talk show aslinya yang dipandu oleh Arvan dan seorang penyiar Trijaya FM, buku ini berhasil menjadi buku yang tidak membikin jenuh. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening karena membaca narasi yang berpanjang-panjang. Setiap kali akan beralih ke topik yang lain, selalu ada penanya yang memberikan jembatan yang asyik dan terasa akrab.

* * *

Di antara topik-topik yang disodorkan Arvan, beberapa terasa cukup menyentakkan kita, terutama yang terkait dengan ajaran agama. Arvan mengemukakan pandangan-pandangan yang seolah menyadarkan kita agar tidak menerima begitu saja gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh agama. Salah satunya adalah ketika Arvan mencoba mempertanyakan tentang lagu Aa Gym ‘Jagalah Hati’. Dengan argumentasi yang mudah dipahami dan faktual, Arvan menunjukkan bahwa menjaga hati adalah sebuah langkah yang ‘abstrak.’ Pasalnya, kita tidak tahu di mana hati itu berada. Maka dia menyodorkan bahwa yang sebenarnya perlu kita jaga adalah pikiran. Maka dia menganjurkan agar menjaga hati diganti dengan menjaga pikiran. Dengan begitu, anjuran Aa Gym menjadi lebih masuk akal untuk dipahami dan dijalankan.

Satu hal lainnya yang juga menonjol dari Arvan adalah dalam setiap gagasan yang ditawarkan, Arvan selalu berpangkal pada ajaran-ajaran yang sudah mengakar dalam agama. Kebetulan di sini Arvan beragama Islam. Jika dalam Islam kita mengenal penyakit hati (termasuk di antaranya, nifa’, riya’, khufur), maka Arvan menyodorkan penyakit AIDS (Arogan, Iri, Dengki dan Serakah). Di bagian lain Arvan menunjukkan tentang mencintai, juga tentang disiplin.

Bagaimanapun, berpangkal kepada agama jelas-jelas tidak membuat motivasi-motivasi yang diberikan Arvan menjadi kaku. Arvan selalu berpegang pada penalaran logis yang bisa diterima akal sehat. Bahkan, uraian-uraian Arvan terkadang menyentakkan karena seringkali kita mengambil begitu saja sebuah ajaran agama tanpa mempertanyakan penjelasan logis di baliknya. Untuk yang semacam ini, bacalah bagaimana dia membahas arti penting puasa, mohon maaf lahir batin, dsb. Dan lagi, Arvan begitu terbuka terhadap kebijaksanaan yang bisa ditemukan di mana saja. Lihat saja kisaran kutipan penuh inspirasi yang disajikannya: raja cerita moral Leo Tolstoy, Friedrich Nietzsche yang dikenal atheis, pendeta John patrick, penyair penyendiri Emily Dickinson, pelukis dan pematung Yunani Epictetus, Mahatma Gandhi dan banyak lagi.

Setelah bersama Arvan memperbincangkan cara memaknai hidup dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, mau tak mau kita akan introspeksi lagi: apakah kita tidak terlalu berlebihan mengeksploitasi waktu kita sehingga kita merasa kekurangan waktu untuk pekerjaan-pekerjaan kita? apakah kita sudah cukup berdisiplin? apakah kita sudah cukup bisa membuat bahagia orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga? apakah sudah tepat strategi kita mengatasi permasalahan-permasalahan di sekitar kita?

Dengan itu, semestinya kita bisa merencanakan lagi langkah-langkah yang perlu kita ambil agar kita tidak terlalu tenggelam dalam pekerjaan namun juga tidak terlalu membiarkan diri kita terbawa kemalasan, agar detik demi detik dalam hidup kita tidak berlalu dengan sia-sia. Dan kapan pun kiamat datang tidak akan jadi soal buat kita, karena kita sudah bisa menyelesaikan tanggungan-tanggungan dalam hidup kita dan kita sudah berarti bagi orang lain.

Data Buku:
Judul : Cherish Every Moment: Menikmati Hidup yang Lebih Indah
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : xxii + 322 halaman
ISBN : 978-979-27-0860-8


sinthionk wrote on Oct 21, '07
BE POSITIVE...THINKING...PLANNING 'n DO IT!....hmmm itu kali poin yang aku dapet...klo gitu tak cari e buku ini dek perpus kota hehehe...*rodo gak bondo*
wawanekoyulianto wrote on Oct 22, '07
hehehe... ya sekarang pinjam, siapa tahu nanti beli. hehehe...
elexmedia wrote on Oct 22, '07
Terima kasih atas resensi anda yang begitu menarik. Kami senang buku ini dapat menghadirkan makna positif bagi anda.
navra wrote on Oct 26, '07
Wawan yang baik. Terima kasih atas resensi Anda yang mencerahkan. Sebagai penulis saya sangat senang karena resensi Anda benar-benar menggambarkan isi buku saya secara keseluruhan. Keunggulan Anda adalah kemampuan menangkap struktur, menjalin benang merah dan mengungkapkan esensi permasalahan. Ditambah lagi dengan tata bahasa yang baik dan mengalir lancar. Terima kasih sudah membantu saya menyebarkan kebaikan kepada masyarakat. Salam Hangat, Arvan Pradiansyah
wawanekoyulianto wrote on Oct 27, '07
wow, mas Arvan sendiri datang, sebuah kehormatan, mas. semoga resensi ini tidak hanya terpajang di sini, tapi juga di media cetak, biar lebih banyak yang membacanya.
fifadila wrote on Oct 31, '07
wes yakin deh, ga baca buku ini cah iki wes positip A teruz... mari moco tambah triple A+++... hehe kayak namanya si Xeno
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help