 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Syukran Vahide |
Kita mengenal Wali Songo dengan segala keajaibannya. Kita tahu bahwa Sunan Kalijogo bertahun menunggu di pinggir sungai untuk bisa menjadi murid Sunan Bonang. Kita tahu bahwa Syeh Siti Jenar menyamar menjadi cacing untuk mencuri ilmu dari Sunan Bonang. Namun, apakah semua kisah agama sedemikian fantastisnya.
Maka, jangan salahkan sama sekali jika Imam Feisal Abdul Rauf menyinggung perihal walisongo sebagai “kisah legendaris sembilan ulama Sufi” dari tanah Jawa. Hingga saat ini, kita mengenal para wali tersebut dari mulut ke mulut. Jika ada yang kita ingat dari mereka, hal itu adalah tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijogo dan kesenian Bonang tinggalan sunan Bonang. Ini tidak salah, sama sekali! Sebab, untuk masyarakat Jawa yang benar-benar hidup dalam tradisi lisan (ketika itu bacaan cuma konsumsi keraton), mereka memerlukan hal-hal yang bersifat lisan. Justru pilihan mereka untuk berdakwah menggunakan fitur budaya lisan itu menunjukkan kemampuan mereka memahami jaman.
Berbeda halnya dengan jaman sekarang. Seorang sufi membutuhkan lebih dari sarana lisan untuk berdakwah. Sebab “yang terucap akan selalu bersama angin.” Apa yang dibutuhkan? Seperti kita bisa melanjutkan postulat itu dengan mengatakan “yang tertulis akan selalu abadi.”
Itulah, mungkin, salah satu alasan mengapa Said Nursi, seorang sufi abad dua puluh dari Turki memilih menyodorkan tulisan-tulisannya. Dia mengabadikan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan-tulisan yang dia terbitkan dan edarkan secara cuma-cuma. Lebih jauh lagi, dia ingin Said Nursi sebagai seorang pribadi menghilang di balik tulisan-tulisannya.
Bahkan, kepada muridnya yang ingin membuat biografi dirinya, Said Nursi meminta dengan sangat hanya untuk menggambarkan dirinya dalam kaitannya dengan pemikiran-pemikirannya. Dia menghapus banyak detil yang bercerita tentang karomah yang dia miliki—ingat, dia seorang sufi, wali, yang pastinya dianugerahi kemampuan-kemampuan lebih hebat.
Nursi membagi hidupnya ke dalam tiga masa, seperti bagian-bagian dalam sebuah buku: Said Lama, Said Baru, dan Said Ketiga. Setiap bagian mewakili diri Nursi yang berbeda. Biasanya setiap bagian kehidupan ini ditandai dengan perubahan atau perkembangan khusus dalam aktivitas serta pemikiran Nursi. Maka, hidup Nursi pun sudah menjadi ‘buku’ yang sangat membantu orang-orang yang kelak menulis biografinya, seperti halnya Sukran Vahide yang menulis buku Islam in Modern Turkey: An Intellectual Biography of Bediuzzaman Said Nursi.
Nursi menyebut bagian pertama kehidupannya dengan sebutan Said Lama. Said lama ini mencakup masa-masa sejak dia lahir pada tahun 1879 hingga tahun 1921. Sejak kecil, Nursi menampakkan keunggulannya dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu umum. Sedari usia belasan, dia sudah melayani tantangan berdebat dari para sarjana agama di kawasan Anatolia Timur, Turki—ketika itu kawasan tersebut masih bernama Kekaisaran Ottoman. Pada masa Said Lama ini, dia menganggap penting mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan barat demi memperkuat landasan keimanan dan menjelaskan hal-hal yang masih belum terjelaskan dalam Islam. Ketika seorang guru geografi mengajaknya berdiskusi dan berdebat, Nursi melayaninya hingga beberapa hari berturut-turut. Selama tiga hari dia berdebat, setiap hari dia pulang dan mempelajari buku-buku geografi, sehingga dalam tiga hari Nursi sudah menjadi seorang yang ahli dalan ilmu geografi
Pengetahuan yang luas itu membuat Nursi dihormati banyak orang. Bahkan suku-suku di Provinsi-provinsi timur Kekaisaran Ottoman pun Itulah yang menandakan masa Said Lama ini. Dia terlibat dalam upaya mempersatukan suku-suku di kawasan Provinsi-provinsi Timur yang selalu berseteru. Kemudian, dia terlibat dengan urusan politik dengan berbagai upaya tulisan-tulisannya. Pada akhirnya, seakan untuk menunjukkan bahwa dia tidak hanya pandai berteori, Nursi ikut berperang di front-front Bitlis ketika pecah Perang Dunia I antara Turki melawan sekutu. Nursi maju ke front-front di kawasan Rusia dan berperang dengan berani. Pada masa perang ini pun dia menulis sejumlah komentar perang yang kemudian dibukukan begitu dia kembali ke Istambul.
Said Baru adalah masa ketika dia berusia empat puluh lima sampai usia tujuh puluh tahun. Pada masa-masa ini Nursi menghabiskan hidupnya di dalam penjara dan pengasingan. Semua itu atas tuduhan keterlibatannya dalam urusan politik dan dianggap sebagai orang-orang yang terlibat dalam gerakan menanamkan Islam ke Turki, padahal pemerintah mengharapkan agar Turki menjadi negara sekuler. Namun, inilah yang dinamakan blessing in disguise. Pada masa-masa ini, Said Nursi menjadi lebih serius menulis bukunya yang berjudul Risalah Nur. Nursi menulis buku ini ketika dia berada di dalam penjara. Murid-murid setianya pun mengikutinya ke dalam penjara dan menjadi pelayannya. Kelak, ketika semua tulisannya yang dia selesaikan di sana selesai, dia pun mendapatkan tulisan-tulisan yang dikumpulkan jumlahnya mencapai 6.000 lembar! Kelak buku itu akan disebut Risalah Nur. Buku ini merupakan kumpulan penafsiran Alquran dengan pendekatan yang rasional.
Said Ketiga adalah masa terakhir di dalam kehidupan Nursi dimana kesehatannya sudah menurun drastis dan mengembangkan gerakan Nur sebagai sebuah gerakan yang mapan. Meski begitu, pemerintah sekuler Turki masih mencoba-coba mengembalikannya ke dalam penjara. Kali ini, Nursi tidak menulis satu karya pun. Namun, dia tetap menggerakkan gerakan Nur, gerakan yang dibentuknya selama dia sakit.
Pada setiap abad, akan ada seorang pilihan yang diturunkan Allah untuk membersihkan Islam dari berbagai kotoran yang mencemarinya. Dengan menyandang nama Bediuzzaman (yang berarti “penanda jaman”), banyak orang yang akan mengira bahwa dialah si pembersih Islam.
Namun, di luar dugaan Nursi menyatakan bahwa pada jaman ini, bukanlah satu orang saja yang bisa mengembalikan Islam kepada fitrahnya. Yang dibutuhkan adalah sebuah pribadi kolektif. Dan itu akan terwujud melalui gerakan Nur yang sudah sangat kuat itu.
Ketika usianya semakin senja, Nursi semakin menunjukkan keinginan untuk tenggelam dan lebih mengemukakan pemikiran-pemikirannya. Dia menolak menemui banyak orang karena takut dirinya akan menjadi orang yang tak lagi ikhlas. Daripada menemuinya yang sakit-sakitan, lebih baik para pengikutnya itu membaca Risalah Nur yang jauh lebih berharga dari sepuluh Said.
Sikapnya untuk semakin menenggelamkan diri ini sebenarnya tampak sejak jauh-jauh hari ketika dia menyatakan keinginan untuk dikubur di tempat yang tidak diketahui orang.
Namun, melihat begitu hebatnya Said Nursi semasa hidupnya, mereka tidak rela untuk menguburkannya di tempat yang tak diketahui. Nursi meninggal dengan dikelilingi banyak murid dan pengikutnya. Mereka sepakat untuk memakamkannya di dekat makam Nabi Ibrahim di Urfa.
Sayangnya, Junta Militer yang tidak senang dengan orang-orang luar Turki yang masuk secara ilegal hanya untuk berziarah ke makam Nursi pun tidak bisa membiarkan Nursi hidup tenang. Mereka memindahkan makam Nursi ke daerah Anatolia dan tidak ada yang mengetahui makam tersebut selain beberapa pihak militer yang berjanji tidak akan memberitahukan perihal makam tersebut karena terikat sumpah. Dan hingga saat ini Nursi pun hidup dalam buku-bukunya.   | And you are also a wonder who still have enough time to plunge into the ocean of words |
 | wah, jangan gitu lah pak, saya cuman mengamalkan ayat pertama saja kok, halah :D
|
| |