 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Kuntowijoyo |
Saya malas jika harus mengawali mimpi tentang Kuntowijoyo dengan kalimat, "Kuntowijoyo memiliki ingatan seorang sejarawan paling top dari kampus top, menguasai gaya bernarasi da'i setengah tua nan jenaka di perumnas tempat kita tinggal, dan sanggup berpetuah seperti paman yang banyak pengalaman dan luas pergaulannya." Tidak. Saya yakin Anda-anda sekalian sudah pada bosan dengan aspek Kuntowijoyo yang itu. Sudah banyak yang mengatakannya, mungkin. Kali ini saya ingin mengorek-korek tentang KUNTOWIJOYO YANG DENGAN JUJUR MENGAKUI BAHWA DIA MENULIS CERPEN KORAN.
Tidak banyak sepertinya cerpenis yang membuat pengakuan dan Sastra Koran tanpa harus mengkritik kualitasnya atau membalas kritikan yang ditujukan kepada sastra koran. Dari yang tidak banyak itu, ada Kuntowijoyo. Pada pengantar buku Hampir Sebuah Subversi, Kuntowijoyo menyebutkan bahwa dia benar-benar menulis sebagian besar cerpen yang ada di buku itu untuk tujuan diterbitkan di koran. Dan dia menyadari bahwa ruangan yang terbatas di halaman koran itu menuntut dilakukannya kompromi. Dan kompromi-kompromi semacam inilah yang nantinya melahirkan "sastra koran".
Kuntowijoyo mengakui, kompromi terbesar yang dilakukannya adalah berikhlas-ikhlas untuk tidak menggunakan fitur-fitur yang umumnya ada dalam cerita pendek dalam artian yang sebenar-benarnya cerita pendek. Penokohan, latar, plot, ancang-ancang ke depan, dsb. tidak bisa dipergunakan semaksimal mungkin dalam cerpen koran. Dengan batasan enam sampai delapan halaman kuarto spasi ganda, mustahil baginya menerapkan penokohan dan plot yang sekuat Robohnya Surau Kami (cerita yang paling disukainya). Karenanya, dia memilih hanya menyampaikan peristiwa-peristiwa penting saja disertai dengan deskripsi padat. Dengan itu, dia bisa membuat pembaca mengikuti cerita sambil sekaligus menjejalkan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada mereka. Kalau dipikir-pikir, di sini Kuntowijoyo seakan mengamini bahwa, pada tataran tertentu, cerpen koran tidak jauh berbeda dengan laporan berita--selain tentu saja bahasa yang dipergunakan dan kadar kefaktaan dari apa-apa yang tertulis di situ (ah, tentang ini sebaiknya saya bahas secara terpisah di mimpi-mimpi yang lain).
Kalau dilihat dari cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam kumpulan ini, kita bisa melihat bahwa dia secara konsisten menggunakan patokan itu. Cerita seolah tidak perlu dibuat kronologis ketat. Narator menyampaikan satu-persatu informasi-informasi penting yang perlu diketahui pembaca. Hanya terkadang saja informasi-informasi disampaikan berdasarkan urutan waktu mana yang lebih dulu terjadi. Memasuki separuh akhir cerita, baru ditunjukkan satu dan beberapa saja kejadian menarik terkait dengan nilai moral yang ingin disampaikan narator--yang tentunya terdukung oleh informasi-informasi di awal cerita. Kecenderungan seperti ini tampak jelas pada cerpen-cerpen "santai" yang, seolah-olah, naratornya adalah bapak Kuntowijoyo, M.A., Ph.D., sendiri (lagi-lagi, tentang ini sebaiknya saya bahas secara terpisah di mimpi yang lain saja).
Dengan itu, Kuntowijoyo mengakui bahwa cerpen-cerpenya yang "ngoran" itu berbeda dengan cerpen-cerpen majalah. Diasumsikan di sini bahwa cerpen majalah adalah jenis cerpen yang mirip dengan cerpen-cerpen yang di ranah sastra dunia dikenal sebagai "Short Story". Cerpen macam ini jumlah halamannya tidak cuma 6-8 halaman, tetapi sekitar 15-30 (seperti cerpen-cerpennya Anton Chekhov, Guy de Maupassant, Budi Darma dalam Orang-orang Bloomington), atau bahkan sampai 50 halaman seperti The Dead-nya James Joyce atau cerpen Shiga Naoya dalam buku The Paper Door). Dan majalah yang dimaksud di sini, dalam konteks Indonesia, sepertinya mengacu kepada majalah-majalah sastra. Saat membandingkan cerpennya yang berjudul "Jangan Diperabukan" dengan cerpen Ramadhan K.H. yang berjudul "Menang", yang keduanya sama-sama dimuat di Horison dalam satu edisi, Kuntowijoyo menunjukkan bahwa cerpennya bergaya cerpen koran sementara cerpen Ramadhan K.H. bergaya cerpen majalah. Dia sebutkan bahwa ada perbedaan: dalam cerpennya dia jejalkan banyak informasi dan kemudian diakhiri dengan peristiwa penting sementara dalam cerpen Ramadhan K.H. tema yang sebenarnya sama digarap dengan berbeda, dengan lebih rinci, dengan lebih panjang, dengan gaya cerpen majalah.
Dalam pengantar tersebut, Kuntowijoyo mengimplikasikan bahwa cerpen koran adalah satu jenis tersendiri, unik Indonesia, dan kualitasnya tidak lebih rendah (terlepas dari fakta bahwa pengantar ini dibuat oleh penulis cerpen koran yang mengantarkan cerpen-cerpen koran karyanya sendiri!).
Membaca pengantar ini, saya yang baru lahir sebagai pembaca sastra ketika cerpen koran sudah mapan (sekitar tahun 1999 sampai 2000), seolah disadarkan bahwa apa yang saya sebut cerpen pada hari ini sebenarnya bukan apa yang oleh orang-orang dulu disebut cerpen, juga bukan apa yang oleh orang-orang barat disebut short story. Dan tentu saja, jika ingin belajar tentang cerpen, saya mestinya tidak mematok pada cerpen-cerpen yang setiap minggunya muncul di koran-koran yang, kalau malas keluar uang, saya tinggal download dari situs masing-masing koran. Saya juga disadarkan bahwa cerpen koran hanyalah satu saja pilihan jenis cerpen. Dan jika saya hanya memaku pandang padanya, dampaknya hanyalah mempersempit pandangan saya, membiarkan diri saya seperti diberi seragam dan digiring ke satu tempat yang bukan pilihan saya.
Namun, sikap positif Kuntowijoyo dalam pengantar itu juga tetap menyadarkan saya untuk tidak begitu saja tergelincir ke pandangan ekstrim bahwa cerpen koran itu dangkal, tidak bisa melukiskan pergolakan batin secara mendalam, miskin penokohan, dan akhirnya kualitasnya lebih rendah. Tidak. Sekali lagi saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa cerpen koran adalah pilihan jenis cerpen yang lebih memilih untuk menceritakan peristiwa saja sambil menyampaikan pesan-pesan moral tertentu. Bahkan, cerpen koran bisa menjadi ajang bagi para sastrawan yang ingin menggali sejauh mana keterampilannya bersirkus, bermanuver, dalam satu batasan ruang tertentu. Cerpen koran bisa juga untuk ajang seorang sastrawan mengeksplorasi sejauh mana dia bisa mempengaruhi pembaca (atau sekuat apa dia bisa meninggalkan kesan kepada pembaca, atau secanggih apa dia bisa menyarangkan pukulan KO kepada pembaca [maaf jika terdengar terlalu Hasif Amini], atau sesublim apa dia bisa menyampaikan pesan moral kepada pembaca), dengan ruang yang hanya beberapa halaman kuarto itu.
Ya, bisa saja cerpen koran menjadi secanggih itu, asalkan kita bisa menyingkirkan isu-isu seputar 1) tendensi "perkoncoan" yang mempengaruhi keputusan seorang redaktur kolom cerpen dalam memilih cerpen yang akan dimuatnya, 2) tendensi penulis-penulis tertentu yang mengirimkan cerpennya ke koran HANYA UNTUK CARI DUITNYA (apalagi jika sampai melakukan cara-cara perkoncoan--semacam mengirim SMS kepada redaktur--agar karyanya dimuat), 3) tendensi CARI NAMA pada pihak pengarang dengan harapan akan membawanya kepada proyek-proyek yang mendatangkan duit, 4) kecenderungan redaktur untuk memuat cerpen-cerpen karya orang-orang yang sudah mapan padahal cerpen itu sendiri kemungkinan besar kalah bagus dengan salah satu cerpen lain yang masuk ke email redaktur, 5) dan sejumlah hal lain yang kebetulan pernah dibahas Katrin Bandel dalam esai Sastra Koran Indonesia (Sastra, Perempuan, Seks). Ya, jika saja hal-hal memalukan (tapi dilestarikan dan diturunkan dari generasi ke generasi cerpenis) itu bisa kita lupakan sejenak, cerpen koran sendiri adalah entitas yang tak berbahaya.
Dan cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang memiliki kekhasan tersendiri itu adalah bukti bahwa cerpen koran pun bisa berkelas jika ditulis tanpa kepentingan-kepentingan non sastra. Bagi saya, "kepentingan sastra" secara longgar mencakup 1) keinginan untuk menghibur lewat cerita, 2) kepentingan untuk mengajarkan pesan-moral atau muatan tertentu lewat cerita, 3) keinginan untuk bereksplorasi dengan bentuk dan berindah-indah. Selain ketiga kepentingan itu beserta derivatnya, saya hanya bisa menyebutnya sebagai kepentingan non sastra, termasuk uang dan nama.
Demikianlah tentang pengantar buku Hampir Sebuah Subversi. Hal-hal yang berkenaan dengan batang-tubuh buku tersebut akan dibahas dalam tempo yang tidak bisa ditentukan di saat-saat yang akan datang.   | hanya komen poto doang, kok pake flash yak? mending usahakan ngga usah pake direct flash, kalo bisa sih dibounce. trus, background, asik sih, namun agak keramean, saranku .. coba pake kain warna item ditaruh di kursi, abis gitu taruh sesuatu di kursi tsb buat mengganjal obyek yg kita poto, tapi sesuatu ini harus tetep tercovering sama kain itemnya yak .. nah, setelah semua tercovered, baru taruhlah obyek dg posisi berdiri tepat di atas pengganjal, dan usahakan ada jarak antara background dg obyek .. masalah lighting serahkan saja pada lampu kamar/meja dan dibantu dg slow speednya camera .. mudah kok, post editingnya juga mudah, tinggal naik turunin level doang .. gud lak!! |
 | ooooh suwuuuuun sekali bos. akan saya camkan di dalam benak. lha iki motone ndik nduwur kasur e. hahaha |
| |