wawan-eko's posts with tag: resensi
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nadhira Khalid |
When I heard the name Forum Lingkar Pena (henceforth, FLP), there surely will flash in my mind the image of nice women in veils speaking politely and marrying with nice pious men they have only heard about previously (not to say that they have never met nor been boy/girlfriends since the term boy/girlfriend itself is virtually inexistent to them). Forum Lingkar Pena is a banner under which one can find Moslem writers writing to syiar (spread out) Islamic teachings of love, peace, good conducts. It’s me to blame for not knowing deeper about their works, not reading any full books any of them has written, accusing them of practicing black-and-white literature (meaning, their characters are not round with bad guys being still being bad guys and the good ones still good ones by the end of the story), accusing them of writing tediously predictable stories (with a long-haired band singer or guitarist turning into a pious young man after knowing—and, of course, falling in love with—a nice pious girl wearing veil). I realize that it is way too evil to accuse them as such now that I have read a book published by FLP entitled Ketika Cinta tak Mau Pergi (When Love Won't Leave).
Written by Nadhira Khalid, a female writer and translator living in Mataram, Lombok Island, Ketika Cinta tak Mau Pergi ably tells a love story between Lalu Kertiaji and Sahnim. Both of them are close to each other since they were very young like 9 years of age. Living in adjoining hamlets, Presak Bat (meaning West Presak) and Presak Timuq (East Presak), they arrange their rendezvous under an old tamarind tree in the border of both hamlets. They keep meeting in a secret place around the tamarind tree even when both hamlets build up animosity against each other due to a third party’s desire to drive out the inhabitants of both hamlets, appropriate their land, and mine pumice from under their feet. Animus intensifies between both hamlets and their people, and they started to kill each other during mass fights. The two lovers insist on loving each other as if to forget the fact. After being embarrassed before teens of young men by Sahnim’s father, who disagrees to their relationship, Lalu Kertiaji even plans to “steal” Sahnim from her house, and he does. However, against traditional belief strongly held by Sasak community, Sahnim’s father, Ismuhadi, with some people from his hamlet, snatches her back from the stealer. The incident triggers a mass riot between the two hamlets, and that kills several people. After being an inch from marriage, they are now separated miles away. Sahnim falls from grace in the eyes of every young man since she has once been stolen by a man, she’s a second hand girl now. She is put in house detention until a young man proposes to marry her. As for Kertiaji, also wearing disgrace all over his face, agrees to his father’s idea to join transmigration to a nearby island Sumbawa with the hope to get away from penury and, for the part of Lalu Kertiaji, to stay away temporarily from the love of his life.
It was the initial story that triggers more related actions in Ketika Cinta tak Mau Pergi. The story develops into a deeper dip into the life of Sasak community in Lombok Island as well as Sumbawa. We will be introduced then to the state of Lombok’s people life, the poor condition of a group of Sasak community already living tens of years in a seaside hamlet in Sumbawa, the life of trans people (transmigrated people who receive life support from the government during the first years of their life in the new place. In a wider context, we can also see the incident behind the transmigration of Presak people and the appropriation of Presak’s peole’s land: the establishment of pumice mining factory.
Nadhira Khalid’s novel is a light disgracing smack on the government’s face. This novel reveals how government actually knows very little of what happens on the field. They do not know that behind their plan to establish a mining company and transmigration, there is a sly practice of riot stimulation which takes the life of several people from both hamlets, as if to show that to gain as much benefit as possible from the nature's treasure, they would not bother thinking about its social effect, not to speak of environmental effects. It is also here that we know how, in certain cases, government sent people to a new place and then they just give them rice (once, they experience 4 months rice provision late) to survive without providing any paramedics, not to mention any healthcare services, which then makes them prone to death in a certain month of the year due to malaria.
Told in Indonesian with a strong flavor of Sasak language, the novel does take us from our reading couch to Lombok and Sumbawa. We are also introduced to degrees of politeness practiced in Sasak people’s communication. An older brother and sister would normally say “I” and “you” to talk with his/her relatives, but younger brothers and sisters would say "tiyang" instead of I and "side" instead of you as they speak to their older siblings. This novel echoes, in a certain degree, of course, Ahmad Tohari’s theme and language of choice—with the only difference being Ahmad Tohari’s use of Javanese-flavored Indonesian. We can see quite explicitly that Nadhira Khalid aspires to introduce, not to say promote, her home culture through the love story of Lalu Kertiaji-Sahnim. One can see how, instead of only letting the characters’ dialogs and actions show the unique life of Sasak people, the omniscient narrator—or is it Nadhira herself?—keeps on telling us readers about any local terms and incidents with descriptive sentences. On one hand, we gain knowledge about Sasak people more easily; however, on the other hand, we lose the enjoyment of a dream-like world of fiction due to the encyclopedic explanation given by the narrator.
All in all, we will find Nadhira Khalid’s Ketika Cinta tak Mau Pergi one of rare local themed novels that introduce us to a certain ethnic group in Indonesia (in this case, Sasak) better than any guide books we can find in (airport) bookstores. On my part, last but not least, I know now that my previous conception of FLP books and writers is truly mistaken. They are just different in terms of scope of theme, but they are positively not any worse than any other literary styles in Indonesian literature. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Titon Rahmawan |
DI TENGAH-TENGAH sebagian besar prosa Indonesia yang memilih latar Indonesia sendiri, baik masa lalu atau kini, novel Turquoise menjadi sesuatu yang unik: dia berlatarkan kehidupan di negeri bernuansa Arab-Afrika. Jika sebelumnya kita hanya mengenal kisah kepahlawanan dalam bentuk cerita-cerita silat yang sulit ditemui pada prosa Indonesia hari ini, maka Turquoise adalah sebuah penyegaran dan alternatif baru bagi kita: berkisah kepahlawanan dan cinta, berlatarkan kehidupan di masa lalu, di sebuah negeri yang deskripsinya tak jauh-jauh dari Arab atau Turki, pedang dan kuda muncul di berbagai bagian buku, adegan tarung pedang digelar di beberapa bagian. Dua hal ini, setting Arab-Afrika dan persilatan, mungkin akan mengingatkan kita kepada Negeri Senja Seno Gumira Ajidarma. Namun, terlepas dari dua hal itu, kedua novel ini jauh berbeda antara satu dengan yang lain. Berikut akan digambarkan sejumlah kekhasan Turquoise yang mungkin juga akan bisa menunjukkan perbedaan novel ini dengan Negeri Senja, dengan novel-novel silat yang dulu pernah ada, dan dengan novel-novel Indonesia hari ini.
Dikisahkan, seorang pemuda terlahir dan tinggal bersama orang tuanya sebagai pelayan di rumah besar milik saudagar kaya raya Youssef. Pemuda ini, Husayn namanya, tumbuh menjadi seorang perjaka yang tampan dan mempesona di mata Safira, putri tuan Youssef. Pada akhir masa remajanya, Qadrii, sepupu Safira, anak kepala kampung yang terhormat, juga sahabat Husayn, meminang Safira. Namun Safira yang telanjur menyukai dan mengikat janji dengan Husayn dengan serta-merta menolaknya. Bahkan, kepada ayahnya, Safira memproklamasikan cintanya kepada Husayn, si anak pelayan. Murka, dan kehilangan muka, membuat tuan Youssef mengusir Husayn beserta keluarganya. Safira pun menjadi sasaran kemarahan. Sebuah "wahyu" membimbing Safira menjadi seorang mistikus tabib yang menyerahkan hidupnya di jalan Tuhan. Husayn pun menemukan jalan takdirnya, menjadi penjaga gerbang kota, dan kemudian menjadi tentara pembela kota dari para penyamun padang pasir.
Dengan latar belakang seperti ini, kisah pun berkembang: Safira menemui ajal dan Husayn, yang telah terputus kabar dari Safira, bertumbuh menjadi "Singa Padang Pasir".
Ada beberapa hal yang harus disampaikan tentang Turquoise, yakni:
(1) Turquoise menegaskan kembali bahwa kisah romansa dan kepahlawanan adalah sebuah kombinasi yang selalu pas. Pasti kita ingat kisah romansa Aragorn dan Arwen dalam trilogi Lord of the Ring: seorang pangeran terbuang dan seorang putri raja nan Liv Tyler. Atau kisah William Wallace dan istri yang baru semalam dinikahinya dalam Braveheart. Atau kisah Maximus dan instri serta anaknya dalam Gladiator. Betapa kita selalu tergetar saat mendapati "pahlawan" kita adalah juga seorang manusia yang bisa lembut hatinya, dan bahkan tampak rapuh, di hadapan asmara. Dalam Turquoise, kita yang di awal cerita disodori adegan action antara Husayn sang singa melawan serigala-serigala "peliharaan" sang penyihir hitam keturunan iblis (?), Maqtuf Kharkani. Dan ketika kita dapati Husayn ternyata pernah begitu rapuh saat menghadapi pergolakan cinta, kita pun akan berempati dengan pahlawan kita ini.
(2) Turquoise menunjukkan sebuah vitalitas menulis yang luar biasa. Titon Rahmawan, seorang penulis yang di kalangan sasta cyber telah dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais sejak awal 2000-an, menampilkan kejelian dalam menyusun kisah yang berlatar sebuah kota dan sekaligus dia "buatkan" elemen-elemen pembentuknya. Lihatlah, pertama-tama, bagaimana dia memberi wujud fisik kotanya dengan penyajian peta yang membantu kita membayangkan posisi geografis Negeri Allah dan Makarresh serta penggambaran arsitektur kota yang langsung mengingatkan kita pada negeri-negeri Arab atau Turki. Lebih mendalam, dia beberkan penggolongan kelas sosial yang antara lain terdiri dari kaum Rahibi dan Rabani. Kemudian, yang tak bisa lepas, ditampakkan pula betapa Islam telah begitu terinternalisasi dalam kehidupan warga kota, terutama pada diri "pahlawan" kita, meskipun ada juga yang beragama lain seperti misalnya keluarga Safira. Titon juga bisa dengan sama terampilnya menggambarkan adegan action (lihatlah pertarungan Husayn melawan serigala, melawan Zoreth sang penyamun dari oase Turim, melawan si sahir Maftuq Kharkani, dsj.), adegan romansa (lihatlah saat-saat ketika Husayn dan Safira saling memproklamirkan cinta di tepi danau Kalkausar), dan juga adegan persedihan (lihatlah bagaimana Husayn dihumbalangkan lara hati atas pengusiran tuan Youssef, juga nikmati bagaimana Safira yang hancur hatinya sampai tiba pada kesimpulan akan menempuh hidup di jalan Tuhan. Kesabaran Titon untuk mengajak kita larut dalam detik-demi-detik dalam kisah (baik itu saat-saat laga maupun saat-saat hati bicara) adalah sesuatu yang membuat kita patut menghargai Turquoise lebih dari sebuah kisah kepahlawanan biasa.
(3) Turquoise memiliki tabiat yang unik terhadap bahasa. Sebagai sebuah novel yang tidak berlatar di Indonesia, Turquoise benar-benar memperlakukan bahasa Indonesia hanya sebagai pengantar. Meskipun dihantarkan dengan halus, dan pada beberapa bagian bahkan terdengar berpuisi, tampak sekali bahwa sepertinya penulis berpandangan bahwa bahasa Indonesia seolah tidak bisa dengan mudah mengakomodasi makna dari sejumlah hal yang ada di Makarresh. Tampak bertebaran kata-kata bercetak miring di sekujur buku. Ada kalanya, memang, kata-kata itu tercetak miring, hadir dalam bahasa Negeri Allah (Arab?), karena bahasa Indonesia tidak cukup mewakilinya. Yang seperti ini bisa kita lihat pada nama-nama tanaman, semisal al kastanaa, arbutus, lauz, al-misymisy, dsb. Namun, pada banyak bagian lain, seperti misalnya ketika nama-nama binatang harus disinggung, tampak bahwa penulis seolah-olah ingin memberikan nuansa Makarresh (Arab?) kepada pembaca. Nama-nama binatang yang dalam bahasa Indonesia sebenarnya ada, malah disebutkan nama Makarreshnya: alih-alih onta, Turquoise menyebutnya Jamalu, alih-alih serigala, di sini disebut ibnu alwaa. Yang terakhir ini sepertinya agak ambivalen. Di satu sisi memang kita dibawa lebih dekat ke Arab dengan nuansa yang Arab; namun, di lain pihak, tentulah penikmatan kita akan terganggu jika harus mereka-reka (atau melihat catatan kaki) dulu ketika kita dipertemukan dengan kata alkamar dan kaukab serta qahwah dan syaaya, yang sebenanya hanyalah ingin mengatakan planet dan bintang serta kopi dan teh.
Sebagai kisah kepahlawanan sekaligus romansa, Turquoise telah berhasil memberikan keasyikan membaca sekaligus pencerahan. Kita dibikin kerasan dengan teka-teki dan pengharapan akan bagaimana akhir kisah Husayn ini, adegan laganya juga mengasyikkan dan–pada diri saya–berhasil membuat harap-harap cemas dan memberikan kepuasan saat laga benar-benar telah rampung. Kita pun juga diajak merenungi arti persahabatan yang sirna karena cinta, cinta yang musnah karena ketamakan, dan rasio yang kalah oleh amarah (tentang ini Yonathan Rahardjo menyinggungnya pada endorser di sampul belakang Turquoise). Dan satu keasyikan yang hanya ditemui pada buku ini dan buku-buku sejenisnya adalah kita akan diajak merasakan kehidupan di sebuah negara Arab atau bagian benua Afrika pada masa lalu, dengan sejumlah aspek hidupnya: perekonomian, kehidupan sosial, dan arsitekturnya.
Jika kita adalah jenis orang yang selalu tertarik akan hubungan antara cerita dengan latar sosial kita, maka kita pun akan dipaksa mengiyakan bahwa di sini, nilai-nilai universal direnungkan kembali melalui permasalah-permasalahan yang mungkin dihadapi seorang manusia di tempatnya hidup. Dan betapa cinta yang menghanguskan persahabatan, ketamakanan yang memakan cinta, atau rasio yang terhapus oleh emosi, sebenarnya adalah tema yang diulang-ulang dalam sejarah manusia. Sekarang pun, jika kita sempatkan membaca secara lengkap kasus-kasus kriminal atau pembunuhan yang ada di halaman-halaman koran atau di berita kriminal televisi, besar kemungkinannya kita akan temukan modus operandi berikut ini: cemburu, perebutan warisan, terbakar kemarahan, tersulut emosi, dsb. Dan itu pulalah yang menggerakkan kejadian-kejadian penting dalam Turquoise.

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Kuntowijoyo |
Saya malas jika harus mengawali mimpi tentang Kuntowijoyo dengan kalimat, "Kuntowijoyo memiliki ingatan seorang sejarawan paling top dari kampus top, menguasai gaya bernarasi da'i setengah tua nan jenaka di perumnas tempat kita tinggal, dan sanggup berpetuah seperti paman yang banyak pengalaman dan luas pergaulannya." Tidak. Saya yakin Anda-anda sekalian sudah pada bosan dengan aspek Kuntowijoyo yang itu. Sudah banyak yang mengatakannya, mungkin. Kali ini saya ingin mengorek-korek tentang KUNTOWIJOYO YANG DENGAN JUJUR MENGAKUI BAHWA DIA MENULIS CERPEN KORAN.
Tidak banyak sepertinya cerpenis yang membuat pengakuan dan Sastra Koran tanpa harus mengkritik kualitasnya atau membalas kritikan yang ditujukan kepada sastra koran. Dari yang tidak banyak itu, ada Kuntowijoyo. Pada pengantar buku Hampir Sebuah Subversi, Kuntowijoyo menyebutkan bahwa dia benar-benar menulis sebagian besar cerpen yang ada di buku itu untuk tujuan diterbitkan di koran. Dan dia menyadari bahwa ruangan yang terbatas di halaman koran itu menuntut dilakukannya kompromi. Dan kompromi-kompromi semacam inilah yang nantinya melahirkan "sastra koran".
Kuntowijoyo mengakui, kompromi terbesar yang dilakukannya adalah berikhlas-ikhlas untuk tidak menggunakan fitur-fitur yang umumnya ada dalam cerita pendek dalam artian yang sebenar-benarnya cerita pendek. Penokohan, latar, plot, ancang-ancang ke depan, dsb. tidak bisa dipergunakan semaksimal mungkin dalam cerpen koran. Dengan batasan enam sampai delapan halaman kuarto spasi ganda, mustahil baginya menerapkan penokohan dan plot yang sekuat Robohnya Surau Kami (cerita yang paling disukainya). Karenanya, dia memilih hanya menyampaikan peristiwa-peristiwa penting saja disertai dengan deskripsi padat. Dengan itu, dia bisa membuat pembaca mengikuti cerita sambil sekaligus menjejalkan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada mereka. Kalau dipikir-pikir, di sini Kuntowijoyo seakan mengamini bahwa, pada tataran tertentu, cerpen koran tidak jauh berbeda dengan laporan berita--selain tentu saja bahasa yang dipergunakan dan kadar kefaktaan dari apa-apa yang tertulis di situ (ah, tentang ini sebaiknya saya bahas secara terpisah di mimpi-mimpi yang lain).
Kalau dilihat dari cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam kumpulan ini, kita bisa melihat bahwa dia secara konsisten menggunakan patokan itu. Cerita seolah tidak perlu dibuat kronologis ketat. Narator menyampaikan satu-persatu informasi-informasi penting yang perlu diketahui pembaca. Hanya terkadang saja informasi-informasi disampaikan berdasarkan urutan waktu mana yang lebih dulu terjadi. Memasuki separuh akhir cerita, baru ditunjukkan satu dan beberapa saja kejadian menarik terkait dengan nilai moral yang ingin disampaikan narator--yang tentunya terdukung oleh informasi-informasi di awal cerita. Kecenderungan seperti ini tampak jelas pada cerpen-cerpen "santai" yang, seolah-olah, naratornya adalah bapak Kuntowijoyo, M.A., Ph.D., sendiri (lagi-lagi, tentang ini sebaiknya saya bahas secara terpisah di mimpi yang lain saja).
Dengan itu, Kuntowijoyo mengakui bahwa cerpen-cerpenya yang "ngoran" itu berbeda dengan cerpen-cerpen majalah. Diasumsikan di sini bahwa cerpen majalah adalah jenis cerpen yang mirip dengan cerpen-cerpen yang di ranah sastra dunia dikenal sebagai "Short Story". Cerpen macam ini jumlah halamannya tidak cuma 6-8 halaman, tetapi sekitar 15-30 (seperti cerpen-cerpennya Anton Chekhov, Guy de Maupassant, Budi Darma dalam Orang-orang Bloomington), atau bahkan sampai 50 halaman seperti The Dead-nya James Joyce atau cerpen Shiga Naoya dalam buku The Paper Door). Dan majalah yang dimaksud di sini, dalam konteks Indonesia, sepertinya mengacu kepada majalah-majalah sastra. Saat membandingkan cerpennya yang berjudul "Jangan Diperabukan" dengan cerpen Ramadhan K.H. yang berjudul "Menang", yang keduanya sama-sama dimuat di Horison dalam satu edisi, Kuntowijoyo menunjukkan bahwa cerpennya bergaya cerpen koran sementara cerpen Ramadhan K.H. bergaya cerpen majalah. Dia sebutkan bahwa ada perbedaan: dalam cerpennya dia jejalkan banyak informasi dan kemudian diakhiri dengan peristiwa penting sementara dalam cerpen Ramadhan K.H. tema yang sebenarnya sama digarap dengan berbeda, dengan lebih rinci, dengan lebih panjang, dengan gaya cerpen majalah.
Dalam pengantar tersebut, Kuntowijoyo mengimplikasikan bahwa cerpen koran adalah satu jenis tersendiri, unik Indonesia, dan kualitasnya tidak lebih rendah (terlepas dari fakta bahwa pengantar ini dibuat oleh penulis cerpen koran yang mengantarkan cerpen-cerpen koran karyanya sendiri!).
Membaca pengantar ini, saya yang baru lahir sebagai pembaca sastra ketika cerpen koran sudah mapan (sekitar tahun 1999 sampai 2000), seolah disadarkan bahwa apa yang saya sebut cerpen pada hari ini sebenarnya bukan apa yang oleh orang-orang dulu disebut cerpen, juga bukan apa yang oleh orang-orang barat disebut short story. Dan tentu saja, jika ingin belajar tentang cerpen, saya mestinya tidak mematok pada cerpen-cerpen yang setiap minggunya muncul di koran-koran yang, kalau malas keluar uang, saya tinggal download dari situs masing-masing koran. Saya juga disadarkan bahwa cerpen koran hanyalah satu saja pilihan jenis cerpen. Dan jika saya hanya memaku pandang padanya, dampaknya hanyalah mempersempit pandangan saya, membiarkan diri saya seperti diberi seragam dan digiring ke satu tempat yang bukan pilihan saya.
Namun, sikap positif Kuntowijoyo dalam pengantar itu juga tetap menyadarkan saya untuk tidak begitu saja tergelincir ke pandangan ekstrim bahwa cerpen koran itu dangkal, tidak bisa melukiskan pergolakan batin secara mendalam, miskin penokohan, dan akhirnya kualitasnya lebih rendah. Tidak. Sekali lagi saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa cerpen koran adalah pilihan jenis cerpen yang lebih memilih untuk menceritakan peristiwa saja sambil menyampaikan pesan-pesan moral tertentu. Bahkan, cerpen koran bisa menjadi ajang bagi para sastrawan yang ingin menggali sejauh mana keterampilannya bersirkus, bermanuver, dalam satu batasan ruang tertentu. Cerpen koran bisa juga untuk ajang seorang sastrawan mengeksplorasi sejauh mana dia bisa mempengaruhi pembaca (atau sekuat apa dia bisa meninggalkan kesan kepada pembaca, atau secanggih apa dia bisa menyarangkan pukulan KO kepada pembaca [maaf jika terdengar terlalu Hasif Amini], atau sesublim apa dia bisa menyampaikan pesan moral kepada pembaca), dengan ruang yang hanya beberapa halaman kuarto itu.
Ya, bisa saja cerpen koran menjadi secanggih itu, asalkan kita bisa menyingkirkan isu-isu seputar 1) tendensi "perkoncoan" yang mempengaruhi keputusan seorang redaktur kolom cerpen dalam memilih cerpen yang akan dimuatnya, 2) tendensi penulis-penulis tertentu yang mengirimkan cerpennya ke koran HANYA UNTUK CARI DUITNYA (apalagi jika sampai melakukan cara-cara perkoncoan--semacam mengirim SMS kepada redaktur--agar karyanya dimuat), 3) tendensi CARI NAMA pada pihak pengarang dengan harapan akan membawanya kepada proyek-proyek yang mendatangkan duit, 4) kecenderungan redaktur untuk memuat cerpen-cerpen karya orang-orang yang sudah mapan padahal cerpen itu sendiri kemungkinan besar kalah bagus dengan salah satu cerpen lain yang masuk ke email redaktur, 5) dan sejumlah hal lain yang kebetulan pernah dibahas Katrin Bandel dalam esai Sastra Koran Indonesia (Sastra, Perempuan, Seks). Ya, jika saja hal-hal memalukan (tapi dilestarikan dan diturunkan dari generasi ke generasi cerpenis) itu bisa kita lupakan sejenak, cerpen koran sendiri adalah entitas yang tak berbahaya.
Dan cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang memiliki kekhasan tersendiri itu adalah bukti bahwa cerpen koran pun bisa berkelas jika ditulis tanpa kepentingan-kepentingan non sastra. Bagi saya, "kepentingan sastra" secara longgar mencakup 1) keinginan untuk menghibur lewat cerita, 2) kepentingan untuk mengajarkan pesan-moral atau muatan tertentu lewat cerita, 3) keinginan untuk bereksplorasi dengan bentuk dan berindah-indah. Selain ketiga kepentingan itu beserta derivatnya, saya hanya bisa menyebutnya sebagai kepentingan non sastra, termasuk uang dan nama.
Demikianlah tentang pengantar buku Hampir Sebuah Subversi. Hal-hal yang berkenaan dengan batang-tubuh buku tersebut akan dibahas dalam tempo yang tidak bisa ditentukan di saat-saat yang akan datang. 
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Syukran Vahide |
Kita mengenal Wali Songo dengan segala keajaibannya. Kita tahu bahwa Sunan Kalijogo bertahun menunggu di pinggir sungai untuk bisa menjadi murid Sunan Bonang. Kita tahu bahwa Syeh Siti Jenar menyamar menjadi cacing untuk mencuri ilmu dari Sunan Bonang. Namun, apakah semua kisah agama sedemikian fantastisnya.
Maka, jangan salahkan sama sekali jika Imam Feisal Abdul Rauf menyinggung perihal walisongo sebagai “kisah legendaris sembilan ulama Sufi” dari tanah Jawa. Hingga saat ini, kita mengenal para wali tersebut dari mulut ke mulut. Jika ada yang kita ingat dari mereka, hal itu adalah tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijogo dan kesenian Bonang tinggalan sunan Bonang. Ini tidak salah, sama sekali! Sebab, untuk masyarakat Jawa yang benar-benar hidup dalam tradisi lisan (ketika itu bacaan cuma konsumsi keraton), mereka memerlukan hal-hal yang bersifat lisan. Justru pilihan mereka untuk berdakwah menggunakan fitur budaya lisan itu menunjukkan kemampuan mereka memahami jaman.
Berbeda halnya dengan jaman sekarang. Seorang sufi membutuhkan lebih dari sarana lisan untuk berdakwah. Sebab “yang terucap akan selalu bersama angin.” Apa yang dibutuhkan? Seperti kita bisa melanjutkan postulat itu dengan mengatakan “yang tertulis akan selalu abadi.”
Itulah, mungkin, salah satu alasan mengapa Said Nursi, seorang sufi abad dua puluh dari Turki memilih menyodorkan tulisan-tulisannya. Dia mengabadikan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan-tulisan yang dia terbitkan dan edarkan secara cuma-cuma. Lebih jauh lagi, dia ingin Said Nursi sebagai seorang pribadi menghilang di balik tulisan-tulisannya.
Bahkan, kepada muridnya yang ingin membuat biografi dirinya, Said Nursi meminta dengan sangat hanya untuk menggambarkan dirinya dalam kaitannya dengan pemikiran-pemikirannya. Dia menghapus banyak detil yang bercerita tentang karomah yang dia miliki—ingat, dia seorang sufi, wali, yang pastinya dianugerahi kemampuan-kemampuan lebih hebat.
Nursi membagi hidupnya ke dalam tiga masa, seperti bagian-bagian dalam sebuah buku: Said Lama, Said Baru, dan Said Ketiga. Setiap bagian mewakili diri Nursi yang berbeda. Biasanya setiap bagian kehidupan ini ditandai dengan perubahan atau perkembangan khusus dalam aktivitas serta pemikiran Nursi. Maka, hidup Nursi pun sudah menjadi ‘buku’ yang sangat membantu orang-orang yang kelak menulis biografinya, seperti halnya Sukran Vahide yang menulis buku Islam in Modern Turkey: An Intellectual Biography of Bediuzzaman Said Nursi.
Nursi menyebut bagian pertama kehidupannya dengan sebutan Said Lama. Said lama ini mencakup masa-masa sejak dia lahir pada tahun 1879 hingga tahun 1921. Sejak kecil, Nursi menampakkan keunggulannya dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu umum. Sedari usia belasan, dia sudah melayani tantangan berdebat dari para sarjana agama di kawasan Anatolia Timur, Turki—ketika itu kawasan tersebut masih bernama Kekaisaran Ottoman. Pada masa Said Lama ini, dia menganggap penting mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan barat demi memperkuat landasan keimanan dan menjelaskan hal-hal yang masih belum terjelaskan dalam Islam. Ketika seorang guru geografi mengajaknya berdiskusi dan berdebat, Nursi melayaninya hingga beberapa hari berturut-turut. Selama tiga hari dia berdebat, setiap hari dia pulang dan mempelajari buku-buku geografi, sehingga dalam tiga hari Nursi sudah menjadi seorang yang ahli dalan ilmu geografi
Pengetahuan yang luas itu membuat Nursi dihormati banyak orang. Bahkan suku-suku di Provinsi-provinsi timur Kekaisaran Ottoman pun Itulah yang menandakan masa Said Lama ini. Dia terlibat dalam upaya mempersatukan suku-suku di kawasan Provinsi-provinsi Timur yang selalu berseteru. Kemudian, dia terlibat dengan urusan politik dengan berbagai upaya tulisan-tulisannya. Pada akhirnya, seakan untuk menunjukkan bahwa dia tidak hanya pandai berteori, Nursi ikut berperang di front-front Bitlis ketika pecah Perang Dunia I antara Turki melawan sekutu. Nursi maju ke front-front di kawasan Rusia dan berperang dengan berani. Pada masa perang ini pun dia menulis sejumlah komentar perang yang kemudian dibukukan begitu dia kembali ke Istambul.
Said Baru adalah masa ketika dia berusia empat puluh lima sampai usia tujuh puluh tahun. Pada masa-masa ini Nursi menghabiskan hidupnya di dalam penjara dan pengasingan. Semua itu atas tuduhan keterlibatannya dalam urusan politik dan dianggap sebagai orang-orang yang terlibat dalam gerakan menanamkan Islam ke Turki, padahal pemerintah mengharapkan agar Turki menjadi negara sekuler. Namun, inilah yang dinamakan blessing in disguise. Pada masa-masa ini, Said Nursi menjadi lebih serius menulis bukunya yang berjudul Risalah Nur. Nursi menulis buku ini ketika dia berada di dalam penjara. Murid-murid setianya pun mengikutinya ke dalam penjara dan menjadi pelayannya. Kelak, ketika semua tulisannya yang dia selesaikan di sana selesai, dia pun mendapatkan tulisan-tulisan yang dikumpulkan jumlahnya mencapai 6.000 lembar! Kelak buku itu akan disebut Risalah Nur. Buku ini merupakan kumpulan penafsiran Alquran dengan pendekatan yang rasional.
Said Ketiga adalah masa terakhir di dalam kehidupan Nursi dimana kesehatannya sudah menurun drastis dan mengembangkan gerakan Nur sebagai sebuah gerakan yang mapan. Meski begitu, pemerintah sekuler Turki masih mencoba-coba mengembalikannya ke dalam penjara. Kali ini, Nursi tidak menulis satu karya pun. Namun, dia tetap menggerakkan gerakan Nur, gerakan yang dibentuknya selama dia sakit.
Pada setiap abad, akan ada seorang pilihan yang diturunkan Allah untuk membersihkan Islam dari berbagai kotoran yang mencemarinya. Dengan menyandang nama Bediuzzaman (yang berarti “penanda jaman”), banyak orang yang akan mengira bahwa dialah si pembersih Islam.
Namun, di luar dugaan Nursi menyatakan bahwa pada jaman ini, bukanlah satu orang saja yang bisa mengembalikan Islam kepada fitrahnya. Yang dibutuhkan adalah sebuah pribadi kolektif. Dan itu akan terwujud melalui gerakan Nur yang sudah sangat kuat itu.
Ketika usianya semakin senja, Nursi semakin menunjukkan keinginan untuk tenggelam dan lebih mengemukakan pemikiran-pemikirannya. Dia menolak menemui banyak orang karena takut dirinya akan menjadi orang yang tak lagi ikhlas. Daripada menemuinya yang sakit-sakitan, lebih baik para pengikutnya itu membaca Risalah Nur yang jauh lebih berharga dari sepuluh Said.
Sikapnya untuk semakin menenggelamkan diri ini sebenarnya tampak sejak jauh-jauh hari ketika dia menyatakan keinginan untuk dikubur di tempat yang tidak diketahui orang.
Namun, melihat begitu hebatnya Said Nursi semasa hidupnya, mereka tidak rela untuk menguburkannya di tempat yang tak diketahui. Nursi meninggal dengan dikelilingi banyak murid dan pengikutnya. Mereka sepakat untuk memakamkannya di dekat makam Nabi Ibrahim di Urfa.
Sayangnya, Junta Militer yang tidak senang dengan orang-orang luar Turki yang masuk secara ilegal hanya untuk berziarah ke makam Nursi pun tidak bisa membiarkan Nursi hidup tenang. Mereka memindahkan makam Nursi ke daerah Anatolia dan tidak ada yang mengetahui makam tersebut selain beberapa pihak militer yang berjanji tidak akan memberitahukan perihal makam tersebut karena terikat sumpah. Dan hingga saat ini Nursi pun hidup dalam buku-bukunya. 
 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Chen Guidi dan Wu Chuntao |
Label “Made in China” di berbagai produk yang kita beli telah menjadi penegas bahwa Cina adalah penguasa ekonomi dunia. Berbagai produk Cina mulai dari kendaraan bermotor hingga produk makanan ringan yang baru-baru ini ditarik dari peredaran karena dicurigai ‘kelebihan’ bahan pengawet pun gampang ditemui dimana-mana. James Kynge, jurnalis Financial Times, pernah membeberkan dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina bagaimana negara ini tumbuh dari Cina yang rawan kelaparan menjadi raksasa kuat dan lapar yang berpotensi menyantap habis jatah minyak AS dari Venezuela dan Iran. Tapi bersiap-siaplah untuk mengubah kekaguman Anda terhadap Cina setelah membaca China Undercover.
Cina masih menyandang sebutan ‘tirai bambu’. Apa-apa yang ada di Cina tetap belum jelas dari luar. Saking rapatnya tirai bambu itu, masih saja ada sejumlah provinsi yang masih terlarang bagi pihak luar. Salah satunya adalah Anhui, sebuah provinsi termiskin di dataran luas Cina. Adalah sepasang suami-istri Chen Guidi dan Wu Chuntau yang mempertaruhkan keselamatannya untuk menceritakan sejumlah cacat yang ditutupi tirai bambu Cina.
Dalam China Undercover yang baru-baru ini diterbitkan Ufuk Press, kita bisa melihat bahwa ada yang ditumbalkan di balik kegagahan Cina di pentas ekonomi dunia. Mereka adalah para petani yang ketimpa abu panas untuk bekerja keras demi memenuhi kebutuhan negara akan pangan. Paradoks dengan bakti yang tak terkira itu, mereka mendapat perlakuan yang serba tidak mengenakkan dari kader-kader partai di tingkat lokal. Para petani dikenai berbagai rupa pajak yang sebenarnya adalah hasil akal-akalan para kepala desa korup beserta para perangkatnya.
Dalam investigasi yang dilakukannya di beberapa kabupaten provinsi Anhui, Chen dan Wu mendapati sejumlah kasus menyayat hati. Pada bab pertama, kita akan dibikin geram oleh kisah pembunuhan seorang warga cerdas yang menuntut diadakannya audit keuangan desa. Si warga cerdas bernama Ding Zuoming ini mengendus korupsi yang dilakukan kepala desa dan berhasil memojokkan kepala. Namun, sebelum menyetujui audit, kepala desa dengan bantuan tenaga keamanan kecamatan memberinya pelajaran yang kebablasan hingga dia pun menjadi martir demi kebenaran.
Pada bab selanjutnya, kita akan temui lagi kisah pembunuhan yang kali ini korbannya lebih dari satu orang, dan kejadiannya terjadi dalam hitungan menit! Empat orang warga yang telah ditunjuk para petani untuk mengaudit keuangan kepala desa korup—yang sebenarnya terjerat masalah hukum—dibunuh si kepala desa dan anak-anaknya. Warga yang geram pun akhirnya mendapat alasan untuk memenjarakan si kepala desa.
Kemudian, kita akan dibikin harap-harap cemas dengan kisah penangkapan besar-besaran warga desa oleh petugas keamanan kabupaten. Desa yang tenang tiba-tiba dikejutkan oleh pasukan keamanan yang berbondong-bondong dan menangkapi para warga yang keringatnya masih belum kering setelah bekerja sepagian di sawah. Dengan gaya penceritaan sekelas novel dalam alur mundur, Chen dan Wu pada bagian ini mengajak pembaca berharap-harap cemas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik drama penangkapan besar-besaran ini. Dan kita pun akan lega sekaligus miris ketika tahu bahwa penyebabnya adalah karena aparat desa memfitnah para petani telah melecehkan aparat! Ya, kepala desa memfitnah rakyatnya sendiri dan mengakibatkan ditahannya hampir separuh warga desa.
Selain ketiga kisah, masih ada beberapa kisah lagi yang pasti membikin kita geram.
Kita pun akan kaget dan tersenyum kecut ketika tahu bagaimana para aparat desa itu menarik pajak dari petani. Petani yang hidup serba kekurangan itu ternyata memiliki beban pajak yang sangat banyak dan berliku-liku. Chen dan Wu menghabiskan tiga halaman sendiri (halaman 238-240) untuk mengurutkan jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan para petani, mulai pajak yang bertedeng ‘pengumpulan dana’ hingga pajak yang dalihnya untuk ‘pelayanan sosial’. Tak cuma tiga halaman itu, masih ada dua setengah halaman lagi di mana Wu dan Chen menyebutkan jenis-jenis pungutan lain dalam paragraf-paragraf narasi. Berikut adalah salah dua contoh kalimat yang bisa mewakili bagaimana ‘pintarnya’ aparat menarik pajak: “Apabila [...] hendak memelihara seekor babi, maka [petani] harus membayar pajak ‘babi hidup,’ pajak pembunuhan babi, pajak ‘perolehan modal,’ pajak pendapatan dan PAJAK PEMELIHARAAN KECAMATAN. Di beberapa tempat, warga akan dikenakan pajak pemeliharaan babi, TAK PEDULI DIA MEMELIHARANYA ATAU TIDAK [CAPS LOCK dari saya]” (hal. 241). * * * Tak perlu didebat, keunggulan utama buku ini memang terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang rapat terbebat tirai bambu. Sebuah provinsi yang saking miskinnya—serta menjadi aib bagi Cina—hingga tidak boleh dikunjungi pihak luar, kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu. Tidak kecil masalah yang mereka tuai dari buku ini: edisi resminya dilarang beredar di Cina, salah satu bab yang membahas ‘kejahatan’ seorang pejabat di bab 4 membuat mereka dikenai tuduhan pencemaran nama baik dan dimejahijaukan, rumah mereka dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal selama lebih dari duapuluh hari berturut-turut dan petugas keamanan tidak menghiraukan permintaan mereka untuk dilindungi, dan Chen Guidi diminta mengundurkan diri dari pekerjaan yang menjadi sandang-pangannya.
Namun, mereka tetap menang karena buku ini telah dibaca berjuta-juta orang. Memang tujuan Chen dan Wu adalah agar orang-orang tahu apa yang sebenarnya menimpa kaum petani. Sebulan pertama setelah diluncurkannya buku ini, 150.000 eksemplar terjual habis. Di Indonesia, angka ini mungkin baru pernah menjadi mimpi para pemilik penerbitan. Di Cina yang penduduknya lebih dari 1,2 milyar pun angka ini terbilang luar biasa. Dan setelah pelarangan, masih 10 juta eksemplar lagi edisi bajakannya yang terjual di pasaran.
Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta itu disampaikan dengan permainan plot, deskripsi yang benar-benar mendekatkan kita dengan latar dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog-dialog yang semakin memudahkan pembaca membayangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Pramoedya Ananta Toer, dalam wawancara dengan Jurnal Prosa, pernah mengatakan bahwa dia menulis novel karena tidak ada yang mau membaca sejarah secara murni. Chen dan Wu mengisahkan kejadian-kejadian itu dengan plot dan deskripsi selayak novel, kecuali sebagian besar bab 5 yang lebih bersifat analitis. Dan banyak yang tertarik dengan penyampaian seperti itu. Kiranya, inilah yang membuat mereka memenangkan penghargaan Lettre Ulysses Award untuk Seni Reportase. * * * Setelah terbawa oleh pedihnya hidup para petani Cina kita pasti akan berpikir dua tiga kali lagi sebelum menyebut Cina sebagai negara yang besar. Dan dari provinsi Anhui, yang diketahui masyarakat internasional sebagai simbol kemajuan Cina karena menjadi tempat perakitan dan peluncuran roket angkasa “Made in Cina”, kita akan tiba pada kesimpulan getir: bahwa kesuksesan di kancah (ekonomi) internasional tidaklah selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat negara yang bersangkutan.
Data Buku: Judul : China Undercover: “Rahasia” di Balik Kemajuan Cina Penulis : Chen Guidi dan Wu Chuntao Penerbit : Ufuk Press Cetakan : I, September 2007 Tebal : xxvi + 362 halaman ISBN : 979-1238-51-9 
 | Category: | Books | | Genre: | Health, Mind & Body | | Author: | Arvan Pradiansyah |
Kata orang, salah satu tanda kiamat adalah ketika waktu berjalan kian cepat. Apakah sekarang kita merasakan waktu berjalan sangat cepat? Sepertinya begitu. Banyak dari kita beranggapan bahwa waktu 24 jam terasa kurang untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita. Kita sering merasakan tiba-tiba saja waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam sementara pekerjaan belum selesai. Nah, dalam hal ini tidak salah kiranya jika ada film yang berjudul Kiamat Sudah Dekat. Mungkin betul. Waktu kita memang berjalan sangat cepat.
Tapi bagaimana lagi, begitulah tuntutan dunia modern: karena dibayang-bayangi ketakutan tidak mendapat uang jika tidak ada pekerjaan, maka kita pun menyabet segala pekerjaan yang menghampiri kita. Hasilnya bisa ditebak: pekerjaan menumpuk, kita memaju diri untuk melaju kalau bisa melebihi kecepatan waktu, dan jika memang terlalu banyak kita pun mengeluh, “Andaikan sehari saya bisa lebih dari 24 jam.” Makanya, tidak heran jika ada orang yang bisa membeli segala tapi merasa tidak bahagia karena ke manapun pergi selalu dihantui pekerjaan.
Dalam kondisi seperti inilah buku Arvan Pradiansyah, Cherish Every Moment, menjadi penting. Arvan, seorang pembicara publik dalam pengembangan SDM, menyarankan satu cara untuk menangguhkan datangnya kiamat tersebut. Menikmati setiap momen, cherish every moment, adalah sebuah konsep yang dia tawarkan untuk berbahagia dalam hidup. Dengan merasai setiap momen yang berdetik dalam hidup, manusia akan merasakan dunia. Dengan menyadari berlalunya momen demi momen di dunia ini, manusia benar-benar menemukan dirinya sebagai human being (makhluk hidup), bukan human doing (makhluk bekerja). Dalam Cherish Every Moment yang merupakan versi buku dari acara talk show Arvan Pradiansyah berjudul Life Excellence yang disiarkan di jaringan Trijaya FM ini, setidaknya ada dua jenis langkah yang dianjurkan Arvan untuk membuat kita lebih bahagia hidup di dunia ini: jenis reaktif dan proaktif.
Yang pertama, yang lebih bersifat reaktif, Arvan mengajak kita menyadari lagi apakah kita merasakan banyak hal yang tidak beres dalam hidup kita. Dunia terasa berat ketika: banyak orang brengsek di sekitar kita, banyak sekali detil dalam hidup harus kita urusi, betapa sering kita gagal melakukan sesuatu, betapa banyak yang kita inginkan, betapa merepotkannya hal-hal di seputar kita, betapa terburu-burunya kita. Arvan mengajak kita untuk merenung dan melihat lagi apakah benar hal-hal negatif tersebut begitu memberatkan kita. Dan akhirnya, dengan argumentasi yang jernih dan lancar, Arvan menunjukkan bahwa: orang brengsek mengajari kita menjadi baik, tidak semua hal dalam hidup harus kita ributkan, betapa lebih baik kita menjadi orang yang menikmati ketimbang menjadi orang yang hanya memiliki tapi tidak bisa menikmati, dsb.
Dan yang kedua, Arvan mencoba mengajak kita melakukan tindakan proaktif mengubah diri: belajar memilih, menyadari bahwa kita harus berbuat baik, belajar memuji orang lain, menghindari penyakit hati, menikmati pekerjaan atau mencari pekerjaan lain yang membuat kita nikmat bekerja. Dalam bagian-bagian ini, Arvan mengajak kita merenungkan makna di balik hal-hal yang tanpa sadar kita anggap berat, seperti misalnya memaafkan, memuji, berdisiplin. Dengan uraian-uraiannya, kita jadi merasakan bahwa kebiasaan memaafkan, memuji, berdisiplin, dan sejenisnya itu bisa dilatih asalkan kita tahu makna di baliknya.
Dengan menyajikan uraian-uraiannya dalam bentuk wawancara, menyerupai talk show aslinya yang dipandu oleh Arvan dan seorang penyiar Trijaya FM, buku ini berhasil menjadi buku yang tidak membikin jenuh. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening karena membaca narasi yang berpanjang-panjang. Setiap kali akan beralih ke topik yang lain, selalu ada penanya yang memberikan jembatan yang asyik dan terasa akrab.
* * *
Di antara topik-topik yang disodorkan Arvan, beberapa terasa cukup menyentakkan kita, terutama yang terkait dengan ajaran agama. Arvan mengemukakan pandangan-pandangan yang seolah menyadarkan kita agar tidak menerima begitu saja gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh agama. Salah satunya adalah ketika Arvan mencoba mempertanyakan tentang lagu Aa Gym ‘Jagalah Hati’. Dengan argumentasi yang mudah dipahami dan faktual, Arvan menunjukkan bahwa menjaga hati adalah sebuah langkah yang ‘abstrak.’ Pasalnya, kita tidak tahu di mana hati itu berada. Maka dia menyodorkan bahwa yang sebenarnya perlu kita jaga adalah pikiran. Maka dia menganjurkan agar menjaga hati diganti dengan menjaga pikiran. Dengan begitu, anjuran Aa Gym menjadi lebih masuk akal untuk dipahami dan dijalankan.
Satu hal lainnya yang juga menonjol dari Arvan adalah dalam setiap gagasan yang ditawarkan, Arvan selalu berpangkal pada ajaran-ajaran yang sudah mengakar dalam agama. Kebetulan di sini Arvan beragama Islam. Jika dalam Islam kita mengenal penyakit hati (termasuk di antaranya, nifa’, riya’, khufur), maka Arvan menyodorkan penyakit AIDS (Arogan, Iri, Dengki dan Serakah). Di bagian lain Arvan menunjukkan tentang mencintai, juga tentang disiplin.
Bagaimanapun, berpangkal kepada agama jelas-jelas tidak membuat motivasi-motivasi yang diberikan Arvan menjadi kaku. Arvan selalu berpegang pada penalaran logis yang bisa diterima akal sehat. Bahkan, uraian-uraian Arvan terkadang menyentakkan karena seringkali kita mengambil begitu saja sebuah ajaran agama tanpa mempertanyakan penjelasan logis di baliknya. Untuk yang semacam ini, bacalah bagaimana dia membahas arti penting puasa, mohon maaf lahir batin, dsb. Dan lagi, Arvan begitu terbuka terhadap kebijaksanaan yang bisa ditemukan di mana saja. Lihat saja kisaran kutipan penuh inspirasi yang disajikannya: raja cerita moral Leo Tolstoy, Friedrich Nietzsche yang dikenal atheis, pendeta John patrick, penyair penyendiri Emily Dickinson, pelukis dan pematung Yunani Epictetus, Mahatma Gandhi dan banyak lagi.
Setelah bersama Arvan memperbincangkan cara memaknai hidup dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, mau tak mau kita akan introspeksi lagi: apakah kita tidak terlalu berlebihan mengeksploitasi waktu kita sehingga kita merasa kekurangan waktu untuk pekerjaan-pekerjaan kita? apakah kita sudah cukup berdisiplin? apakah kita sudah cukup bisa membuat bahagia orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga? apakah sudah tepat strategi kita mengatasi permasalahan-permasalahan di sekitar kita?
Dengan itu, semestinya kita bisa merencanakan lagi langkah-langkah yang perlu kita ambil agar kita tidak terlalu tenggelam dalam pekerjaan namun juga tidak terlalu membiarkan diri kita terbawa kemalasan, agar detik demi detik dalam hidup kita tidak berlalu dengan sia-sia. Dan kapan pun kiamat datang tidak akan jadi soal buat kita, karena kita sudah bisa menyelesaikan tanggungan-tanggungan dalam hidup kita dan kita sudah berarti bagi orang lain.
Data Buku: Judul : Cherish Every Moment: Menikmati Hidup yang Lebih Indah Penulis : Arvan Pradiansyah Penerbit : Elex Media Komputindo Cetakan : I, 2007 Tebal : xxii + 322 halaman ISBN : 978-979-27-0860-8 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Mashuri |
Saya tak habis pikir: Kenapa ada beberapa (atau bahkan banyak) kritik yang memandang miring Hubbu? Kenapa ada yang sampai bilang ‘Hubbu bikin malu’? Kenapa ada yang bilang ‘Hubbu biasa-biasa saja’? Maaf jika saya menebak: Apakah ada orang yang sirik dengan kemenangan Mashuri mendapatkan posisi senilai 15 juta di sayembara roman DKJ? Apakah karena isi novel ini hanya berkutat di seputaran Jawa Timur yang kurang eksotis secara konflik maupun fisik? Apakah karena tidak ada kutipan dari karya sastra luar negeri dan nihil catatan kaki dalam novel ini? Wah, kayaknya kita harus membiarkan dulu novel ini berbicara. Apa pembacaannya kurang dekat, kalah dekat dengan yang disarankan Nirwan Dewanto? Yang jelas saya tidak tahan untuk mengatakan apa yang telah diucapkan novel itu kepada saya. Maaf, jika pesan dari novel itu banyak yang tereduksi ketika melewati saya. Maaf juga jika ternyata saya yang terlalu sok tahu telah menafsirkan bahwa kata hati saya sendiri adalah apa yang dikatakan novel itu.
Hubbu mengangkat keterpecahan. Jarot, yang berasal dari keluarga santri dan dididik ilmu-ilmu agama yang dia resapi pada masa kecil, berkenalan dengan ilmu-ilmu Jawa yang juga menggelitik saraf penasarannya. Karena ketertarikan yang seimbang di antara keduanya, maka Jarot pun berkonflik dengan keluarga yang lebih condong mengarahkannya belajar ilmu agama dan membebaninya dengan ‘gadang-gadang’ akan menjadikannya pewaris sejati pesantren keluarga. Dengan hubungan yang tidak gamblang, akhirnya konflik tersebut membuatnya memilih ‘kabur’ dari rumah untuk kuliah di Surabaya. Di masa-masa kuliahnya, internalisasinya terhadap Islam menjaganya untuk tetap menghindari dosa-dosa terlaknat (selain mabok, yang sepertinya tidak terlalu laknat); sementara juga, kegelisahannya terhadap ilmu Jawa tersalurkan dengan kebebasannya mengambil matakuliah bahasa Jawa, membaca serat-serat Jawa, dan membebaskan jiwanya memilih berdasarkan kata hati setiap kali harus membuat pilihan, sebagaimana yang dianut orang-orang yang mengikuti ilmu-ilmu Jawa. Sementara fasih ilmu nahwu-sorof, ilmu kunci memahami ajaran Islam dengan tangan pertama, dia juga sibuk mengejar obsesinya atas Sastra Gendra. Pada saat itu juga, pemahamannya atas ajaran Islam membuatnya mempersalahkan diri dengan keras kepala setiap kali dia melakukan dosa yang dia anggap laknat. Dan sebuah dosa laknat pada akhirnya membuat dia meninggalkan tanah Jawa, sambil membawa obsesinya atas Sastra Gendra, sebuah obsesi yang dia bawa hingga akhir hidup. Dan kelak, Aida, putrinya yang ‘terpilih’, yang juga mengalami konflik keterpecahan identitas, melanjutkan pencarian ayahnya itu untuk menyingkap sendiri inti di balik frase Sastra Gendra itu.
Nah, seutuh itulah novel yang banyak dikritik tersebut. Mungkin itu yang membuat para dewan juri sayembara roman DKJ menyebutnya sebagai novel yang utuh. Keutuhannya menuntaskan tema keterpecahan orang Islam Jawa bisa dilihat dalam konflik-konfliknya sejak awal. Lihatlah: bagaimana dia memandang sekolah Islam (madrasah) dan sekolah Jawa (SD negeri), antara ajaran Wak Tomo yang kejawen dan ajaran Mbah Adnan/Mas Amin yang Islami.
Banyak yang melihat bahwa orang Jawa (mungkin juga orang suku lain) mengalami dilema ketika menghadapi Islam pada banyak masa. Bagi yang pengaruh lingkungan Jawanya masih kuat, mereka seringkali tidak meninggalkan praktik-praktik membuat sesajen berisi bunga tiga/tujuh rupa ditambah gambir dan mata uang untuk dilarung di kali; sangat banyak yang masih memperingati tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari dan seribu hati wafatnya seseorang; ada yang masih menyediakan kopi dan jajanan di satu kamar kosong di rumahnya. Tapi banyak sekali dari mereka ini yang sudah khatam Al-quran (meskipun hanya baca dalam bahasa Arab tanpa pernah sekalipun mempelajari artinya); tak sedikit yang sholat lima waktu. Bagi yang benar-benar memilih Islam, mereka tinggalkan praktik-praktik yang berbau Jawa dan menganggapnya bid'ah dan hanya menjalani apa yang secara garis besar disinggung dalam Al-quran dan secara gamblang dibeberkan dalam hadits. Bagi yang memilih mempelajari keduanya dan menimbang manfaat dan mudarat masing-masing praktik, mereka akan menjalankan syariat Islam sambil juga tetap memperingati tujuh-tiga-empat puluh hari dengan niatan yang sudah direvisi, masih menganggap penting kesenian wayang yang juga warisan para sufi Wali Songo, masih suka berziarah kepada leluhur dan Wali.
Jika saja kita menyadari hal-hal di atas, jika saja kita awas bahwa itulah yang terjadi dan menjadi ‘masalah’ dalam keislaman orang Jawa, mungkin kita bisa melihat Hubbu dengan lebih bijak. Mungkin, lagi-lagi cuma mungkin, jika kita memandang Hubbu dalam kaitannya dengan fenomena Jawa-Islam seperti halnya membaca Ronggeng Dukuh Paruk dalam kaitannya dengan G30S/PKI, atau memandang Saman dalam kaitannya dengan manusia jaman reformasi, atau memandang Laskar Pelangi dalam kaitannya dengan krisis kejujuran dan kebanggaan anak muda akan masa lalu dan negeri sendiri, atau memandang The Catcher in the Rye dalam kaitannya dengan kemunafikan manusia kapitalis dan kegelisahan remaja Amerika tahun 50-an, mungkin Hubbu tampak penting di mata kita meskipun dia tak menang di Sayembara manapun.
Prihatin juga rasanya saat membaca sebuah resensi yang mengkritik Hubbu karena dia bukan jenis karya yang ‘membuat [dia] resah saat cerita akan berakhir’, atau karena ‘kutipan puisi berbahasa Jawanya tidak disertai terjemahan’. Memang sangat sah jika dalam kritik itu yang menjadi tolok ukur adalah rasa. Memang, tidak ada yang bisa melarang, H.B. Jassin pun tidak. Tapi, jika kritik tersebut tidak disertai dengan uraian tentang hal-hal macam apa yang membuat si pengkritik biasanya resah saat sebuah cerita bagus akan berakhir, rasanya kritik itu masih belum pantas untuk menjadi konsumsi publik. Dan untuk alasan kedua, silakan simpulkan dari dua paragraf berikut.
Bisa jadi orang memandang miring Hubbu karena melihat novel ini secara bentuk, secara struktur, secara gaya penceritaan. Cerita disajikan dari berbagai sudut pandang yang polanya acak, berbeda dengan cara Sitok Srengenge dalam Menggarami Burung Terbang atau James Joyce dalam Ulysses. Di bagian awal ada prawayang yang mengingatkan kita pada saat mengawali Burung-burung Manyar. Selanjutnya ada yang disampaikan dari orang pertama, dari mata Jarot. Di bagian lain ada penceritaan orang ketiga dengan teknik ‘alur kesadaran’. Di banyak bagian lain bisa ditemukan penceritaan oleh orang pertama tapi bukan Jarot. Pada bab-bab tertentu cerita disajikan lewat surat-surat atau terkadang buku harian. Keacakan serupa ini memang menjadikan novel tampak tidak rapi, berbeda dengan Saman yang, meskipun cerita bolak-balik dari masa lalu ke masa kini, tetap menggunakan gaya bahasa yang tak jauh berbeda, sehingga membuat seorang kritikus menyebutnya memiliki komposisi ‘belum pernah ada di Indonesia’. Maka, banyak pembaca—khususnya yang ingin cerita dalam bentuk jadi, sudah matang—menganggap novel ini kurang bagus. Padahal, kita bisa saja menghubung-hubungkan keacakan itu dengan inti sari konflik. Bagaimanakah?
Hubbu mengisahkan pencarian manusia yang gelisah akan identitasnya sehingga dia pun mencari melalui berbagai jalur; begitu pula kita pembaca, kita harus memahami cerita novel ini melalui berbagai jalur penceritaan. Kita harus mengikuti cerita kadang dari cerita wayang, kadang dari penuturan Jarot, ada kalanya dari ‘mata Tuhan’, pernah juga dari orang-orang sekitar Jarot (bahkan dari para kekasih Aida anak Jarot), atau lewat wawancara, bahkan lewat surat-menyurat Jarot dengan Istiqomah maupun Teguh. Ditambah lagi pengutipan Sastra Gendra versi penyair bahasa Jawa Budi Palopo tanpa terjemahan atau anotasi, kita akan dengan mudahnya—atau dengan malasnya?—menganggap novel ini tidak bisa menyampaikan cerita secara benar. Untuk menjawab ini, saya ingin mengutip kata-kata Budi Palopo ketika diwawancarai Jarot tentang sulitnya memahami Sastra Gendra: ‘Aja golek matengan ae, Cuk!’ Ya, mungkin bijak jika kita tidak hanya minta jadinya saja. Mashuri kiranya meminta kita untuk sedikit berpikir, sedikit mencari referensi tentang Sastra Gendra dari buku atau Google. Dia mungkin meminta kita membaca lebih dekat—atau bila perlu lebih dari sekali—untuk bisa menafsirkan novel ini, meskipun dengan tafsir kita sendiri. Jika Ulysses yang didapuk sebagai buku sulit sekaligus buku terapik abad ke-20 saja tidak punya satu pun catatan kaki, pantaskah kita menuntut semua buku di seluruh dunia untuk memberikan catatan kaki pada setiap kata sulit atau kata lokal yang dipakainya? Catatan kaki hanyalah pilihan yang bisa dipakai atau tidak dipakai penulis. Lucunya, pernah juga terdengar pihak-pihak yang menganggap sok ilmiah novel-novel yang punya catatan kaki, termasuk novel Olenka.
Satu hal menarik adalah hubungan antara judul, Hubbu, yang artinya cinta, dengan isi novel. Meski secara jelas isi novel ini tidak menyinggung-nyinggung kata Hubbu, apalagi mendefinisikannya, kita bisa merasakan ‘hubbu’ ada dalam setiap lembar buku ini. Cinta Jarot kepada dua tegangan-tegangan di sekitarnya adalah baling-baling penggerak novel ini. Cinta membuat diri Jarot (dan juga Aida) terbelah dan cinta juga yang memberikan jalan untuk belajar: antara Islam dan Jawa, antara gadis Istiqomah dan si binal Puteri, antara Alas Abang dan Surabaya, antara hanacaraka dan hijaiyah, antara Roi dan Hengki, Mbah Adnan/Mas Amin dan Wak Tomo, antara Ampel dan kampus, dst.
Pada akhirnya: jika dipahami dengan sedikit berjuang, Hubbu, dan juga teks-teks lainnya mungkin akan menampakkan potensinya. Jika saja kita melihat Hubbu sambil melepaskan asumsi bahwa sastra adalah susunan kata-kata yang mengantarkan cerita menawan hati dengan cara yang rapi sesuai kaidah, saya yakin kita tidak akan buru-buru menghakimi novel ini.
Judul : Hubbu Penulis : Mashuri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : I, Agustus 2007 Hal : 237 ISBN : 979-22-3125-0 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Chart Korbjitti |
/1/ Chart Korbjitti adalah penulis yang terpandang di sastra Thailand. Hal itu dibuktikannya dengan keberhasilannya menggondol SEA Write Award dua kali: pada tahun 1982 dengan novel The Judgement dan pada tahun 1994 dengan novel Time. Namun, sayangnya, di negara-negara sekitarnya pun dia masih sangat kurang dikenal. Padahal, dia memiliki karakter yang sangat unik dan menantang untuk dibaca.
Dengan gaya naratif yang selalu segar dan tak standar dalam setiap novelnya, Chart Korbjitti adalah satu diantara sejumlah sastrawan yang bergaya tutur unik di Asia Tenggara. Masing-masing novelnya memiliki gaya tutur unik yang berhubungan dengan tema yang sedang dibawanya. Pada novel pertamanya yang memenangkan penghargaan di atas, The Judgement, dia mengeksplorasi tema rasa bersalah dan membuat sebuah gaya naratif yang diilhami dari rasa bersalah tersebut. Namun, pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas novel Time dimana dia mencoba menggabungkan gaya penulisan novel dengan drama dan film. Berikut ini, saya akan uraikan novel tersebut mulai dari ringkasan, lalu gaya naratif yang membuat bentuk novel ini unik, dan pada akhirnya adalah tema novel tersebut.
/2/ Time bercerita tentang protagonis, seorang sutradara kawakan, yang menyaksikan sebuah pementasan drama tentang orang-orang tua penghuni panti jompo yang dimainkan oleh anak-anak muda berusia dua puluhan. Pada awalnya protagonis heran bagaimana mungkin anak-anak muda berusia dua puluhan tertarik menyajikan drama tentang inner feeling orang-orang tua, sementara dia sendiri yang usianya menginjak enam puluh tiga tahun malah ingin membuat film tentang anak-anak muda. Dalam keheranannya ini juga, protagonis meragukan kualitas drama yang dia saksikan tersebut. Namun, sejak awal pula dia menyatakan bahwa dia memang sangat tertarik untuk menonton drama tersebut karena sebuah ulasan yang mengatakan bahwa pementasan itu disebut sebagai “pementasan paling membosankan sepanjang tahun.” Saking tertariknya, dia dengan sengaja meluangkan waktunya untuk menonton drama tersebut setelah menyelesaikan pengambilan gambar film terakhirnya.
Drama yang disaksikannya menggambarkan kejadian sehari penuh yang bisa terjadi kapan saja di sebuah panti jompo yang berisi Nini Nuan, Nini Bunrunean, Nini Jan, Nini Sorn, Nini Erp, Nini Thapthim, Nini Yoo, beberapa nini lain yang tak lagi bisa bangun, dan seorang lelaki tua kurang waras yang ditempatkan di sebuah sel khusus di ruangan yang sama. Pementasan dibuka dengan jam menunjukkan pukul 4.45 pagi. Jam, yang kecepatan beputarnya dimodifikasi ini, akan terus menandai waktu selama pementasan berlangsung dan nampaknya menjadi sebab mengapa novel ini berjudul Time. Hari tersebut diawali dengan bangun pagi dan dilanjutkan dengan ritual mandi. Kemudian sebuah keributan kecil ketika salah seorang penghuni panti jompo melaporkan bahwa dia kehilangan sejumlah uang. Lalu datangnya seorang penjaja makanan keliling. Kemudian kedatangan biksu yang memberikan berkah kepada semua penghuni panti jompo tersebut. Seorang bocah penjaja makanan dan minuman keliling juga datang setelahnya. Sedikit siang, sebuah keluarga besar datang dengan tujuan merayakan ulang tahun si nenek, yang ternyata adalah mantan pembantu di keluarga Nini Bunrunean. Kemudian, agak sore, seorang pemuda kurang waras putra Nini Thapthim. Selanjutnya ada acara mandi sore. Dan, sebelum drama ditutup, diketahui bahwa Nini Yoo, salah satu penghuni yang tak lagi bisa diajak berkomunikasi, meninggal dan seketika itu juga diurusi dan dibawa ke kuburan oleh warga desa.
Selama menyaksikan pementasan tersebut, protagonis tak kurang-kurangnya memberikan tanggapannya tentang drama yang dia saksikan, yang sebagian besarnya untuk menunjukkan bahwa dia kurang puas dengan drama tersebut. Pada bagian awal, dia merasa kesal karena terciumnya aroma pesing ketika drama baru saja dibuka. Kemudian, dia ingin protes karena diharuskan menunggu lama sebelum terdengarnya dialog pertama, menunggu sampai jam yang ada di atas panggung benar-benar menunjukkan bahwa lima menit telah berlalu—padahal lima menit bukanlah waktu yang pendek jika dihabiskan dengan menyaksikan panggung kosong. Dia menganggap bahwa hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan buang-buang waktu dan merupakan sesuatu yang akan lebih baik jika digarap sebagai sebuah film. Menurutnya, jika digarap sebagai film, penonton tidak harus benar-benar menunggu selama lima menit karena jam bisa dipercepat begitu saja dan juga teknik pengambilan gambar akan membuat penonton tidak begitu merasa bosan. Selanjutnya, sebagian besar ketidakpuasannya dalam menyaksikan drama tersebut adalah karena dia memiliki anggapan bahwa hal-hal yang kurang dalam drama tersebut akan sangat mudah teratasi jika tema yang sama digarap dalam bentuk film. Namun, ada juga bagian ketika dia, tanpa alasan yang jelas, ingin menerjemahkannya sebagai film buatannya.
Adakalanya juga protagonis teringat hidupnya sendiri saat sebuah adegan merangsangnya untuk mengingat kembali sebuah momen dalam hidupnya. Ketika seorang penjaja makanan keliling mengatakan “dia terlihat sehat hari ini, tapi jangan bicarakan itu sebab akibatnya bisa buruk”, dia segera teringat tentang firasat buruk yang dia dapatkan ketika putrinya meninggal. Ketika melihat penghuni-penghuni tak berdaya yang disuapi, dia segera teringat ketakutannya tentang bagaimana dia nanti ketika sudah tua renta sementara anak dan istrinya sudah meninggal. Hal itu juga berlanjut dengan bagaimana dia dulu mencoba menghindari dunia dengan cara tenggelam ke dalam kubangan minuman keras ketika istrinya meninggal. Bagian-bagian semacam inilah yang membuat kita mengenal protagonis dengan gambaran yang terpisah-pisah namun komprehensif tentang kehidupan protagonis—dan, memang sudah semestinya, meyakinkan kita bahwa buku ini memang sebuah novel meskipun sepertiganya ditulis dalam bentuk drama dan seperti lainnya dalam bentuk skrip film.
/3/ Sungguh, yang paling menonjol dari novel ini adalah gaya naratifnya yang unik. Pada pandangan pertama, kita bisa lihat bahwa di dalam buku ini tidak hanya ada paragraf-paragraf sebagaimana umumnya dalam novel; melainkan ada juga bagian-bagian yang dipenuhi dialog-dialog yang diawali dengan nama tokoh yang mengucapkannya sekalian dengan dalam posisi, ekspresi atau gerakan apa dialog itu musti diucapkan. Sedikit lebih masuk lagi, kita akan mendapati bahwa ternyata ada bagian yang mirip naskah drama namun dilengkapi dengan petunjuk dengan istilah-istilah yang hanya ada dalam sebuah skrip film. Tampaklah disini: kali ini Chart mencoba gaya naratif yang menggabungkan antara novel, drama dan film.
Pada bagian yang bercita rasa novel, kita akan membaca uraian-uraian deskriptif. Pada umumnya, bagian yang seperti ini berisi apresiasi protagonis terhadap drama yang disaksikannya. Dia memberikan kritikannya secara verbal pada bagian-bagian seperti ini. Dia juga mengisahkan bagian-bagian penting dalam hidupnya pada bagian ini juga, pada umumnya setelah ada sesuatu di dalam drama tersebut yang membuatnya teringat dengan momen-momen tersebut. Sebagai hasilnya, pada bagian-bagian yang mempunyai bentuk fisik novel inilah kita akan mendapati kisah hidup protagonis. Pada bagian-bagian tersebut, novel memang sedang menjalankan tugasnya sebagai novel. Namun, ada juga bagian-bagian drama yang diceritakan si protagonis dalam bentuk dialog normal sebuah novel. Ini biasanya juga disertai interpretasi protagonis atas sikap atau tindakan tokoh-tokoh drama yang sedang disaksikannya.
Sementara itu, pada saat yang lain, kita benar-benar seperti membaca sebuah naskah drama. Inilah saatnya ketika protagonis melaporkan tentang pementasan drama yang sedang dia saksikan. Pada bagian ini, protagonis seakan-akan membiarkan naskah drama berbicara sendiri kepada pembaca, sementara protagonis menghilang sementara waktu sampai ada sebuah bagian drama tersebut yang merangsangnya mengingat sesuatu yang pernah terjadi di kehidupannya pada masa lampau—biasanya dilanjutkan dengan narasi protagonis yang berbentuk novel seperti yang saya sebutkan terdahulu.
Yang tak kalah uniknya adalah bagian-bagian ketika kita benar-benar seperti membaca sebuah skrip film. Secara keseluruhan, bagian ini ada sebagai hasil interpretasi protagonis atas drama yang disaksikannya dengan cara yang dia inginkan. Sebagaimana di atas, interpretasi ini dilakukan utamanya karena dia tidak puas dengan penggarapan drama tersebut. Bahkan, ada saatnya ketika dia menganggap bagian-bagian tertentu bukanlah milik drama, melainkan milik film, dan karenanya akan lebih baik jika digarap sebagai film. Pada suatu bagian, panggung hanya berisi satu orang yang merenung dalam waktu lumayan lama. Pada saat ini, dia mengganggap bahwa menghabiskan waktu sebanyak itu hanya untuk memandang seorang wanita yang terlihat kecil dibandingkan ukuran panggung semestinya bisa dihindari andaikan cerita itu digarap sebagai film. Di film, wanita yang merenung itu akan bisa tampak tak menjemukan karena pengambilan gambar bisa dilakukan dari berbagai tempat dan dengan jarak pengambilan yang juga beragam.
/4/ Secara garis besar, tema yang dibawa novel ini adalah bagaimana inner feeling orang-orang tua menghadapi dunia dengan segala carut-marutnya dan bagaimana generasi tua memandang generasi yang lebih muda—yang seringkali menghasilkan generation gap. Terlihat bagaimana generasi tua dalam novel tersebut mempunyai masalah sendiri-sendiri dengan generasi muda yang berada di lingkaran kehidupan mereka, baik itu generasi tua dalam drama maupun yang berada di luar drama, si protagonis sendiri. Hubungan antara generasi tua dan muda di sini bisa dikatakan sangat jelas dan pada saat yang sama juga sangat kompleks karena ada dalam berbagai lapisan. Namun, kita akan mendapatkan serpihan-serpihan kebijaksanaan yang menyentuh yang hanya bisa muncul dari mulut orang-orang yang benar-benar telah menapaki jengkal-jengkal kehidupan lebih banyak dari generasi muda. Banyak diantara yang bisa membuat kita nyengir.
Generation gap pertama menunjukkan jarak antara si protagonis novel dengan anak-anak muda yang mementaskan drama “paling membosankan sepanjang tahun” tersebut. Jarak ini berupa perbedaan selera protagonis dengan para pemuda tersebut. Protagonis adalah jenis sutradara yang menggarap film-filmnya dengan estetika konvensional dimana segala hal muncul dalam sebuah film—dan karenanya juga drama—harus melalui penyaringan keelokan dan kebergunaan; sementara itu anak-anak muda yang mementaskan drama tersebut menurut protagonis cenderung menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang bersifat sensasional dan memandang kebergunaan bukan sebagai satu-satunya ukuran. Jika suatu bagian, misalnya aroma pesing yang menyebar ke gedung pertunjukan sepanjang pementasan tersebut, kurang memberikan nilai guna yang jelas kepada penonton dan bahkan hanya membuat penonton jemu, maka akan lebih baik jika bagian itu tidak disajikan meskipun toh itu sebuah terobosan baru dan sensasional. Pada lain kesempatan, terdapat hanya seorang tokoh cerita di atas panggung tanpa adanya monolog. Mungkin, hal ini termasuk sesuatu yang kontemporer dalam drama. Namun, bagi protagonis, yang menganggap hal itu hanya menambah kejemuan, hal tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh sutradara. Sebagai solusinya, dia menyatakan bahwa hal itu mungkin tidak akan jadi sebuah masalah jika saja itu adalah sebuah film, karena untuk menyajikan keadaan sepi tersebut sutradara bisa menggunakan fitur film, yaitu permainan kamera, untuk membuatnya variatif: gambar bisa diambil dengan “close up”, “medium range”, “fade in”, “fade out” dan sebagainya.
Setelah mengupas lapis pertama, tibalah kita pada lapis kedua generation gap dalam novel ini: yaitu jarak antara generasi tua dan generasi muda yang ada dalam cerita drama tersebut. Memang, bisa dibilang generasi muda yang tak disenangi generasi tua di sana tak muncul sama sekali, namun perbincangan tentang perbedaan generasi muda dan tua ini sangat jelas tersebar dari awal hingga akhir buku. Generasi muda yang benar-benar memiliki wujud—dan tentu saja dialog—dalam drama tersebut adalah generasi muda yang bisa dibilang dekat dengan orang-orang tua tersebut, tidak berjarak. Memang, pemuda macam apa, jika bukan pemuda yang perhatian dengan orang-orang tua, yang bersedia menghabiskan waktu mudanya bekerja di sebuah panti jompo? Generation gap yang disinggung di sini adalah gap antara orang tua dengan pemuda yang membuat susah hidup orang-orang tua tersebut. Sederhananya, kita bisa bilang bahwa drama ini juga menyinggung generasi muda yang tak menunjukkan rasa terima kasihnya kepada generasi tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan memberikan pendidikan bagi mereka. Old Thapthim mengaku terdampar di panti jompo tersebut karena sebelumnya menjadi bola sepak takraw yang berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya tanpa pernah turun—dan panti jompo seperti rumput hijau tempat beristirahatnya bola sepak takraw. Namun waktu itu dia benar-benar tanpa beban memasuki panti jompo karena putranya yang tak waras sudah dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa—meskipun akhirnya anaknya juga kabur. Ada juga yang tiba-tiba diantarkan ke depan pintu panti jompo oleh seorang sopir taksi yang dibayar anaknya untuk mengantarkannya ke sana—tanpa tahu pasti alasan si penyuruh.
Yang terakhir, kita bisa juga merasakan bagaimana si protagonis sendiri bermasalah dengan para pekerja film yang lebih muda. Sebagaimana saya singgung di atas, hal itu berhubungan dengan selera film si protagonis yang bisa dibilang “baik-baik saja” dan menekankan keseimbangan antara keelokan dan kegunaan adalah keniscayaan, sementara itu generasi muda lebih memilih sesuatu yang tak biasa saja, tanpa mempertimbangkan signifikansi ketidakbiasaan tersebut. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menyikapi dengan dingin cerita kawannya, seorang sutradara muda yang dalam satu syutingnya memutuskan untuk mengambil gambar kaki sepasang kekasih yang berjalan-jalan pada awal masa pacaran sementara hanya suara keduanya saja yang terdengar mengiringi selama perjalanan tersebut. Di satu kesempatan lainnya, dia menyatakan kurangnya rasa simpatinya kepada para pekerja film muda yang membuat film yang menjemukan hanya untuk melihat ekspresi penonton.
Begitulah inner feeling generasi tua digambarkan dalam Time, dengan berbagai jenisnya. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Ben Okri |
Andaikan Pak Leo Lumanto mahir menulis novel, dan dia melakukannya sebelum tahun 1991, dan dalam bahasa Inggris, dan distribusinya sampai ke Inggris, tidak mustahil pemenang Booker Prize tahun 1991 adalah Leo Lumanto. Saya yakin Saudara sekalian tahu ke mana arah mimpi saya kali ini. Ya, tentang novel pemenang Booker Prize 1991, atawa The Famished Road, atawa karya Ben Okri, atawa novel yang berkisah tentang alam roh di Afrika.
The Famished Road, yang terjemahan Indonesianya baru terbit bulan Juli kemarin, berkisah tentang Azaru, seorang anak kecil yang sebenarnya adalah abiku, roh yang suka lahir menjadi manusia dan kemudian mati lagi sebelum beranjak dewasa. Nah, pada kesempatan yang diceritakan dalam The Famished Road ini, si abiku, Azaro, memutuskan untuk tidak mati dulu, dia tidak ingin melihat ibunya menderita karena harus berulangkali melahirkan anak dan melihat si anak mati sebelum dewasa. Jadinya, dia pun diteror sama teman-temannya sesama abiku di alam roh, mereka memaksanya agar mati dan melakukan segala cara agar nyawanya melayang.
Terus, yang bikin saya menghubung-hubungkan The Famished dengan dengan Pak Leo Lumanto (dengan segala hormat, pak) adalah: di dalam novel ini banyak sekali diceritakan si Azaro memasuki alam roh dan mendeskripsikan apa-apa saja yang dia lihat di sana. Memang sih, deskripsi hantu di sana agak beda sama kita: ada seorang bocah yang wajahnya rusak separoh karena kecelakaan, ada yang berwujud manusia dengan mata gelap, ada hewan serupa anjing tapi berekor ular (mengingatkan kita pada mantikor dalam beberapa versi mitologi Yunani), ada seorang tua yang kuku kakinya seperti kuku binatang buas. Agak beda dengan yang diceritakan pak Leo dalam acara Percaya Nggak Percaya: ada pocong, perempuan berwajah pucat, k... (hii..., saya sendiri jadi ngeri kalau melanjutkan ini).
Dalam pengantar, Eka Kurniawan (salam kagum!) menyebutkan bahwa Ben Okri berhasil mencuri tradisi literer barat untuk menulis buku ini. Dan Eka Kurniawan juga menyebutkan bahwa ada jejak-jejak Gabriel Garcia Marquez di sini. Mungkin. Sepengetahuan saya (yang cuma baca beberapa saja cerpen dan novel Marquez), saya merasakan kemiripannya ada pada Roh sang guru peramal yang suka hadir di kamarnya meski sudah mati (wah, saya kok lupa apa lagi ya yang sama?). Pemberi komen lainnya mengatakan novel ini realisme magis ala Afrika. Bisa juga mungkin disebut begitu, karena novel ini memang meniupkan aroma realis (mengisahkan realitas yang terjadi, termasuk juga kritik-kritik sosial dan ideologisnya) dan menghembuskan aroma magis yang deras (cerita-cerita tentang alam roh).
Nah, yang seperti itu kemudian membuat saya tersentak. Ternyata lagi-lagi kita kalah langkah, kalah jujur. Pertama kalah sama El Boom, ledakan sastra Amerika Latin realisme magis, yang secara bahan sebenarnya tidak jauh-jauh amat dengan apa yang kita alami di negara kita. Amerika Latin diakuisisi secara budaya oleh bangsa Eropa dan kepercayaan-kepercayaan leluhur--termasuk hubungan antara manusia dan makhluk gaib--menjadi terdesak. Rasionalitas mengganyang spiritualitas dan supernaturalitas. Di Indonesia, infiltrasi budaya profan sedikit demi sedikit menggerus spiritualitas dan supernaturalitas (meski sebenarnya supernaturalitas pernah muncul di tivi sebagai komoditas, barang, tak beda nilainya dengan jualan syampo). Tapi sayang, orang-orang Indonesia modern kalah cepat mengeksplorasi dunia supernatural untuk dituangkan ke dalam sastra (kecuali cerpen-cerpen di majalah Liberty diterima sebagai sastra!). Jadinya Amerika Latin meraja dengan realisme magisnya. Dan kekalahan kedua kita adalah kalah cepat sama Ben Okri yang sudah berani menuliskan alam gaib pada tahun 1991 dengan penggambaran yang jernih dan semangat bercerita yang hidup sepanjang novel.
Jadi, kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita tidak perlu terlongong-longong dengan isi One Hundred Years of Solitude atau The Famished Road. Secara bahan sebenarnya kita ini punya yang tak kalah hebat ketimbang mereka. Kita "hanya perlu" sangat kagum kepada mereka karena keberanian mereka mengungkapkan apa yang mereka miliki dan menuangkan protes tidak dengan emosi meletup-letup dan menghangat-hangat tahi ayam. Kepada diri saya, saya berpesan untuk belajar dari mereka bagaimana memposisikan yang supranatural (yang tidak semua orang percaya tapi diyakini mati-matian ada oleh sebagian orang yang tak sedikit jumlahnya) sehingga hal-hal itu menampakkan signifikansinya ke dalam kehidupan nyata.
Untunglah di antara kita orang Nuswantara ini ada yang telah mencerap semangat itu dan menuangkannya dalam tulisan-tulisan dia. Ya, saya tahu Anda akan bilang Eka Kurniawan. Ya, memang dia yang saya maksud. Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau menunjukkan berkas-berkas saripati semangat El Boom.
Membaca Ben Okri, saya jadi sedikit menyesal (sedikit saja, toh sudah terlewat!) kenapa saya dulu tidak terlalu memperhatikan apa yang dipercaya ada oleh Pak Leo Lumanto dan beberapa orang lainnya. Sungguh, bukan saya mengajak kembali tenggelam ke dalam kegaiban, bukan. Saya hanya ingin bersikap begini: kalau memang menurut sejumlah orang hal semacam itu ada, dan bisa disampaikan untuk membuka kesadaran orang atau untuk menyampaikan kritik-kritik halus, kenapa tidak kita lakukan? Sepertinya begitu moral dari luar cerita.
Isi The Famished Road sendiri? Keunggulan-keunggulan sastrawinya? Akrobat-akrobat literernya? Sebagus apa terjemahannya? Sepertinya lain kali ya. Sementara wacananya saja dulu. Kalau Anda sekalian sabar, silakan tunggu barang seminggu untuk membaca versi seriusnya, secara minggu ini saya sibuk banget (halah!!! kok pakai gramatika jakartaaaaaa!!!). Sugeng midangetaken.
Data Buku: Judul: The Famished Road Penulis: Ben Okri Penerjemah: Salahuddien Gz Penerbit: Serambi Tebal: 800-an 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Ratna Indraswari Ibrahim |
Seorang penulis perempuan mendapat penghargaan Perempuan Berprestasi dari Menteri Negara Urusan Perawan Wanita pada tahun 1999, tetapi dia menolaknya. Ya, penulis itu adalah Ratna Indraswari Ibrahim (lebih akrab dipanggil Mbak Ratna). Dan saya tidak tahan untuk mengulang kembali insiden penolakan itu di sini. Rasanya seperti mengingat Rabindranath Tagore yang menolak gelar Sir dari kerajaan Inggris. Juga mengingatkan pada penulis Boris Pasternak yang menolak anugerah nobel (bedanya, Boris Pasternak menolak penghargaan karena ada tekanan dari pemerintah Kremlin, Rusia). Mbak Ratna seolah memperjuangkan kepentingan kaum tertindas (termasuk perempuan) dalam karya-karyanya. Mungkin, hanya mungkin, dia merasa belum tiba saatnya menerima penghargaan, sementara perjuangannya masih jauh dari akhir.
Mbak Ratna, penulis ekstra-produktif itu, meluncurkan sebuah buku lagi, kali ini bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-48. Buku itu berjudul Batu Sandung, sebuah buku mungil kumpulan tiga novelet yang ditulisnya sekira tahun 80-an. ‘Batu Sandung’ sendiri adalah judul novelet yang pertama disajikan di sini. Dua novelet lainnya adalah ‘Garis Ibu’ dan ‘Hari-hari yang Tercecer’.
Melihat dari sekira 400 cerpen yang telah dibuahkannya, orang-orang memandang Mbak Ratna sebagai penulis berwawasan feminis. Bisa jadi benar. Namun, Mbak Ratna sendiri mengakui dalam peluncuran bukunya bahwa sebenarnya dia tidak hanya berjuang demi perempuan, sebagaimana layaknya kaum feminis; dia lebih memperjuangkan siapa saja yang terpinggirkan. Ada kalanya, dalam sebuah budaya tertentu kaum yang termarginalisasi itu disebut perempuan, tetapi di tempat lain kaum itu disebut penyandang cacat, atau yang lebih netralnya kini lazim disebut diffable (differently able).
Mari kita buktikan pernyataannya itu dalam Batu Sandung. Dalam cerita pertama, ‘Batu Sandung’, kita bisa melihat bagaimana Irina yang terpaksa memakai kruk berjuang melawan egonya dan jungkir balik membuktikan bahwa dia sebenarnya tak kalah normal ketimbang orang lain. Irina yakin dirinya bukan model gadis yang harus dikasihani dan dibantu-bantu dalam ini-itu. Dia benar-benar sebal ketika ibunya menangisi cacatnya akibat polio dan tentang nasibnya yang belum juga punya pasangan hidup saat usianya sudah pertengahan 20-an. Dia berjuang mati-matian untuk memenangkan hati para karyawan ayahnya (yang selama separuh akhir novelet juga menjadi karyawannya) yang menganggapnya sebagai seorang gadis, cacat, dan bau kencur. Dia menolak tegas ketika ibunya mendesak-desak dia agar mencintai Adis, sobat karib sekaligus sesama karyawan di perusahaan ayah Irina. Di sini, terasa adanya perspektif feminis, namun yang lebih banyak terasa adalah perang melawan marginalisasi orang cacat.
Dalam ‘Garis Ibu’, pembaca akan menyelami gelora batin seorang ibu. Si ibu ingin membahagiakan putra-putranya, namun dia juga ingin mewujudkan mimpinya memiliki anak perempuan—ibu ini punya dua putra dan tidak punya kesempatan melahirkan seorang anak perempuan karena tumor menyerang rahimnya setelah kehamilan keduanya. Maka dia senang luar biasa ketika Murni, putri sahabat dekatnya, akan ‘dititipkan’ di rumahnya untuk persiapan kuliah. Namun hatinya terbelah manakala kedua putranya mencintai Murni dan patah hati karena keduanya tidak dipilih Murni. Dia menginginkan seorang putri—yang mana Murni akan sesuai—tetapi dia tidak suka jika gadis ini membuat putranya tidak lagi rukun. Dan kelak, ketika tiba waktu putra-putranya kawin, dia menginginkan anak menantu dari mereka. Namun akhirnya dia menemui rintangan lagi? Apa itu? Demi menghormati kejutan akhir cerita, saya persilakan pembaca menikmati sendiri kisah tersebut.
Para pembaca mungkin akan mendapati ‘Hari-hari yang Tercecer’ sebagai novelet paling kuat dalam kumpulan ini. Dibeberkan di sini kisah tentang seorang ibu dua anak yang tidak lagi punya rasa kepada suaminya. Kisah ini membuktikan dirinya sebagai contoh sebuah kisah Indonesia yang bermuatan perspektif feminis dengan cara yang halus. Yang ada bukanlah perjuangan perempuan membebaskan diri dari superioritas laki-laki yang merendahkannya sehingga dia harus tinggal di rumah dan menjaga anak-anaknya. Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan yang terlalu dicintai oleh suaminya yang ‘keguru-guruan’. Sosok suaminya terlalu superior, sehingga dia sendiri merasa terbungkam di hadapannya. Tak bisa dia ekspresikan diri dan pikiran dalam rengkuhan suaminya. Si suami, seorang dokter, sangat mencintai perempuan ini, tetapi cintanya bukan model cinta yang membebaskan. Cintanya adalah cinta yang memiliki, menguasai. Sehingga, alih-alih bahagia selamanya dalam cinta, si perempuan pada akhirnya menemui kendala ketika tak terbendung lagi hasratnya untuk mengaktualisasikan diri. Dia sudah bosan menjadi ‘obyek’ cinta suaminya. Dia menjadi obyek bukan karena dia direndahkan, tetapi karena derajatnya terlalu ditinggikan, hingga seolah terpajang di awang-awang, karen cinta yang berlebih.
Dari gambaran sekilas, tampaklah bahwa novelet Mbak Ratna menyajikan beragam perjuangan. Perjuangan mengandaikan adanya kedudukan yang kurang menguntungkan, adanya marginalisasi. Maka, cocok sekali dengan gagasan Mbak Ratna di bagian awal tulisan ini, bukan?
Namun, ada sejumlah hal yang absen dalam Batu Sandung: detil-detil latar tempat. Kita akan merasakan adanya kekurangseimbangan dalam cerita-cerita ini—seperti halnya tulisan-tulisan Mbak Ratna lainnya. Ketiga novelet ini terasa hanya berisi rentetan kejadian yang sambung-sinambung, tanpa memberikan deskripsi-deskripsi pemantik imajinasi pada saat-saat yang diperlukan. Pada sejumlah bagian, akan lebih kuat jika, misalnya, ada deskripsi kamar yang remang, pantai berangin kencang, aroma rerumputan, dsb., yang sebenarnya malah lebih memperkuat emosi cerita dan memudahkan pembaca lebih merasuki dan berempati dengan karakter-karakter dalam cerita.
Pada peluncuran Batu Sandung di Rumah Budaya Mbak Ratna, Tengsoe Tjahjono, seorang penyair dan dosen sejumlah universitas di Surabaya, menyebutkan bahwa karya Mbak Ratna adalah karya yang lebih menitik beratkan pada pengusungan gagasan. Ucapan ini ada benarnya. Kita bisa melihat ketiga novelet ini memfokuskan pada gagasan, dan sedikit sekali memberi perhatian kepada bahasa. Bahasa tak lebih sekadar mobil bak yang mengangkut gagasan Mbak Ratna tentang perjuangan anti-marginalisasi. Karenanya, tidak usah heran jika di tempat-tempat tertentu kita akan temukan kalimat-kalimat yang begitu formal.
Namun, ada satu keunggulan kumpulan novelet ini: Mbak Ratna telah membidik telak pada sejumlah persoalan terkait kaum terpinggir, dan berhasil menyampaikannya dalam bentuk cerita yang mengalir. Dan—maaf jika harus mengulang klise ini!—cerita-cerita Mbak Ratna jauh dari menggurui. Andai Natalie Goldberg, guru menulis kreatif yang lagi naik daun di Amerika, sempat bertemu Mbak Ratna, pasti dia akan mengatakan, ‘Fiksi Mbak Ratna tidak mengatakan, tetapi menunjukkan’. Maka, setelah menunjukkan sepak terjangnya di medan sastra Indonesia dengan merampungkan tak kurang dari 400 cerpen dan 10 novelet yang kebanyakan mengusung tema anti-marginalisasi, anti-peminggiran, anti-penindasan, maka tepat jika kita katakan bahwa Mbak Ratna memang terus berperang dalam perjuangan tanpa pungkasan.
Data buku: Judul : Batu Sandung Penulis : Ratna Indraswari Ibrahim Editor : Retno Suffatni Penerbit : LKiS Tebal : x + 134 halaman Cetakan : I, 2007 ISBN : 979-8451-21-X

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Umberto Eco |
“... pada prinsipnya, semiotika adalah sebuah disiplin yang mempelajari apa saja yang bisa digunakan untuk berbohong,” begitu kata Umberto Eco suatu kali.
Jika saja kita melontarkan kalimat itu kepada dosen atau mahasiswa jurusan filsafat atau sastra yang mempelajari semiotika untuk keperluan akademisnya, pasti kita akan mendapat makian.
Tapi ketika yang mengatakannya Umberto Eco, seorang ahli semiotika dari Universitas Bologna, Italia, yang telah menulis sejumlah buku telaah budaya dan sastra dengan pendekatan semiotika, kita akan dipaksa berpikir dan mengiyakan. Singkatnya, Eco menjelaskan bahwa semiotika adalah ilmu yang berkenaan dengan tanda. Dan tanda adalah sesuatu yang dipakai untuk mewakili sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain inilah yang namanya kebohongan. Ketika seorang lelaki mengirim SMS berisi “sudah makan apa belum?” kepada seorang gadis, di situ ada kebohongan. Sejujurnya, dia tidak ingin bertanya, tapi dia hanya ingin menunjukkan perhatiannya. Di sinilah, penafsiran tanda menjadi penafsiran kebohongan.
Namun, dalam perjalanan karirnya sebagai ahli semiotika—yang berarti juga ahli menafsir kebohongan!—ternyata Eco malah menciptakan kebohongan. Kita bisa lihat kebohongan-kebohongan itu dalam novel terakhir Eco yang berjudul Baudolino.
Eco pertama kali hadir dalam kancah novel ketika dia menulis The Name of the Rose pada tahun 1981. Novel ini berkisah tentang misteri pembunuhan biarawan di sebuah biara di pegunungan Italia pada abad ke-14. Dengan penggabungan antara tema teologi-filsafat dan gaya penceritaan lugas dengan struktur novel detektif, The Name of the Rose mampu menarik banyak pembaca dan menjadi best seller, khususnya untuk edisi bahasa Inggrisnya. Kemudian, orang-orang mencoba mengulangi kesuksesan novel itu dengan memfilmkannya dengan bintang Sean Connery. Sayang, meski mendapatkan penghargaan di Inggris, film tersebut tidak sesukses novelnya. Perdebatan-perdebatan teologi, sejarah dan filsafat yang ada di novel tersebut banyak direduksi saat novel itu diterjemahkan menjadi film.
Selanjutnya, di sela-sela tugas Eco sebagai profesor yang juga menulis buku-buku teori semiotika dan kajian budaya, Eco menelorkan kembali novel-novelnya, yakni Foucault’s Pendulum dan Island of the Day Before. Kedua novel tersebut juga menampilkan kehebatan serupa, namun tetap saja gaungnya tidak seawet novel pertama. Hingga kemudian pada tahun 2000 dia menulis novel keempatnya, Baudolino. Keempat novel Eco ini selalu berlatar masa lampau, yakni abad ke-12 hingga abad ke 17. Memang, selain sebagai ahli semiotika, Eco juga dikenal “hobi” mempelajari apa saja yang berbau abad pertengahan, atau biasanya disebut “medievalis.” Untuk Baudolino, Eco mengambil latar abad ke-12 dengan tema yang sedikit banyak terkait dengan perang salib ke-4.
Baudolino adalah seorang anak desa yang diangkat anak oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarosa. Menurut sejarah, Barbarossa adalah kaisar yang berambisi mempersatukan daratan Eropa. Kecerdikan, kecakapan Baudolino dalam berbahasa—Baudolino bisa menguasai sebuah bahasa hanya dengan sebentar saja mendengarkan orang menggunakan bahasa itu—dan kebohongan-kebohongannya membuat sang kaisar mencintainya. Namun, gilanya, Baudolino mencintai permaisuri sang kaisar. Untuk menghindari hubungan lebih mendalam dengan sang permaisuri, Baudolino meminta disekolahkan sang kaisar ke Provençal (yang kini dikenal sebagai Perancis).
Di Provençal, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh unik yang kelak akan bersama-sama dengannya dalam sebagian besar novel ini. Tersebutlah sang Penyair, pemuda yang mengaku diri sebagai penyair sementara dia sendiri tidak pernah menulis syair. Lalu, ada seorang lagi bernama dengan Abdul, seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang putri yang dia temui di dalam khayalannya. Selanjutnya, mereka bertemu Rabi Solomon, seorang pendeta Yahudi yang terobsesi mencari sepuluh suku Yahudi yang hilang. Kelompok tersebut terbentuk karena adanya satu visi: menemukan kerajaan Prester John.
Maka, dimulailah sebuah petualangan besar untuk mencari kerajaan Prester John tersebut. Namun, karena besarnya dana yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan ke kerajaan Prester John itu, maka Baudolino dan kelompoknya memutar otak. Baudolino membujuk ayah angkatnya Kaisar Frederick Barbarossa untuk melakukan perjalanan ke sana sebuah iming-iming: menemukan dan bekerja sama dengan Prester John berarti mendapatkan dukungan untuk merebut Jerusalem dari Saladin. Itu akan menjadi prestasi terbesar Frederick Barbarossa. Dalam mengupayakan dukungan dari ayahnya ini, Budolino membuat kebohongan-kebohongan baru yakni menulis surat-surat dari Prester John, untuk memberikan kesan bahwa kerajaan Prester John memang ada.
Mereka pun melakukan pencarian itu dengan dukungan penuh dari Barbarossa. Namun, perjalanan tersebut sempat terhenti karena kematian Frederick Barbarosa di sebuah puri milik Ardzrouni, seorang Armenia, ketika beristirahat di tengah perjalanan itu. Baudolino sendiri terpukul oleh kematian tersebut dan pencarian Prester John pun terhenti. Namun, setelah berbagai pertimbangan, perjalan dilanjutkan kembali. Namun, kali ini yang berangkat hanya kelompok Baudolino saja.
Apakah mereka pada akhirnya bisa mencapai kerajaan Prester John? Sebaiknya pembaca sendiri yang menemukan jawabannya.
Yang pasti, Baudolino dan kawan-kawan sekelompoknya mendapatkan hal-hal fantastis. Sampailah dia di hutan Abcasia yang luar biasa gelap hingga api pun tidak tampak nyalanya. Lalu, mereka harus menyeberangi sungai yang dialiri batu, bukan air! Selanjutnya sampailah mereka ke kerajaan yang dihuni makhluk berbagai rupa: makhluk kaki satu, makhluk yang wajahnya ada di perut, dan seorang “raja” yang sama sekali tidak pernah memimpin kerajaannya.
Cerita tersebut dikisahkan Baudolino kepada Niketas Choniates, seorang sejarawan Bizantium, ketika kota Bizantium yang elok dan modern itu sedang diobrak-abrik prajurit Perang Salib yang sedang dalam perjalanan ke Jerusalem. Uniknya, sejak awal Baudolino sudah berkata kepada Niketas bahwa dia adalah seorang pembohong yang terkadang tidak bisa membedakan antara yang “[dia] lihat dengan yang ingin [dia] lihat.” Dalam kesempatan ini, Baudolino bercerita kepada Niketas dengan maksud ingin mengakui semua dusta yang telah dia lakukan. Nah, lalu yang dia ceritakan ini kebohongan atau kenyataan?
Banyak kritik yang mengatakan bahwa ini adalah novel Eco yang paling enteng diantara lainnya. Kita bisa melihat bahwa Baudolino berbeda dengan novel-novel Eco sebelumnya. Jika Island of the Day Before dan The Name of the Rose adalah novel yang menceritakan kejadian yang terjadi hanya dalam beberapa hari dan jam saja, maka Baudolino bertempo cepat. Kehidupan Baudolino diceritakan sejak kecil hingga tua. Dengan tempo yang cepat, berpuluh kejadian, perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya, Baudolino terasa seperti sebuah novel petualangan.
Kehandalan Eco sebagai seorang ahli abad pertengahan dipamerkan kembali dalam novel ini. Sepak terjang Frederick Barbarossa dalam memperluas wilayah kekaisaran Jerman digambarkan dengan jelas. Pergolakan politik di Bizantium juga dibeberkan secara runut dengan penceritaan yang hidup. Eco juga menceritakan peperangan gaya abad pertengahan beserta perlengkapan pendukungnya—seperti pendobrak, menara berisi prajurit pemanah, dan ketapel raksasa—yang mau tidak mau pasti mengingatkan kita kepada adegan perang dalam film Lord of the Ring: The Two Tower dan Kingdom of Heaven—meskipun sebenarnya Baudolino ditulis sebelum kedua film ini diproduksi.
Beberapa hasil kebohongan Baduolino pun sebenarnya memang ada dalam sejarah abad pertengahan. Sebutlah, legenda Cawan Suci Kristus, tersebarnya surat Prester John, pengangkatan Charlemagne sebagai santo, kematian Barbarossa yang tenggelam di sungai. Semua itu memang fakta sejarah, tapi di dalam novel ini semuanya tak lebih dari hasil kebohongan-kebohongan Baudolino.
Di situlah, kita akan terusik kembali oleh Eco yang benar-benar menggunakan kecakapannya menafsir tanda dan kebohongan untuk membuat kebohongan-kebohongan buat kita. Namun, meski dibohongi, kita juga menjadi mengerti tentang sejarah Eropa Abad Pertengahan dan petualangan yang selalu menggoda dan menggelitik. Dengan iming-iming seperti itu, kita pun akan rela dibohongi. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Saratchandra Chattopadhyay |
Tanpa berpanjang-panjang: setiap bangsa memiliki kisah cinta yang dipuja-puja. Di jagad Inggris ada kisah Romeo dan Juliet (1594-5) yang begitu menyayat hati. Di China ada kisah Sampek-Engtay. Dari ranah Minang ada Siti Nurbaya (1922). Dari Timur Tengah ada Layla Majnun. Bersetting Amerika modern, ada Cerita Cinta (1970) yang diangkat dari film dengan judul sama. Kesemuanya memang karya sastra. Tapi tidak jarang pula dari karya-karya sastra itu yang diakuisi oleh tradisi menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Paling dekat, ada kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang begitu mendarah daging hingga menjadi bagian dari tradisi Minang. Maka, jangan anggap berlebihan jika kemudian di Padang ada fly over bersebut Jembatan Siti Nurbaya yang peresmiannya menghadirkan H.I.M. Damsyik, sang Datuk Maringgih versi sinetron. Ada satu sebab yang ikut menumbuhkan rasa memiliki di kalangan masyarakatnya: menancap kuatnya akar tradisi ke dalam cerita-cerita tersebut.
Kisah-kisah cinta itu boleh berasal dan dimuati budaya berbeda-beda, namun ada satu hal yang seragam: semuanya berdarah-darah. Yang ada adalah cinta yang kandas, tapi tidak pupus. Kasih tak sampai yang terus diperjuangkan dan akibatnya hanya tambah membuat sengsara pihak-pihak yang terbelit di dalamnya. Inilah kisah cinta di mana seorang pecinta sampai pada keputusan untuk meletakkan kematian di atas segala-galanya. Dan air mata kita pun menitik, atau bahkan mengucur, dibuatnya.
Demikianlah kisah-kisah yang hampir semua kita hapal setiap kelok alurnya. Tapi, adakah kita pernah mendengar kisah Devdas dari India? Devdas, terbit pertama kali pada tahun 1917, lahir dari tangan Saratchandra Chattopadhyay. Devdas menghadirkan tema kasih tak sampai, dan terbukti berhasil. Mengisahkan lika-liku hubungan antara Devdas dan Paro yang ditaburi luka hati di berbagai sudutnya, kisah ini telah menguras berember-ember air mata. Hal itu dibuktikan dengan fakta bahwa Devdas telah delapan kali difilmkan. India memang gudangnya film penguras air mata. Tak kunjung punah eksplorasi para penulis skenario India menghasilkan kisah-kisah yang membuat Bollywood dianggap sebagai ladang film paling subur di muka bumi. Tapi jika sebuah kisah sampai difilmkan sampai delapan kali—dan salah satunya dibintangi Sahruk Khan—tidaklah salah jika kita membayangkan bahwa Devdas bukanlah kisah yang begitu-begitu saja.
Berlatarkan kehidupan tradisional India, Devdas diawali dengan kisah masa kecil Devdas dan Paro yang diwarnai dengan kenakalan Devdas si anak zamindar, tuan tanah, berkasta brahmana dan keluguan Paro, seorang gadis cantik anak tetangganya yang berasal dari golongan pedagang. Devdas yang kelewat nakal itu dikeluarkan dari sekolah. Dan Paro yang sudah menumbuhkan bibit cinta kepadanya pun emoh jauh darinya, meski awalnya Devdas tak segan-segan memukul Paro. Saking tidak inginnya jauh-jauh dari Devdas, Paro membuat akal bulus sedemikian rupa hingga orang tuanya merestui dia keluar sekolah, sehingga bisa terus bermain dengan Devdas. Maka selama setahun, berdua Devdas dan Paro runtang-rantung, memonumenkan kedekatan. Hingga kemudian Devdas dikirim ke Kalkuta untuk bersekolah. Pun demikian, Paro yang lebih dulu memiliki hati untuk Devdas tak pernah sedetik pun melupakan Devdas. Maka, mulailah terpasang mata rantai pertama dalam rantai panjang tangis nelangsa.
Sejak ini kepiluan-kepiluan mulai datang silih berganti layaknya sebuah kisah cinta yang tak ingin sekejap pun membuat pembacanya berpaling. Di satu titik Paro merindu namun Devdas bersikap bagai tak tahu-menahu. Di satu titik ada saat-saat ketika Devdas dan Paro membulatkan tekad untuk memperjuangkan cinta, namun kemudian tekad itu ambyar. Di sudut lain ada perjodohan Paro yang meremukkan harapannya, namun Devdas memandangnya dengan sikap pasrah-serba-tak-tahu-harus-berkata-apa a la Rangga AADC.
Di antara jajaran kisah cinta yang kita kenal, Devdas memiliki arti tersendiri karena mengakar kuat pada tradisi sosialnya. Ada elemen unik India yang memainkan peran penting: pembedaan kasta. Persatuan antara Devdas dan Paro tidak dimungkinkan karena perbedaan kasta di antara mereka. Ditambah lagi kebertenggaan mereka berdua menjadikan pernikahan memalukan. Hal semacam ini tidak ada dalam kamus masyarakat Indonesia, bukan? Dan ketika pada akhirnya Paro menikahi seorang duda tua tuan tanah, Paro menunjukkan sikap hormat luar biasa dan mulai mencintai keluarga suaminya yang sudah bau tanah itu. Maka Devdas pun semakin hancur hatinya. Seperti halnya kawin paksa dalam Siti Nurbaya yang memicu tragedi cinta, atau permusuhan antar keluarga bangsawan dalam Romeo dan Juliet, atau perbedaan tingkat ekonomi dan profesi dalam Cerita Cinta, perbedaan kasta benar-benar diberdayakan untuk menciptakan tragedi dalam Devdas. Dengan muatan lokal seperti ini, kisah ini menjadi penting artinya dalam jajaran kisah-kisah cinta dunia.
Kisah-kisah cinta yang berdampak besar kepada banyak orang seperti itu mau tak mau mengingatkan kita kepada salah satu kritik paling sepuh dalam jagad sastra, yakni kritik tentang tragedi yang dilontarkan oleh Aristotles. Dia mengemukakan bahwa tragedi, yang mengisahkan kejatuhan seorang berkedudukan tinggi, bisa membuat seorang penikmat mengidentifikasi diri dengan si tokoh utama, sehingga ketika si tokoh merasakan sakit tak terperi, atau bahkan kematian, sang penikmat akan juga merasakan ledakan perasaan haru, katharsis, yang membersihkan jiwa sang penikmat. Tanpa bermaksud menyamakan Devdas dengan drama Raja Oedipus karya Sophocles, yang dipandang Aristotle sebagai contoh ideal tragedi yang berhasil, saya rasa tidak ada salahnya menggunakan cuilan konsep tragedi itu untuk melihat Devdas. Apakah Devdas berhasil sebagai sebuah kisah tragis? Hal-hal seperti itu bisa diserahkan kepada pembaca.
Maka, silakan Anda coba menguji seberapa besar daya katharsis yang dimiliki Devdas yang hadir dalam terjemahan Indonesia yang berani memasukkan kata-kata berbahasa non Indonesia baku yang malah membuat kita lebih merasakan gairah cerita itu sendiri. Di satu pihak, pembaca Indonesia akan merasa ada jarak yang terkurangi antara dia dan novel itu sendiri. Saat membaca novel terjemahan, seringkali kita mendapatkan karya-karya yang terasa dingin karena penerjemah menerjemahkannya dengan terlalu halus. Sehingga, kita pun seakan-akan bisa merasakan bahwa suatu karya adalah karya terjemahan atau tidak. Dampaknya, kita akan merasakan adanya jarak dengan novel itu. Bukan jarak estetis, seperti yang banyak dibilang orang. Kita seakan harus berhadapan dulu dengan bahasa sebelum pada akhirnya menyelami cerita. Dalam Devdas, untungnya, penerjemah dan penyunting telah banyak berjasa mengurangi penghalang bahasa tersebut dengan mengindonesiakan dengan agak tidak biasa. Banyak kata-kata berbahasa Jawa yang dipakai yang malah membuat pembaca—setidaknya saya sendiri—merasa tidak ada lagi halangan kebahasaan. Coba saja lihat kata "goal-gail", "semaput", "gendeng", "gemblung", dan sebagainya. Kita tentu akan melihat bahasa dalam novel itu sebagai bahasa yang natural, bukan bahasa Indonesia yang terlalu baik dan benar, dan ujung-ujungnya menjemukan. Untuk urusan terjemahan, pantaslah kita menghargai Devdas versi Indonesia yang diterbitkan Kayla Pustaka ini.
Masuki kisah yang diceritakan dengan sangat ringan dari sudut pandang seorang juru cerita ini. Dan rasakan, apakah Anda bisa merasakan takut dan iba dan temukan juga bagian-bagian—kebanyakan dialog—yang membikin tengkuk kita meremang dan ngerti dengan bagaimana seseorang menyatakan cintanya. Dengan kentalnya nuansa tradisi melingkupi dan membentuk arah ceritanya, mau tidak mau kita akan dipaksa mempertanyakan, setelah Siti Nurbaya, kisah cinta mana lagi karya penulis negeri yang bisa membangkitkan takut dan iba sambil sekaligus juga menghadirkan logika cerita yang matang dan kuat dengan muatan lokal. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Michael Hoeye |
Penuh warna, itulah kesan yang selalu melingkupi kita saat membaca buku ketiga dari serial fabel petualangan dahsyat Hermux Tantamoq yang berjudul Maut di Teater Varmint. Tikus-tikus dan binatang-binatang pengerat lainnya yang hidup berbahagia di Pinchester kini semakin terbalut keceriaan. Di buku ini, Michael Hoeye sang pengarang mengetengahkan kehidupan di Teater Aneka Varmint, satu-satunya gedung teater di Pinchester, sebagai latar dominan.
Hermux Tantamoq si tikus tukang jam semakin masyhur sebagai pahlawan setelah dia baru saja menyelesaikan kasus perburuan kota kuno (pada novel kedua Michael Hoeye yang berjudul Mencari Jejak Kota Kuno) dan memecahkan misteri di sebuah gunung (pada novel pertama Pak Hoeye yang berjudul Misteri di Gunung Teulabonari). Pada buku ini, kemasyhuran Hermux membuat Fluster Varmint, pemilik Teater Aneka Varmint, untuk melindungi dirinya yang terancam oleh sebuah surat kaleng.
Karena wibawa Varmint yang begitu hebat dan begitu pemaksa, Hermux benar-benar tidak bisa menghindar dari kontrak yang dibuat Varmint secara sepihak. Bagaimanapun, sebenarnya kontrak itu tidak merugikan Hermux. Hanya saja, dia jadi tidak bisa membocorkan misinya tersebut kepada Linka Perflinger, seorang penerbang petualang kecintaan Hermux. Hermux hanya bisa mendiskusikan masalahnya itu dengan peliharaannya Terfle, seekor kepik yang tidak bisa berbicara bahasa tikus.
Dalam misi super rahasia tersebut, Hermux diminta untuk memecahkan misteri pengirim surat ancaman yang ingin merebut teater Varmint. Pekerjaan ini mengharuskan Hermux menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan teater, tapi tetap harus menjaga kerahasiaan misinya. Akhirnya, Varmint menyamarkan Hermux dengan cara membebaninya tugas sebagai penata latar.
Melakukan dua pekerjaan di gedung teater inilah yang membuat novel semakin berwarna warni. Ketegangan pemecahan misteri dan warna-warni dunia hiburan. Ada seorang ventriloquist (ahli suara perut) gadungan dengan beonya yang indah dan cerewet. Ada tiga bersaudara tukang kayu yang selalu bekerja dan berbicara sambil menyanyi, tak kalah dengan kelompok paduan suara teater. Ada tukang rancang busana yang suka memasang kancing dengan bantuan si kepik Terfle.
Sebagai seorang tukang jam, Hermux sama sekali buta soal penataan latar. Inilah yang kemudian memberi cekaman tersendiri bagi para |
|